Mozaik Peradaban Islam

Memaknai Revolusi Imam Husein (9): Asyura

in Studi Islam

Last updated on October 27th, 2018 09:50 am

“Singgasana yang dibangun Umayyah dengan susah payah mulai runtuh dengan perlahan setelah mereka membantai keluarga Rasulullah dalam Asyura. Yang hak dan yang batil menjadi terang benderang. Setelahnya, Umayyah tidak pernah sama lagi. Sampai berakhirnya dinasti ini, pemberontakan tidak pernah kunjung padam.”

–O–

Ilustrasi Imam Husein di saat-saat terakhirnya. Photo: DEA-pride/Deviant Art

Asyura

Hari itu, tanggal 10 Muharram 61 H, Sayidina Husein keluar dengan mengenakan baju zirah kakeknya, pakaian yang semestinya dikenali oleh umat Nabi Muhammad SAW. Di tangannya ada pedang Zulfiqar, pedang Sayidina Ali pemberian Nabi SAW. Dengan segenap perasaan cinta kepada semua ciptaan Allah SWT, beliau masih menyerukan kalimat-kalimat peringatan kepada Umar bin Saad dan pasukannya. Seraya berharap adanya secercah kemungkinan, agar orang-orang buas yang berada di hadapannya dapat kembali ke jalan yang benar. Di antara yang dia sampaikan adalah kalimat ini: “Tidak! Demi Allah aku tidak akan memberi tanganku (berbaiat) kepada mereka layaknya orang hina dan aku pun tidak akan lari (dari medan perang) layaknya hamba sahaya (yang ketakutan). ‘Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kalian, dari keinginan kalian merajamku dan jika kalian tidak beriman kepadaku, maka tinggalkanlah aku (jangan ganggu aku)’.[1][2]

Tapi tampaknya Umar bin Saad dan pasukannya sudah tak dapat lagi mendengar semua nasihat dan peringatan. Alih-alih mundur, pasukan musuh justru kian menggila dan mengatur pasukannya dengan formasi pengepungan dan menyerang pasukan kecil Imam Husein yang hanya terdiri atas sekitar 72 orang dari segala penjuru. Duel satu lawan satu pun berlangsung sesaat. Selebihnya adalah hujan anak panah, tombak, dan pedang ke arah siapa saja dari barisan Sayidina Husein yang mendekat. Semua dilakukan, seperti perintah sang komandan, demi mempercepat pembantaian. Meski ini adalah suatu pertarungan yang sama sekali tak seimbang, para sahabat dan kerabat putra Ali bin Abi Thalib itu memberikan perlawanan yang heroik hingga titik darah penghabisan. Ratusan nyawa pun melayang dari pihak musuh. Husein yang tampil terakhir ke medan perang pun tak urung menunjukkan kemampuan tempur yang setara dengan ayahnya. Puluhan nyawa pasukan Umar bin Saad tumpas di ujung pedang Zulfiqar. Setelah puluhan anak panah dan tebasan pedang merobek-robek tubuh lemah yang sudah berhari-hari tercekik dahaga, pasukan Umar bin Saad berhasil merobohkan cucu Nabi itu. Seperti pernah dinubuatkan kakeknya, Husein pun akhirnya mereguk kesyahidan di padang Karbala.[3]

Puncaknya, Umar bin Saad ingin menghadiahkan kepala Husein kepada Ibnu Ziyad untuk kemudian diserahkan kepada Yazid. Maka dia berteriak di hadapan pasukannya dan mengumumkan sayembara pemenggalan kepala cucu Nabi itu. Ada perbedaan versi ihwal siapa yang persisnya tega memenggal kepalanya. Versi yang terkuat menyebut nama Syimr bin Dzil Jausyan. Tapi ath-Thabari menyebut pemenggalnya adalah Sinan bin Anas Al-Nakhai. Katanya, saat Husein sudah jatuh tidak berdaya, Sinan memerintahkan Khauli bin Said untuk memenggal kepalanya. Namun saat hendak melakukannya, tiba-tiba tangan Khauli gemetar. Akhirnya Sinan sendiri yang mengeksekusinya. [4]

Pemenggalan itu lantas disambut sorak sorai pasukan Umar bin Saad. Mereka berhamburan ke jasad-jasad yang lain dan ikut memenggali kepala-kepala dari jasad sahabat dan keluarga Nabi Saw. Belum selesai sampai di sana, pasukan Umar bin Saad juga menjarah atribut yang menempel pada jasad Sayidina Husein. Tak lupa mereka juga berhamburan ke kemah yang didiami oleh para wanita dari keluarga Nabi SAW. Pasukan ini menjarah harta mereka, menawan mereka, dan memperlakukan wanita dari keturunan Rasulullah SAW ini layaknya budak.[5]

Hanya satu laki-laki yang tersisa dalam pembantaian ini, yaitu Ali bin Husein yang ketika itu sedang mengalami sakit keras. Menurut salah satu versi, ketika Syimr melihat Ali bin Husein, diapun sebenarnya ingin membunuhnya. Tapi Umar bin Saad melarangnya. Ali akhirnya dirantai dan dipaksa berjalan hingga ke Kufah bersama para wanita dan kepala-kepala yang ditancapkan di ujung-ujung tombak.[6]

Menurut Tabari, pasukan Umar bin Saad membawa sebanyak 70 kepala yang terpenggal.[7] Menurut Ali Audah, pada peristiwa Karbala ini, personil Sayidina Husein hanya terdiri dari 72 orang, 32 orang pasukan berkuda dan 40 pejalan kaki. Adapun jumlah pasukan musuh sebanyak 4000 orang.[8] Tapi bila melihat dari nama-nama korban yang disebutkan oleh Tabari, hampir setengah korban ini adalah sanak keluarga Sayidina Husein sendiri. Dengan kata lain, Sayidina Husein memang tidak dalam posisi bertempur, dengan demikian yang terjadi di Karbala itu lebih layak disebut sebagai pembantaian atau “genosida” terhadap keluarga Nabi SAW.

