Mozaik Peradaban Islam

Memaknai Revolusi Imam Husein (11): Rahasia Kesucian Gerak (1)

in Studi Islam

Sayidina Husein menolak cara-cara yang cenderung mengaburkan perbedaan antara pihak yang benar dan pihak yang salah sejak awal. Beliau ingin membongkar manipulasi dan distorsi Kekhalifahan Islam itu sampai akar-akarnya.

–O–

Kaligrafi Sayidina Husein bin Ali. Sumber: Shahbazrazvi/Deviant Art

Saat kita mengatakan bahwa gerakan Sayidina Husein itu bersifat suci, maka maksudnya, ia tidak berangkat dari kepentingan pribadi dan kelompok atau partai untuk menumpuk uang, melanggengkan kekuasaan atau hasrat-hasrat rendah sejenis. Sebaliknya, ia adalah gerakan yang berangkat dari logika, hati nurani, pertanggungjawaban hamba kepada Allah, kecintaan pada keadilan, kemanusiaan, dan motif-motif luhur lainnya. Dalam karyanya yang berjudul Hamase-e Husayni, Prof. Murtadha Muthahhari merangkum tiga ciri kesucian gerak ini. Penulis sendiri akan menambahkan satu ciri lain yang mencerminkan kesucian gerak Asyura.

Pertama, ciri-khas pertama kesucian gerakan Sayidina Husein terletak pada sasaran dan tujuan yang tidak personal atau partisan. Sebaliknya, tujuan gerakan itu adalah untuk menyelamatkan seluruh umat Islam dari sikap pasrah dan apatis terhadap kezaliman. Dalam hubungan dengan diri, keluarga, dan para sahabatnya, Sayidina Husein justru melakukan pengorbanan yang sangat besar. Beliau tidak memobilisasi massa dengan intimidasi atau iming-iming, tidak merencanakan kudeta dengan menjanjikan konsesi, tidak menggunakan taktik makar, dan tidak menyusup ke dalam jaringan dan struktur kekuasaan Dinasti Umayyah dan menggulingkannya dari dalam. Sayidina Husein, misalnya, tidak pernah berpura-pura membaiat demi melancarkan aksi penggembosan dari dalam.

Sayidina Husein tidak melakukan semua cara itu untuk menjaga kesucian dan kemurnian gerakannya. Beliau menolak cara-cara yang cenderung mengaburkan perbedaan antara pihak yang benar dan pihak yang salah sejak awal. Makar, infiltrasi, sabotase, negosiasi, politik dagang sapi, dan sejenisnya dapat menggotori kesucian misi yang beliau emban. Cara-cara seperti itu mungkin dapat dipakai oleh musuh-musuhnya untuk mencoreng misi dan tujuan Asyura, atau setidaknya bisa mengacaukan pemahaman umat akan misi hakiki yang diembannya.

Strategi Sayidina Husein adalah strategi melalukan penyempurnaan hujjah (bukti) kebenaran yang radikal. Beliau ingin membongkar manipulasi dan distorsi “Kekhalifahan Islam” itu sampai akar-akarnya. Dia ingin menunjukkan kepada semua kalangan masyarakat bahwa dia tidak pernah bersentuhan dengan kezaliman atau memakai cara-cara yang umumnya dipakai orang-orang zalim.

Bila Sayidina Husein memiliki kepentingan-kepentingan pribadi di balik gerakannya, tentu dia tidak akan memboyong seluruh keluarga dekat dan sahabat yang paling dia cintai dan percayai. Charles Dicken, novelis Inggris yang kesohor, pernah menyatakan, “Jika Husein berperang untuk memuaskan hasrat-hasrat duniawinya…, maka saya tidak bisa mengerti mengapa saudara perempuannya, istrinya, dan anak-anaknya harus ikut bersamanya. Jadi, masuk akal kalau dia betul-betul tulus berkorban demi Islam.”[1] Di hadapan akal dan hati manusia yang jernih, kesucian gerakan Sayidina Husein itu tampak begitu nyata dan jelas. Dan, kesucian ini memang senantiasa dia pelihara demi tujuan agama yang dibawanya.

Untuk memelihara kesucian ini pula, Sayidina Husein memulai gerakannya dengan keluar dari Madinah menuju Mekkah. Dalam kesempatan berkumpulnya Jemaah haji di Mina dan ‘Arafah, beliau menerangkan tujuan-tujuan universal Islam secara singkat. Beliau juga melantunkan Doa ‘Arafah yang kemudian menjadi salah satu teks paling unggul dalam literatur mistis Islam. Lantas, beliau membeberkan tujukan gerakannya sebagai berikut, “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahatahu bahwa gerakan, kebangkitan, protes, perlawanan, dan peperanganku ini bukanlah untuk memperebutkan kekuasaan seseorang, bukan untuk meraup harta dan perolehan duniawi, bukan pula atas dasar kerakusan, melainkan untuk mengembalikan ajaran-ajaran agama-Mu dan mewujudkan perbaikan di bumi-Mu, agar hamba-Mu yang tertindas merasa aman dan hukum-Mu yang terabaikan kembali ditegakkan.”

Kedua, visi dan pandangan jauh yang dibawanya. Saat semua orang gagal mengerti dan melihat, seorang pemimpin yang berpandangan jauh dapat mengerti dan melihat dengan jelas serta bening berbagai penyakit masyarakatnya. Lalu, dia bangkit dan bergerak untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut. Bisa jadi, jauh setelah gerakannya, barulah sebagain orang sadar dan memahami alasan pemimpin visioner itu bangkit dan melawan. Dengan berlalunya waktu, semakin banyak orang yang sadar dan mengerti tujuan-tujuan sakral di balik gerakannya.

