Mozaik Peradaban Islam

Memaknai Revolusi Imam Husein (10): Memaknai Asyura

in Studi Islam

Last updated on October 29th, 2018 08:51 am

“Terhadap masyarakat yang mencintai Husein namun membiarkannya pergi sendirian, penyair Arab, Farazdaq, mengungkapkan, Hati mereka bersamamu, tetapi pedang mereka terhunus untuk membunuhmu’.”

–O–

Ilustrasi Sayidina Husein ketika di Karbala. Photo: mustafa20/deviant art

Asyura adalah hari perlawanan suci Sayidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, terhadap kekuasaan korup yang tumbuh di dalam tubuh umat. Drama sakral itu membawa begitu banyak renungan dan pelajaran. Ribuan buku dan ratusan ribu makalah telah dibuat untuk merefleksikannya. Bagian dari tulisan ini hanya celah kecil untuk mengintip cakrawala yang luas itu. Oleh karena itu, tidaklah mungkin memberikan gambaran utuh dan menyeluruh ihwal peristiwa agung pada Muharram 61 H itu melalui celah kecil ini. Berjilid-jilid bukupun sepertinya tak akan pernah bisa adil memaparkan semua sisi yang terkandung di dalamnya, apalagi tulisan sesederhana ini.

Secara garis besar, tulisan ini mencoba memaparkan beberapa sisi Asyura, dengan tujuan memerikan rahasia kesucian dan keagungannya dalam sejarah Islam. Di antara sekian banyak sisi yang telah dibahas oleh para peneliti, demi keringkasan, penulis akan mengemukakan tiga aspek ini: (1) aspek kesucian tujuan, (2) aspek pemilihan waktu, dan (3) aspek pemilihan tempat.

Sudah jamak kita ketahui bahwa tujuan utama pergerakan Sayidina Husein ialah melaksanakan amr ma’ruf dan nahy munkar yang juga menjadi misi para nabi, terutama misi Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana kakeknya, Sayidina Husein berusaha menarik masyarakat yang jatuh dalam ngarai apatisme terhadap kezaliman dan jurang ketertipuan.

Masyarakat yang menyerah pada kezaliman, sadar atau tidak, sebenarnya sedang mengabsahkannya sebagai takdir yang tidak bisa diubah. Mereka melihat kezaliman secara pasif dan permisif, sehingga siapa saja yang bangkit melawan tidak akan mendapat pendukung, terasing, dan dianggap sebagai ekstremis yang bodoh. Perlahan-lahan masyarakat ini beradaptasi dengan kezaliman dan membentuk simbiosis parasitisme dengan para penindas. Perintah agama untuk menegakkan keadilan pun kemudian dipelintir dan dipilin-pilin menjadi dalih legitimasi kekuasaan dan vonis bersalah untuk para penuntut keadilan.

Dalam perjalanannya menuju Karbala, Sayidina Husein menyatakan tujuan itu sebagai berikut, “Bukankah kalian melihat kebenaran tidak ditegakkan dan kebatilan tidak dicegah?! Patutlah bagi seorang Mukmin yang melihat keadaan demikian untuk berharap segera bertemu dengan Allah (meraih kesyahidan). Sesungguhnya aku tidak melihat kematian kecuali sebagai kebahagiaan dan kehidupan bersama orang-orang zalim kecuali sebagai kenistaan.”[1] Dalam redaksi lain versi Muhibbuddin Ath-Thabari dalam kitabnya yang terkenal Dzakhair Al-‘Uqba, Imam Husein menyebut “penyesalan” sebagai ganti dari “kenistaan”.[2]

Masyarakat yang pasrah terhadap kezaliman (munzhalim) belum tentu sadar sepenuhnya akan berbagai dampak mengerikan pembiaran itu, dan keharusan untuk melawannya sebelum kezaliman itu berubah menjadi norma dan sistem yang stabil. Namun, mereka merasa tak berdaya. Semua kehendak dan alasan untuk melawanbya karam dalam kepasifan dan kepermisifan mereka. Penyair Arab, Farazdaq, dengan cerdas meringkas sikap munzhalim itu dalam pertemuannya dengan Sayidina Husein yang sedang menuju Kufah. Farazdaq mengungkapkan, “Hati mereka bersamamu, tetapi pedang mereka terhunus untuk membunuhmu.” Syair ini secara gamblang melukiskan bagaimana masyarakat yang telah pasrah terhadap kezaliman bisa terjebak memusuhi dan membunuh pahlawan yang hendak bangkit melawan kezaliman.

