Mozaik Peradaban Islam

Pakistan (18): Perang Sipil dan Disintegrasi

in Negara Islam

Penduduk Pakistan Timur merasa cemburu dengan Pakistan Barat yang ekonominya lebih maju. Secara kesukuan juga mereka merasa berbeda. Merekalah yang menjadi cikal bakal berdirinya Bangladesh.

Pada 1947, India menuntut kemerdekaannya dari Inggris Raya. Dalam proses peralihan kedaulatan yang sangat pelik itu, Liga Muslim di bawah kepemimpinan Mohammad Ali Jinnah juga menuntut untuk mendirikan negara merdeka di atas wilayah barat dan timur Kemaharajaan Britania Raya yang dihuni mayoritas umat Islam. Singkat cerita setelah itu berdirilah dua negara baru di kawasan anak benua India tersebut, yaitu India dengan Pakistan.

Sesuai semangat awal perjuangan pendirian negara Pakistan, maka pada 1956 konstitusi dan bentuk negara ini resmi diubah menjadi Republik Islam Pakistan. Namun, ketika di tubuh Republik Islam Pakistan tengah terjadi dialektika dalam menerjemahkan Islam pada konteks negara dan mengalami perjalanan politik yang tidak selalu damai, pada 1971 meletus perang sipil di negara bagian Pakistan Timur akibat serangan pasukan dari Pakistan Barat ke daerah itu. Akhirnya demi mengakhiri pertikaian dan karena kuatnya gerakan disintegrasi, maka Pakistan Timur pun memisahkan diri dan berdirilah Bangladesh.

Apabila ditelusuri sejarahnya, maka disintegrasi Bangladesh disebabkan beberapa hal. Kesatu, akibat kecemburuan sosial. Sebab, ketika Pakistan Timur masih menyatu dengan Pakistan, mayoritas rakyat menetap di Pakistan Timur. Mereka kebanyakan suku Bengali. Sementara itu, mayoritas elit politik tinggal dan ekonominya berkembang di Pakistan Barat. Hal itu membuat pembangunan infrastruktur lebih maju di Pakistan Barat alih-alih di Pakistan Timur, padahal mayoritas rakyat Pakistan yang juga mendambakan kemajuan, tinggal di wilayah cikal bakal Bangladesh itu.

Dengan demikian, kendati mayoritas penduduk Bangladesh menganut Islam – sama dengan mayoritas penduduk Republik Islam Pakistan, akan tetapi sejarah keduanya membuktikan bahwa kesamaan agama bukanlah faktor signifikan untuk menyatukan mereka. Artinya sebagaimana sudah disebutkan tadi, persoalan kecemburuan sosial menjadi faktor disintegrasi yang utama, sedangkan kesamaan agama nyaris kurang berpengaruh sama sekali.

Bangladesh memiliki jumlah penduduk terbesar ketujuh di dunia dan salah satu negara terpadat di dunia dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Namun, pendapatan perkapita penduduknya meningkat dua kali lipat sejak 1975 – empat tahun setelah memisahkan diri dari Republik Islam Pakistan – dan tingkat kemiskinannya turun 20% sejak awal tahun 1990-an. Kemudian negara ini dimasukan sebagai salah satu di antara Next Eleven.

Kedua, terjadinya konflik politik yang dipimpin para tokoh gerakan disintegrasi Pakistan Timur – antara lain Sheikh Mujibur Rahman – dengan otoritas Pakistan. Bukan hanya dinafasi persoalan ekonomi, melainkan juga berpisahnya Pakistan Timur dari Republik Islam Pakistan tersebut dilatarbelakangi pertentangan suku dan kebudayaan.

Sheikh Mujibur Rahman, tokoh disintegrasi Pakistan Timur. Kelak dia akan menjadi Presiden Bangladesh. Photo:Public Domain

Ketiga, disintegrasi Pakistan Timur (Bangladesh) dari Republik Islam Pakistan dikipas-kipasi dan bahkan dibantu India. Sebagaimana dapat ditelusuri dari sejarah perpisahan India dengan Pakistan, proses pembentukan dua negara ini bukan hanya konfliktual sejak hendak didirikan, tetapi juga pasca keduanya sukses memerdekakan diri dari Inggris Raya, hubungan di antara mereka acap kurang baik. Selain konflik akibat persoalan Kashmir, mereka pun terlibat konflik di sekitar pendirian Bangladesh.

Bukan hanya ke luar, melainkan di dalam tubuh negaranya sendiri pun Republik Islam Pakistan acap mengalami konflik. Sebelum Pakistan Timur memisahkan diri, muncul dugaan bahwa konflik tersebut terjadi akibat persoalan ini. Namun, setelah Pakistan Timur memisahkan diri dan internal Pakistan masih saja mengalami beberapa konflik, maka fenomena ini melemahkan dugaan tadi.

Setelah Bangladesh memisahkan diri, setengah dari seluruh penduduk Pakistan tinggal di Punjab, dan mereka sering mengkritik ketidaksetaraan posisi tiap provinsi. Di Karachi, kelompok Sindhi dengan Muhajir bertempur. Di Baluchistan, hampir setiap hari terjadi serangan terhadap pemerintah pusat. Kemudian suku-suku berbahasa Pashtu di perbatasan Pakistan dan Afghanistan mengeluh karena kehilangan hak politiknya. Selain itu, jurang sosial antara orang kaya dan miskin tampak menganga di Pakistan, terutama di wilayah-wilayah perdesaan yang masih feodal.

Sebelum disintegrasi Pakistan Timur terjadi, perang sipil berlangsung antara Pakistan Barat dengan Pakistan Timur dan India, sejak 25 Maret hingga 16 Desember 1971. Pakistan Barat – sebut saja – sebagai pusat otoritas Republik Islam Pakistan melancarkan operasi militer terhadap penduduk, pelajar, dan personel bersenjata di Pakistan Timur. Tujuannya, tiada lain, menghancurkan berbagai gerakan disintegrasi Pakistan Timur.

Secara rinci, umpamanya pada 25 Maret 1971, meningkatnya ketidakpuasan politik dan nasionalisme budaya Pakistan Timur menyebabkan terjadinya operasi penekanan oleh pasukan militer Pakistan Barat[1] yang brutal.[2] Operasi militer ini dikenal dengan sebutan Operasi Searchlight.[3]

Di pihak yang lain, bantuan India terhadap Mukti Bahini di Pakistan Timur mengakibatkan terjadinya konflik bersenjata antara India dengan Pakistan pada tahun yang sama. Dengan demikian Republik Islam Pakistan harus menghadapi dua kekuatan militer sekaligus: Pakistan Timur dan India. Dalam konteks ini, pasukan militer Republik Islam Pakistan dikalahkan tentara militer India yang bergabung dengan Mukti Bahini. Akhirnya kemenangan ini memudahkan gerakan disintegrasi Pakistan Timur dari Republik Islam Pakistan, dan berdirilah negara baru yang bernama Bangladesh. (MDK)

Bersambung ke:

Pakistan (19): Peradaban Ilmu

Sebelumnya:          

Pakistan (17): Sejarah dan Dinamika Kenegaraan (4)

Catatan Kaki:

[1]     Emerging Discontent. 1966-1970. Country Studies Bangladesh.

[2]     Genocide in Bangladesh. 1971. Gendercide Watch.

[3]     Anatomy of Violence: Analysis of Civil War in East Pakistan in 1971: Militery Action: Operation Searchlight Bose S Economic and Political Weekly Special Articles, 8 Oktober 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*