Mozaik Peradaban Islam

Penaklukan Persia (4): Bangkitnya Neo-Persia: Kekaisaran Sasaniyah

in Sejarah

Last updated on August 14th, 2020 02:51 pm

Persia menyaksikan kejayaan dan kebesarannya pada zaman keemasan Sasaniyah. Bukan hanya kekuatan militer yang tangguh tetapi juga pusat peradaban dan budaya. Pada masa ini Nabi Muhammad lahir.

Setelah mengalahkan Darius III – raja Akhemeniyah yang terakhir – pada tahun 336 SM, antara tahun 334 hingga 330 SM Aleksander Agung dari Makedonia menuntaskan penaklukan seluruh wilayah Kekaisaran Akhemeniyah.

Pembakaran istana kerajaan oleh Aleksander di Persepolis pada tahun 330 SM melambangkan berlalunya tatanan lama dan pengenalan peradaban Yunani ke Asia Barat.[1]

Tentara-tentara Yunani dan Makedonia menetap dalam jumlah besar di Mesopotamia dan Iran. Aleksander kemudian mendorong perkawinan silang dan menumbuhkan budaya Yunani,[2] dia memerintahkan para perwira tingginya, yang orang Makedonia, untuk menikahi perempuan-perempuan Persia.[3]

Meski demikian, dia tetap mempertahankan sebagian besar struktur administrasi Akhemeniyah dan juga memperkenalkan elemen-elemen oriental dan institusi politik Yunani.[4]

Pada tahun 323 SM, Aleksander meninggal dan dia tidak meninggalkan keturunan seorang pun.[5] Kematiannya ini diikuti oleh pertarungan panjang di antara para jenderalnya untuk memperebutkan takhta Persia.[6]

Pemenang dalam kontestasi ini adalah Seleukus I, yang, setelah menaklukkan kerajaan kaya Babilonia pada tahun 312 SM, mencaplok semua bekas wilayah Persia di timur jauh seperti Sungai Indus, serta Suriah, dan Asia Kecil, dan mendirikan Dinasti Seleukia. Periode ini sering disebut dengan periode Hellenistik.

Selama lebih dari lima abad setelah itu, orang-orang Persia tetap menjadi masyarakat kelas bawah dinasti raksasa ini. Dinasti Seleukia baru berakhir ketika diruntuhkan pada abad ke-2 SM oleh orang-orang Parni (bukan orang Persia, namun masih suku bangsa Arya) yang kemudian mendirikan Kekaisaran Parthia.[7]

Salah satu sepak terjang terpenting Kekaisaran Parthia adalah sebuah periode yang disebut dengan periode “anti- Hellenistik”, yang berlangsung dari tahun 12 hingga 162 M. Periode ini ditandai dengan perluasan budaya asli Parthia dan penentangan terhadap semua hal yang bersifat asing.[8]

Bangkitnya Neo-Persia: Kekaisaran Sasaniyah

Kali ini kita akan membahas tentang Kekaisaran Sasaniyah, yang oleh para sejarawan seringkali disebut dengan Neo-Persia (Persia Baru).[9]

Kekaisaran ini rentang hidupnya bertemu dengan masa ketika Nabi Muhammad saw dilahirkan dan berlanjut hingga ke era Khulafaur Rasyidin, yaitu saat kekaisaran ini berakhir sekali untuk selamanya.

Penggambaran tentang Kekaisaran Sasaniyah begitu penting untuk kajian sejarah Islam, sebab ketika mereka berhadap-hadapan dalam perang yang panjang, kita perlu tahu jenis peradaban seperti apa yang sedang dihadapi oleh Muslim? Seberapa besar kekuatan mereka?

Sebagai bocoran awal, sejarawan Agha Ibrahim Akram mengatakan bahwa berhadap-hadapannya dua peradaban ini “bagaikan macan tutul (Muslim) yang mengkhawatirkan gajah yang sakit (Sasaniyah).”[10]

Selanjutnya mari kita simak penuturan dari sejarawan Agha Ibrahim Akram kembali tentang awal mula berdirinya Kekaisaran Sasaniyah:

Ardashir (Artaxerxes) putra Babak, dari Fars, adalah seorang raja vassal (negara bawahan) dari Kekaisaran Parthia yang bangkit dan menantang tuannya. Dalam pertempuran Hormuz, yang terjadi pada tahun 226 M, raja Parthia, Ardawan, dikalahkan dan dibunuh.

