Mozaik Peradaban Islam

Pakistan (19): Peradaban Ilmu

in Negara Islam

Republik Islam Pakistan tercatat sebagai negara yang paling aktif mengkaji permasalahan keislaman dan filsafat di dunia Islam kontemporer. Di antara ilmuwan muslim ternamanya adalah Muhammad Iqbal, Abu A’la Al-Maududi, M.M. Syarif, C. A. Qadir, Dr. Abdus Salam, dan Fazlur Rahman.

Selain Mesir dan Iran, rasanya – setidaknya dalam wacana umum – Pakistan pun memiliki peradaban yang terkenal dengan gerakan keilmuannya dalam dunia Islam. Setidak-tidaknya, hal itu terbukti pada segi keberanian negara itu untuk menjadikan Islam sebagai nama dan landasan konstitusi negara, sehingga namanya menjadi Republik Islam Pakistan. Setelah menjadi Republik Islam Pakistan, para cendekiawan muslim modernis dengan tradisionalis di negara itu memang giat mengeksplorasi pemikirannya.

Di antara sekian cendekiawan muslim yang cukup terkenal di dunia dari kawasan ini antara lain Sayid Ahmad Khan, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, dan sebagainya. Tokoh-tokoh ini bukan hanya dikenal intim dengan pemikiran keislaman, melainkan juga tidak jarang dijadikan figur dan acuan oleh para pembaharu pemikiran Islam dari berbagai belahan dunia.

Manakala menelusuri sejarahnya, maka – sebenarnya – kecenderungan terhadap ilmu sudah cukup lama diperlihatkan masyarakat Pakistan, bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum India dan Pakistan berdiri. Sejak Kerajaan Ghaznawi eksis, kecenderungan terhadap ilmu pengetahuan telah menjadi prioritas utama kerajaan tersebut dalam mengumpulkan para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu.

Antara 1030 sampai berakhirnya pemerintahan Ghaznawi pada 1186, banyak sarjana, penyair, dan guru sufi dari berbagai kota di Asia Tengah seperti dari Iran, wilayah Arab termasuk Samarkand, Bukhara, Kasghar, Naisabur dan Baghdad tertarik tinggal di Lahore (Pakistan).  Mereka mengisi daerah-daerah baru kaum Muslim ini dengan berbagai pengalaman dan potensi yang telah dikembangkan di daerah sebelumnya.

Dalam konteks ini, secara umum antusiasme para sultan di Kerajaan Ghaznawi dalam menerapkan pola administrasi dan budaya Persia (Iran) bukan hanya mendukung pembangunan peradaban keilmuan belaka, melainkan juga menghentikan tradisi pengelanaan dan penjelajahan wilayah.[1] Selain ahli perang, Mahmud Ghazna – sebagai pemimpin di kerajaan tersebut – juga termasyhur sebagai pendorong dan pengembang ilmu pengetahuan.

Figur penguasa ini bukan hanya pecinta ilmu pengetahuan, tetapi juga sangat menghormati para sarjana. Ghazna – sebuah daerah di kawasan cikal bakal Pakistan pada waktu itu – bukan hanya tempat pertahanan perang, tetapi juga tempat berkumpulnya ahli hukum, ulama, ahli fiqih, bahasa, tasawuf, dan filsafat. Oleh karenanya di masa itu, pembangunan dan perkembangan ilmu pengetahuan berkembang pesat.

Antara lain hal itu ditandai oleh pembangunan masjid yang sangat besar yang di dalamnya dibangun madrasah-madrasah yang dilengkapi perpustakaan. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, Mahmud Ghazni menghimpun para sarjana dan para pujangga.  Tidak tanggung-tanggung, mereka ditempatkan di dalam istananya sendiri. Selain itu, mereka dibiayai dan didukung untuk mengembangkan dan melakukan berbagai penelitian ilmiah. Dua di antara sejumlah ilmuwan yang pernah difasilitasi oleh Mahmud Ghazni ialah Al-Biruni dan Al-Firdausi.[2]

Artinya semasa Kerajaan Ghaznawi, pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan demikian pesat. Kecenderungan para sultan terhadap ilmu pengetahuan sangat tinggi. Hal ini berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan pada masa-masa sesudahnya. Sebab, dasar-dasar pengetahuan telah diletakkan para ulama dan ilmuwan dari berbagai cabang keilmuan. Buktinya, di Pakistan terdapat sederet ulama dan pemikir yang cukup terkenal di dunia.