Dengan kata lain, sebuah gerakan suci tidak hanya memiliki tujuan-tujuan jangka pendek, tapi memiliki tujuan-tujuan jangka panjang, yang jauh melampaui sekat-sekat ruang dan waktu yang serba sementara. Gerakan itu harus melampaui kalkulasi sosial politik atau ekonomi yang sesaat. Ia harus merupakan gerakan – meminjam istilah Henry Corbin – yang bersifat transhistoris, gerakan yang senantiasa relevan dengan keadaan manusia di semua tempat dan zaman.

Gerakan Sayidina Husein adalah jenis gerakan seperti ini. Sekarang kita tahu dengan pasti karakter dan kepribadian Yazid dan oligarki Bani Umayyah beserta segenap akibat buruk kekuasaan mereka. Kita juga tahu segala manipulasi dan distorsi yang dilakukannya melalui desain dan skema politik yang digulirkan jauh sebelum kekuasaannya.

Akan tetapi, hampir mayoritas kaum Muslim pada zaman itu tidak mengetahui fakta-fakta ini. Mereka tidak mengendus skenario besar yang telah lama dicanangkan oleh suatu elit dalam umat untuk mengukuhkan imperium tertentu, terutama karena tiadanya media massa seperti yang ada hari ini. Orang-orang zaman itu berkomunikasi lewat media yang sangat terbatas, dengan tingkat penyebaran yang sangat rendah.

Dari 20% yang tahu skenario itu, sebagian besar tidak berani melawan. Mereka mengira bahwa semua perlawanan akan berakhir sia-sia, dan lebih memilih berkompromi dengan realitas despotik tersebut. Sementara sebagian kecil lainnya sama sekali tidak tahu, seperti dalam kasus penduduk Madinah. Penduduk Madinah tidak memahami situasi yang terjadi. Mereka tidak mengetahui dengan persis karakter Yazid dan dampak-dampak kekuasaannya bagi keseluruhan umat.

Baru setelah pembantaian keluarga Sayidina Husein di Karbala, penduduk Madinah terkesiap dan bertanya-tanya. Mengapa Sayidina Husein beserta keluarga dan sahabatnya harus dibantai dengan begitu sadis?! Mengapa Yazid dan kaki tangannya tega melakukan pembantaian sekeji itu? Alasan dan tujuan perlawanan Sayidina Husein pun menjadi bahan perbincangan dan perhatian. Perlahan-lahan tapi pasti, peristiwa pembantaian cucu Nabi itu menimbulkan dampak yang dahsyat.

Puncaknya, hegemoni Yazid yang tampak sedemikian kokoh di tengah-tengah apatisme masyarakat yang tertidur lelap itupun ikut terguncang. Yazid tidak secerdik ayahnya, Muawiyah. Dia lebih suka mengandalkan insting perangkat keras. Tidak terlintas dalam pikirannya bahwa peristiwa Karbala akan memupuskan semua cita-cita leluhurnya untuk mengangkangi simbol-simbol Islam demi membangun imperium dan dinasti Bani Umayyah.

Oleh karena itu, beberapa waktu setelah peristiwa Karbala, penduduk Madinah bersepakat mengirimkan delegasi ke Suriah yang terdiri atas sejumlah tokoh terpandang dan dipimpin oleh seorang bernama ‘Abdullah bin Hanzhalah, yang merupakan putra dari Hanzhalah yang bergelar “ghasil al-mala’ikah” atau “orang yang dimandikan oleh malaikat”.[2] Setelah tinggal beberapa hari di Suriah, delegasi penduduk Madinah ini terhenyak memandang kenyataan yang ada.

Saat kembali ke Madinah dan ditanya apa yang mereka saksikan, mereka sampai berkata, “Apa yang dapat kami ungkapkan kapada kalian ialah saat kami berada di Damaskus, kami selalu takut jangan-jangan akan terjadi hujan batu (sebagai bentuk kutukan Allah atas kita semua).” Lantas, mereka berkata bahwa mereka telah melihat seorang khalifah yang meminum khamr di depan umum, berjudi, suka bermain-main dengan anjing dan monyet, serta melakukan incest (hubungan seksual) dengan salah seorang anggota keluarganya sendiri.

Abdullah bin Hanzhalah memiliki 8 putra. Dia berkata kepada segenap warga Madinah, “Entah kalian mau bangkit melawan ataupun tidak, aku akan tetap bangkit melawan, biarpun aku harus melakukannya sendirian dengan putra-putraku.” Dia melaksanakan ikrarnya, dan terjadilah perlawanan terhadap pasukan Yazid yang hendak menyerang Madinah dalam suatu pertempuran yang dikenal dengan Pertempuran Al-Harrah.[3] Abdullah bin Hanzhalah dan beberapa putranya gugur sebagai syuhada. Kesyahidan Abdullah bin Hanzhalah menyulut kemarahan lebih besar pada penduduk Madinah terhadap Yazid. Sejak itu, jaringan kekuasaan Yazid terkikis dan tak sanggup menghadapi perlawanan sporadis yang terjadi di hampir tiap titik wilayah Islam hingga dia tewas empat tahun setelah tragedi Karbala dalam usia 36 tahun, yakni pada 64 Hijriah. (MK)

Bersambung ke:

Memaknai Revolusi Imam Husein (12): Rahasia Kesucian Gerak (2)

Sebelumnya:

Memaknai Revolusi Imam Husein (10): Memaknai Asyura

Catatan kaki:

[1] Dikutip dari sumber berikut: https://www.goodreads.com/author/quotes/239579.Charles_Dickens?page=7.

[2] Untuk mengenal profil singkat sahabat Nabi ini, rujuk https://ar.wikipedia.org/wiki/عبد_الله_بن_حنظلة

[3] Untuk mengetahui peristiwa ini, rujuk https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_al-Harrah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*