Untuk membalikkan keadaan, seorang pahlawan harus siap melakukan pengorbanan paling agung, suci, dan dramatis. Bila pahlawan itu terkesan sedikit saja setengah-setengah atau menyimpan motif-motif pribadi dan partisan, maka tentu masyarakat tidak bakal tersentuh dan tersadarkan. Keadaan masyarakat seperti itu mirip dengan pasien yang sekujur tubuhnya telah terjangkiti virus mematikan. Virus ini telah beradaptasi dengan sistem tubuhnya, sehingga tidaklah mungkin mengobati pasien ini, kecuali dengan obat generasi baru dan dalam dosis paling tinggi. Tidak menutup kemungkinan obat itu juga harus dimasukkan melalui suntikan jarum atau kejutan listrik.

Gerakan Asyura telah berhasil mencerabut akar-akar virus itu dari tubuh umat. Virus kepasrahan itu pun terkejut dan melompat keluar dari sangkarnya. Ia berhasil menyadarkan dan menggugah – setidaknya – sebagian umat dari sikap menerima kezaliman dan bergerak melawan oligarki dan hegemoni Yazid yang mencoba membangun dinasti pertama dalam Islam. Ditinjau dari sudut ini, Sayidina Husein telah melakukan sesuatu yang paling agung dalam Islam. Kesyahidannya menjadi simbol perlawanan Islam terhadap kezaliman, sekalipun kezaliman itu mencoba berselubung di balik simbol-simbol Islam.

Gerakan ini menandai babak baru yang sangat penting dalam sejarah Islam: babak pertanggungjawaban atas berkembangnya skenario membangun oligarki, monarki, aristokrasi, dinasti, imperium, atau apapun namanya dengan menggunakan nama dan simbol Islam. Inilah perlawanan keluarga suci Nabi atas munculnya upaya sistematis untuk menjadikan Islam sebagai alat kekuasaan. Dan karena itu, ia dapat disebut, seperti akan kita bahas kemudian, “Hijrah Kedua” dalam sejarah Islam. Suatu hijrah untuk melawan dan mematahkan kezaliman yang berkedok Islam, sebagai kelanjutan hijrah pertama Nabi dari Makkah ke Madinah untuk melawan dan mematahkan kezaliman kaum kafir Quraisy.

Oleh karena itu, tak syak lagi Asyura menjadi salah satu tonggak dalam sejarah Islam. Ada begitu banyak aspek yang dapat kita amati dalam peristiwa ini, dan tiap sisinya mengandung banyak makna yang sangat penting. Namun, tujuan terpenting Asyura adalah tumbuhnya kembali semangat menegakkan keadilan dalam tubuh umat yang saat itu sedang asyik mengejar kesenangan, menumpuk kekuasaan duniawi, dan melaksanakan proyek-proyek pembangunan wilayah-wilayah baru Islam yang menawarkan begitu banyak keuntungan ekonomi dan politik. (MK)

Bersambung ke:

Memaknai Revolusi Imam Husein (11): Rahasia Kesucian Gerak (1)

Sebelumnya:

Memaknai Revolusi Imam Husein (9): Asyura

Catatan Kaki:

[1] Luth bin Yahya bin Said bin Mikhnaf Al-Azdi, Maqtal Al-Husien, diakses dari http://www.ar.islamic-sources.com/download/C121-maqtal%20emam%20hosin.pdf, pada Oktober 2018.

[2] Muhibbudin Ath-Thabari, Op.Cit., hal. 255. diakses dari https://archive.org/details/ThakhayirUkba/page/n0 pada 10 Oktober 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*