Mozaik Peradaban Islam

Mushab bin Umair (8): Al-Muqri

in Tokoh

Last updated on December 14th, 2019 02:57 pm

“Marilah kita pergi kepada Mushab dan beriman bersamanya! Kata orang-orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya,” penduduk Yastrib berbondong-bondong masuk Islam sehingga hampir tidak ada rumah orang Anshar yang tidak memiliki Muslim di dalamnya.

Foto ilustrasi, lukisan karya Ernest Karl Eugen Koerner yang berjudul An arabian landscape (1890). Sumber: Art Net

Dalam riwayat versi lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Tabrani dan Abu Nuaim dalam Dala’ilun Nubuwwah, ketika Mushab bin Umair berbicara kepada orang-orang dan membacakan Alquran kepada mereka (di Bir Maraq), Saad bin Muadz diberitahu tentang mereka. Mengambil senjata dan tombaknya, dia lalu datang dan berdiri di hadapan mereka.

Dia berkata, “Mengapa engkau (Asad bin Zurarah) datang kepada kami di daerah kami dengan pria kesepian ini (Mushab bin Umair) yang merupakan orang buangan (dari Makkah) dan orang asing? Dengan kepalsuan dia menipu kaum kami yang mudah tertipu dan mengundang mereka (kepada Islam). Aku tidak ingin melihat kalian berdua lagi berada di daerah sekitar kami.” Semua orang lalu bubar.

Meski demikian, mereka kembali untuk kedua kalinya ke Bir Maraq atau ke daerah di dekatnya. Ketika Saad diberi tahu lagi tentang mereka, dia memberi mereka peringatan lagi yang tidak terlalu keras ketimbang sebelumnya.

Ketika Asad menyadari bahwa dia agak melunak, dia berkata kepadanya, “Wahai sepupu! Setidaknya berikanlah dia kesempatan untuk berbicara. Jika engkau mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan, wahai Saad, engkau dapat menolak untuk menerima (ucapan)nya dari dia (riwayat lain menyatakan, “Engkau dapat membantahnya dengan sesuatu yang lebih baik”). Namun, jika engkau mendengar sesuatu yang baik, maka jawablah panggilan dari Allah ini.”

Saad berkata, “Apa yang hendak dia katakan?”

Mushab kemudian membacakan ayat-ayat Alquran berikut ini:

حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Haa Miim. Demi Kitab (Alquran) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Alquran dalam bahasa Arab supaya engkau memahami(nya).” (Q.S Az-Zukhruf [43]: 1-3)

Saad berkata, “Aku tentunya dapat memahami terhadap apa yang aku dengar.”

Allah membimbingnya dan dia kembali kepada kaumnya tanpa mengumumkan penerimaannya terhadap Islam sampai dia mencapai mereka. Ketika dia kembali ke kaumnya, dia mengajak Bani Abdil Ashhal kepada Islam, dengan demikian dia membuka (rahasia) penerimaannya terhadap Islam.

Dia berkata, “Setiap orang muda atau tua, pria atau wanita yang memiliki keraguan (terhadap Islam) harus dapat menyajikan sesuatu yang lebih baik dan kami akan segera menerimanya. Demi Allah! Hal semacam itu telah tempak sebelum leher dipaksa untuk tertunduk.”

Ketika Saad menerima Islam dan menyampaikan dakwah kepada umatnya, seluruh Bani Abdil Ashhal menerima Islam di samping sejumlah kecil orang. Bani Abdil Ashhal karena itu adalah keluarga pertama Anshar yang seluruh anggotanya masuk Islam.

Selanjutnya, Mushab bin Umair melanjutkan dakwahnya sambil tinggal bersama dengan Saad bin Muadz. Allah membimbing orang-orang di tangannya sampai hampir tidak ada rumah orang Anshar yang tidak memiliki Muslim di dalamnya.

Bahkan para pemimpin Anshar menerima Islam, termasuk Amr bin Jamuh. Berhala-berhala kaum Anshar hancur dan Mushab bin Umair kemudian kembali ke Rasulullah (di Makkah) dengan gelar “al-Muqri” (Sang Pembimbing).[1]

Dalam riwayat lain, sebagaimana disampaikan oleh sejarawan Khalid Muhammad Khalid, setelah masuk Islamnya Usaid bin Hudhair dan Saad bin Muadz, pemimpin Anshar lainnya, Saad bin Ubadah juga masuk Islam. Dan dengan masuk Islamnya para pemimpin ini, maka selesailah persoalan dengan berbagai suku di Yastrib.

Warga kota Yastrib saling berdatangan dan bertanya-tanya di antara sesama mereka, “Jika Usaid bin Hudhair, Saad bin Ubadah, dan Saad bin Muadz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu? Marilah kita pergi kepada Mushab dan beriman bersamanya! Kata orang-orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya.”[2]

Dengan demikian, duta pertama Nabi ini meraih kesuksesan yang amat besar. Nabi telah memilih orang yang tepat. Pria dan wanita, tua dan muda, yang kuat dan yang lemah, telah menerima Islam melalui bimbingannya. Sejarah penduduk Yastrib telah berubah selamanya, dan kini jalan lain sedang dipersiapkan untuk Hijrah besar. Dalam waktu dekat Yastrib akana menjadi pusat dan basis bagi negara Islam.

Kurang dari setahun setelah kedatangannya di Yastrib, Mushab kembali ke Makkah. Dia membawa 75 Muslim dari Yastrib, dan ini terjadi pada saat musim Haji lagi, sama seperti pada saat kedatangan utusan dari Yastrib yang pertama (sebelum Mushab diutus).

Lagi-lagi di bukit Aqabah, dekat Mina, mereka bertemu Rasulullah. Di sana mereka dengan sungguh-sungguh menyatakan akan membela Nabi dengan total dan siap menghadapi resiko apapun. Jika mereka tetap teguh dalam iman mereka, ganjaran bagi mereka, kata Nabi, adalah surga. Ini adalah baiat atau pernyataan kesetiaan yang kedua yang dibuat oleh umat Islam Yastrib, yang kemudian disebut dengan perjanjian militer.

Sejak saat itu, berbagai peristiwa bergerak dengan cepat. Tak lama setelah baiat, Nabi memerintahkan pengikutnya yang teraniaya untuk hijrah ke Yastrib, di mana kaum Anshar telah siap untuk menerima dan memberikan perlindungan kepada mereka. Muslim pertama yang hijrah dari Makkah adalah Mushab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum.[3] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Tabrani dan Abu Nuaim dalam Dala’il Nubuwwah (hlm 108) dan Haithami (vol 6, hlm 62) telah berkomentar terhadap hadist ini seperti narasi di atas sebagaimana dikutip dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, Op.Cit., hlm 133, 209-210.

[2] Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk (CV Penerbit Diponegoro: Bandung, 2001), hlm 49.

[3] E-book by ISL Software, Biographies of the Companions (Sahaabah), hlm 156.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*