Mozaik Peradaban Islam

Konya, Turki (3): Cinta Sang Maulana

in Travel

“Di Konya, Rumi larut ke dalam diri Syams Tabrizi, seorang sufi Mistik dari Damaskus. Sepeninggal Syams, Rumi sangat menderita karena kehilangan ‘cinta’-Nya. Bagaimana menjelaskan hal ini dalam perspektif sufistik?”

–O–

Photo ilustrasi: hulyacayorumlar

Jalaluddin Rumi ketika dilahirkan, oleh orang tuanya diberi nama Muhammad, walaupun kemudian dia akhirnya memiliki nama panggilan Jalaluddin. Adapun “Rumi”, sebagaimana dia lebih dikenal dengan sebutan itu di dunia Barat, mengacu kepada nama tempat di mana dia tinggal, yakni di tanah Rum, atau Anatolia (Asia Kecil). Tidak diketahui kapan pastinya, namun nama “Rumi” yang disematkan kepada Sang Maulana (gelar Rumi) baru ada belakangan.[1]

Pada artikel seri pertama, telah dijelaskan bahwa Rumi sempat menimba ilmu di Suriah sebelum akhirnya kembali ke Konya, Turki. Apa yang terjadi di Suriah, adalah periode terpenting dalam hidupnya. Di Damaskus, Suriah, Rumi bertemu dengan Syams Tabrizi, seorang sufi mistik yang konon sudah mencapai tingkat spiritual tertinggi, namun dia masih kekurangan sahabat yang dapat mengimbangi ilmu kebijaksanaannya, dan dia dapat menemukan itu dalam diri Rumi.[2] Sementara itu, bagi Rumi sendiri, Syams Tabrizi adalah gambaran sosok kesempurnaan seorang manusia, seorang insan kamil.[3]

Setelah Rumi kembali ke Konya, Syams Tabrizi kembali menemuinya pada tahun 1244. Dua wali Allah ini, yang sedang dimabuk cinta terhadap Tuhan, terlibat dalam diskusi intens tentang Allah, dan bersama-sama mereka mencapai kebijaksanaan ilahiah. Sebagian besar waktu dua belahan jiwa spiritual ini, dihabiskan dalam pembicaraan tanpa akhir, membacakan puisi, dan melaksanakan ritual sema (tarian berputar – lihat penjelasannya pada artikel seri ke-2).[4]

Pada saat itu Rumi di Konya sudah menjadi seorang guru sufi, dia memiliki banyak murid dan pengikut. Namun ketika dia bertemu Syams Tabrizi, seorang wali Allah yang sangat-sangat ditunggunya, oleh murid-muridnya Rumi dianggap telah mengabaikan mereka, meninggalkan mereka yang sedang belajar. Bagi murid-muridnya, Syams Tabrizi dianggap telah menanamkan pengaruh yang terlalu kuat bagi Rumi, dan itu buruk bagi mereka. Terdorong oleh rasa cemburu dan amarah, sekelompok murid Rumi menginginkan Syams Tabrizi untuk pergi dari Konya dan kembali ke Damaskus.[5]

Desas-desus ini akhirnya sampai kepada Syams Tabrizi, dia kemudian meninggalkan Rumi – yang mana sebenarnya itu dia lakukan demi melatih muridnya ini. Ditinggalkan Syams, Rumi seperti kehilangan pegangan. Hampir-hampir tekanan kesepian tak bisa lagi ditanggungnya. Rumi hanya bisa mengurung diri di kamarnya selama berbulan-bulan.[6] Rumi mengasingkan diri dari semua teman dan muridnya, pada fase ini dia menulis banyak syair yang sekarang dapat ditemui dalam karya Rumi yang berjudul Diwan Syams Tabrizi (Divan-i Kebir).[7]

“Aku tidak tahu diriku dari malam hingga fajar.

Akalku menghilang dari kepalaku.

Untuk sesaat, di manakah awal?

Di manakah akhir?

 

Wahai Syams Tabrizi,

Wahai orang yang Hati dan Jiwanya telah menjadi pengabdi (Tuhan)!

Meskipun Engkau menuliskan namaku di sungai,

Mungkin Engkau telah melupakanku.

Meski demikian, kembalilah, kembali.”[8]

Salah satu halaman dari Diwan Syams Tabrizi (Divan-i Kebir).

Dari syair di atas, kita dapat melihat betapa dalamnya penderitaan Rumi ketika ditinggalkan oleh Syams Tabrizi. Para penghasut – murid-murid Rumi— dari situasi yang tidak menyenangkan ini mengungkapkan penyesalannya. Bahauddin Muhammad Walad, putra tertua Rumi, atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Walad, kemudian memimpin sebuah kelompok untuk pergi ke Damaskus, dalam sebuah misi untuk membawa kembali Syams Tabrizi ke Konya.[9]

Mohammad-Ali Movahhed, penulis buku Maqâlât, menjelaskan, sebelum Syams pergi, dia melihat bahwa Rumi sudah terlalu larut ke dalam dirinya, dan dia merasa bahwa Rumi perlu untuk dibawa kembali ke dunia nyata. Pada tahap ini Rumi hanya seperti bulan yang menerima cahaya dari matahari (Syams) dan memantulkannya kembali, sebagaimana terlihat dalam syair-syair Rumi pada Diwan Syams Tabrizi. Salah satu caranya adalah dengan meninggalkan Rumi agar dia dapat belajar.[10]