Di era modern setelah negara Republik Islam Pakistan berdiri, kecenderungan pada pembangunan dan pengkajian keilmuan tetap berlanjut. Hal itu terlihat dalam pendirian sejumlah perguruan tinggi di Pakistan. Antara lain Universitas Baluchistan, Universitas Pertanian Faisalabad, dan Government College Lahore.

Selain itu, Pakistan pun mempunyai beberapa lembaga pengkajian ilmu-ilmu keislaman. Lembaga pengkajian ini memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Lembaga pengkajian yang dimaksud diantaranya Yayasan Ilmu Pengetahuan  Pakistan, Akademi Ilmu-ilmu Pengetahuan Pakistan, Pakistan Philosophical Congress, Internasional Islamic Philosophical Association, Internasional Iqbal Forum, Academic Centre, dan West Pakistan Urdu Academy.[3]

Pengkajian ilmu-ilmu keislaman tersebut masih berlangsung sampai sekarang dan Pakistan tercatat  sebagai negara yang paling aktif dalam mengkaji permasalahan keislaman dan filsafat di dunia Islam kontemporer.

Hingga sekarang, tradisi keilmuan di Pakistan telah melahirkan sejumlah ilmuwan muslim berkaliber internasional. Mereka diantaranya Muhammad Iqbal  (1873-1938), Abu A’la Al-Maududi (1903-1979), M.M. Syarif (1893-1965), C. A. Qadir (lahir 1909), Dr. Abdus Salam (lahir 1926) penerima hadiah nobel bidang fisika tahun 1979, dan Fazlur Rahman (Guru Besar Ilmu Agama Islam di Universitas Chicago Amerika Serikat).

Abu A’la Al-Maududi. Photo: dawn

Dengan demikian, jelaslah bahwa Pakistan bukan hanya berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat, tetapi juga sukses melahirkan sejumlah lembaga pengkajian dan intelektual muslim, tokoh politik dan ilmuwan terkenal. Dan semua itu telah dan akan berkontribusi positif bukan hanya bagi Pakistan itu sendiri, namun juga bagi dunia Islam.

Terakhir meski bukan berarti kurang penting, Sayyid Qutub – tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir – pernah mengatakan bahwa kini (pada abad ke-20) telah muncul dua kekuatan besar Islam, yaitu Indonesia di Asia Tenggara dan Pakistan di Asia Selatan.

Bukan hanya dalam segi keilmuan, melainkan juga kekuatan militer Pakistan sangat diperhitungkan oleh dunia. Diduga, Pakistan mempunyai kemampuan persenjataan nuklir. Tidak aneh apabila Amerika Serikat pun menilai Pakistan sebagai Islamic Bomb (negara ‘Bom Islam’). Sebab, sebagaimana telah diutarakan tadi, Republik Islam Pakistan memiliki kekuatan militer yang dahsyat. (MDK)

Seri Pakistan selesai.

Sebelumnya:           

Pakistan (18): Perang Sipil dan Disintegrasi

Catatan Kaki:

[1]     Badri Yatim. 2008. Sejarah  Peradaban  Islam. Jakarta: Rajawali Pers. Hlm 147.

[2]     Musyrifah  Susanto. 2003. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, Bogor: Kencana. Hlm 177-179.

[3]     Dewan Redaksi. 1997. Ensiklopedi Islam Jilid IV. Jakarta: Ichtiar Baru Van Houve. Hlm 72.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*