Sesampainya di Kufah, pasukan Umar bin Saad memasuki kota dengan ekspresi seperti orang baru memenangkan sebuah peperangan besar. Melihat iring-iringan yang ganjil ini, sontak terjadi histeria di seluruh kota. Orang-orang menangis haru dan mengutuk perbuatan itu. Bagimanapun, mayoritas warga Kufah tetaplah pendukung Ali bin Abi Thalib. Mereka sangat mengenali kepala-kepala yang diarak di ujung-ujung tombak itu, terlebih kepala Sayidina Husein. Perasaan menyesal, ngeri, dan trauma menyelimuti banyak massa yang menonton. Beberapa riwayat mengatakan bahwa Ubaidillah bin Ziyad pun merasa ngeri dan tercengang dengan pemandangan itu.[9]

Tapi, sialnya, alih-alih meredam adegan bengis itu, Ibn Ziyad malah menggenapi kebodohannya dengan memerintahkan anak buahnya mengarak kepala-kepala tersebut dan seluruh tawanan ke Damaskus untuk dipamerkan di hadapan Yazid. Sepanjang perjalanan sejauh ribuan kilometer dari Kufah ke Damaskus, pasukan ini mendapat sambutan dan juga cemooh di wilayah-wilayah yang mereka singgahi. Tanpa mereka sadari, perlakuan mereka yang demikian biadab telah memantik benih-benih perpecahan terbesar dalam sejarah Islam. Yazid dan segenap aparaturnya sedang bersama-sama membakar kursi kekhalifahan Dinasti Umayyah yang sudah dengan susah payah dirakit oleh oligarki dan jaringan Bani Umayyah sejak lama. Sejak hari itu, kekhalifahan Bani Umayyah tidak pernah lagi merasakan ketenangan. Pemberontakan demi pemberontakan meletus di berbagai daerah, tidak terkecuali di dua kota paling suci umat Islam, yakni Makkah dan Madinah.

Setelah bertahun-tahun Muawiyah dan kawan-kawannya berusaha mencampur baur kebenaran dengan kebatilan, kepalsuan dengan keaslian, merancang jaringan intelijen dan aparat keamanan di dalam tubuh umat Islam, mengobarkan semangat kepartaian, dengan bantuan modal sosial dan ekonomi ologarki dan elit masa lalu, kini segalanya terbongkar dengan sendirinya. Batas-batas antara kebenaran dengan kebatilan jadi terlihat dengan jelas. Seketika semua ilusi dan manipulasi yang menutupi akal dan perasaan umat saat itu tersingkap. Dan setelah kebenaran sudah bisa dikenali secara jelas, semua pilihan dikembalikan pada umat ini. Karena bagaimanapun, tidak ada paksaan bagi manusia untuk mengikuti kebenaran. (MK)

Bersambung ke:

Memaknai Revolusi Imam Husein (10): Memaknai Asyura

Sebelumnya:

Memaknai Revolusi Imam Husein (8): Karbala

Catatan Kaki:

[1] Dikutip dari ungkapan Nabi Musa kepada kaum Fir’aun yang diabadikan oleh Al-Qur’an QS 44: 20-21.

[2] Al-Baladzuri, Op.Cit., juz 3, hal. 396-397.

[3] Ada banyak hadis Nabi yang menubuatkan kesyahidan Sayidina Husein di Karbala. Untuk lebih lengkapnya, rujuk karya Muhibbudin Ath-Thabari, Dzakhair Al-‘Uqba fi Manaqib Dzawil Qurba, tahqiq Akram Al-Busyi dan suntingan Mahmud Al-Arnauth, hal. 249-253, diakses dari https://archive.org/details/ThakhayirUkba/page/n0 pada 10 Oktober 2018.

[4] Lihat, The History of al-Tabari, Vol. XIX., The Calipate of Yazid B. Muawiyah, Translated by C. E. Bosworth, State University of New York Press, 1990, hal. 160

[5] Lihat, Ali Audah, Ali bin Abi Thalib; Sampai kepada Hasan dan Husain, Jakarta, Lentera AntarNusa, 2003, hal. 448

[6] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two, Riyadh, Darussalam, 2000, Hal. 79

[7] Saat Husein bin Ali terbunuh, kepala-kepala tersebut dibawa ke Ubaydillah bin Ziyad. Suku Kindah membawa tiga belas kepala, dan pemimpin mereka adalah Qays b. al-Ash ‘ath. Suku Hawazin membawa dua puluh kepala, dan pemimpin mereka adalah Shamir b. Dhi al-Jawshan. Sukum Tamim membawa tujuh belas kepala. Bani Asad membawa enam kepala. Madhhij membawa tujuh kepala. Dan sisa tentara membawa tujuh orang kepala. Total semua jumlah kepala tersebut adalah tujuh puluh kepala. Lihat, The History of al-Tabari, Vol. XIX., Op Cit, hal. 179

[8] Lihat, Ali Audah, Op Cit, hal. 448

[9] Lihat, Akbar Shah Najeebabadi, Op Cit, Hal. 80

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*