Setelah Syams dibawa kembali, kejadian sebelumnya kembali terulang, namun untuk kali ini, Syams Tabrizi benar-benar menghilang untuk selamanya. Ada banyak versi tentang hal ini, beberapa mengatakan bahwa Syams pergi meninggalkan Konya, lainnya berasumsi bahwa makamnya ada di Konya, dan ada juga yang mengatakan bahwa dia dibunuh. Mana yang benar, sampai saat ini semuanya masih menjadi misteri.[11]

Sepeninggal Syams, Rumi memasuki babak baru dalam kehidupannya. Bagaimanapun, Rumi membutuhkan seorang sahabat yang dapat mengimbanginya. Awalnya dia memilih Salahuddin Zarkub, seorang pandai emas murid ayah Rumi, karena dia dianggap telah mencapai tingkatan spiritual yang tinggi, meskipun tidak setinggi Syams Tabrizi.[12] Namun Salahuddin meninggal.[13] Akhirnya Rumi memilih Husamuddin Khalabi, murid kesayangannya sekaligus penulis yang menuangkan syair-syair Rumi ke dalam sebuah karya yang berjudul Mastnawi-ye Ma’nawi (Mastnawi pengungkap rahasia segala sesuatu).[14]

Dalam Mastnawi-ye Ma’nawi, menurut Movahhed, Rumi telah menjadi sosok yang sempurna (kemanusiaannya), tidak lagi bergantung terhadap Syams Tabrizi. Syair-syair di dalamnya lebih menceritakan tentang “persahabatan” Rumi dengan para nabi dan wali. Pada tahap ini, menurut Movahhed, Rumi bahkan telah melampaui tingkat spiritualitas Syams Tabrizi.[15]

 

Mengungkap Makna

Bagi kebanyakan orang yang membaca kisah hidup Rumi, barangkali dia akan menangkap suatu keanehan, bagaimana seseorang dapat begitu merana karena ditinggalkan oleh seseorang? Pasalnya ini bukanlah kisah romantis antara laki-laki dan perempuan. Lebih dari itu. Namun bagaimana menjelaskannya?

Haidar Bagir menjelaskannya dengan apik dalam bukunya yang berjudul Mereguk Cinta Rumi. Secara singkat dapat dijelaskan seperti ini, Rumi adalah seorang pencari cinta dan dia menderita karenanya. Rumi tahu bahwa sumber cinta tertinggi adalah Tuhan. Cinta Tuhan hanya bisa didapatkan melalui pertolongan-Nya dan perantaraan (syafaat) Nabi-Nya. Sementara Nabi sudah tiada, maka pantulan sifat-sifat Tuhan akan terpancar melalui para wali-Nya, sosok insan kamil,  dan Rumi melihat hal itu ada di dalam diri Syams Tabrizi. Oleh karena itulah dia begitu larut terhadap sosok Syams, demi untuk mendapatkan dan mereguk cinta dari Tuhan.[16]

Pada tahap selanjutnya Rumi menyadari bahwa para wali-Nya dapat datang dengan silih berganti. Sehingga setelah ditinggal oleh Syams Tabrizi untuk kedua kalinya, alam akal Rumi berevolusi, dia menyadari bahwa tidak ada yang dapat memantulkan sifat-sifat keilahian, dan tak ada yang dapat mendatangkan cinta Tuhan, kecuali dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, yang tidak terbantahkan lagi merupakan sosok sejati kekasih Tuhan.[17] Sebagaimana disampaikan dalam firman Allah:

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad SAW), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Ali ‘Imran Ayat 31)

Pemujaan dan cinta Rumi terhadap Nabi Muhammad SAW terlihat jelas dalam syairnya:

“Aku adalah pelayan al-Quran selama hayat dikandung badan. Aku adalah debu di jalan Muhammad, al-Musthofa (yang terpilih).”[18]

Kini, jejak-jejak cinta Rumi tersebar luas ke seluruh dunia melalui karya-karyanya. Tapi bagi siapapun yang ingin lebih dekat lagi dengan Sang Maulana, untuk menapaki jejak langkah napak tilasnya, seperti slogan yang sering diucapkan oleh penduduk kota Konya hari ini: “datanglah!”[19] (PH)

Selesai.

Sebelumnya:

Konya, Turki (2): Pasang Surut Maulawiyyah

Catatan Kaki:

[1] “Who is Mevlana?”, dari laman http://mevlana.net/mevlana.html, diakses 8 Oktober 2018.

[2] Ibid.

[3] Haidar Bagir, Mereguk Cinta Rumi (Mizan, 2016), hlm xi.

[4] Who is Mevlana?”, Ibid.

[5] Martin Gray, “Shrine of Rumi, Konya”, dari laman https://sacredsites.com/middle_east/turkey/shrine_of_rumi_konya.html, diakses 8 Oktober 2018.

[6] Haidar Bagir, Ibid., hlm xii.

[7] Who is Mevlana?”, Ibid.

[8] Jalaluddin Rumi, Dīvān-e Šams-e Tabrīzī, syair 1562.

[9] Who is Mevlana?”, Ibid.

[10] Franklin Lewis, Rumi, Past and Present, East and West: The Life, Teachings and Poetry of Jalâl al-Din Rumi, (Oneworld Publications: England, 2000), hlm 92.

[11] Ibid.

[12] Haidar Bagir, Loc.Cit.

[13] Who is Mevlana?”, Ibid.

[14] Haidar Bagir, Loc.Cit.

[15] Franklin Lewis, Loc.Cit.

[16] Haidar Bagir, Ibid., hlm ix-xi.

[17] Ibid., hlm xvii.

[18] Ibid., hlm xvii-xviii.

[19] Kevin Gould, “Konya, in a whirl of its own”, dari laman https://www.theguardian.com/travel/2010/apr/10/konya-turkey-jelaluddin-rumi-dervish, diakses 4 Oktober 2018.