Sekali lagi Kerajaan Persia bangkit seperti raksasa, sekali lagi dunia bergetar karenanya.

Ardashir tidak kalah ambisius dan tidak kalah cakapnya dengan pendiri Dinasti Akhemeniyah. Di timur dia menginvasi India dan memungut upeti di Punjab, di utara dia mengalahkan Khurasan dan Balkh, dan dia menerima ketertundukan raja-raja Makran dan Asia Tengah.

Di barat dia mengalahkan tentara Romawi yang dipimpin Kaisar Severus Aleksander dan menduduki Armenia. Ardashir bukan hanya seorang penakluk tetapi juga seorang negarawan dan pembangun kekaisaran dan seseorang dengan wawasan yang luas.

Kekaisaran Sasaniyah yang didirikan oleh Ardashir semakin kuat dan terus berada dalam konflik tanpa akhir dengan Romawi, Turki, dan Hun.

Ilustrasi Ardashir, pendiri Kekaisaran Sasaniyah. Diambil dari buku Nāma-ye ḵosrovān karya Jalal Al-Din Mirza (1827 – 1872).

Ardashir dilanjutkan oleh beberapa raja cemerlang yang memperkuat kejayaan kekaisaran. Ada Shapur I (yang dikenal oleh sejarawan Muslim Arab sebagai Sabur) yang menangkap Kaisar Romawi Valerian dalam pertempuran dan menahannya sebagai tawanan sampai kematiannya.

Ada Shapur II yang memerintah selama tujuh puluh tahun – sepanjang hidupnya. (Dia dinobatkan sebagai raja saat masih dalam kandungan ibunya dan dengan demikian merupakan satu-satunya orang dalam sejarah yang dinobatkan bahkan sebelum kelahirannya.)

Dia dikenal sebagai Zul-Aktaf (Manusia Bahu); dan mendapatkan julukan ini karena dalam pertempurannya melawan orang-orang Arab di Teluk Persia, dia menarik keluar bahu semua orang Arab yang kuat yang jatuh ke tangannya.

Ada Behram For, pemburu tangguh, yang memiliki reputasi karena telah bertarung dan membunuh gajah yang mengamuk sendirian.

Dan ada Anushirwan Sang Adil – yang terakhir di antara raja-raja Persia yang unggul. Anushirwan memerintah selama 48 tahun dan meninggal pada tahun 579 M, sembilan tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad.

Dia naik takhta setelah kekaisaran mengalami serangkaian kemunduran militer, tetapi menegakkannya kembali ke puncak kejayaan, di mana, karena warisannya yang termashyur, Kekaisaran Persia ditempatkan (sebagai salah satu peradaban besar).

Dia menghancurkan Romawi dalam beberapa kampanye dan merebut Suriah dan Aleksandria (Mesir) dari mereka. Dia menaklukkan Turki dan Habsyi (Ethiopia), dan menempatkan perbatasan kekaisaran melampaui Balkh (Afghanistan), Farghana (Uzbekistan), Samarkand (Uzbekistan), dan Yaman. Dia bahkan menyerbu pulau Ceylon (Sri Lanka)….

…. Dan jika prestasi politik dan militer Anushirwan masih dianggap belum cukup untuk membuktikan klaimnya atas kejayaan (yang dia raih), dia juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia membaca Plato dan Aristoteles dalam terjemahan bahasa Persia dan mendirikan universitas di Jundi Shapur, di mana kedokteran, filsafat, dan cabang sastra lainnya dipelajari. Dia juga mengimpor permainan catur dari lndia….

Sisa-sisa arsitektur Sasaniyah di Ctesiphon. Foto: Karl Oppolzer
Sistem pengairan peninggalan Sasaniyah. Foto: Darafsh

…. Sesungguhnya Persia menyaksikan kejayaan dan kebesarannya pada zaman keemasan Anushirwan Sang Adil. Dengan Ctesiphon (kini di Baghdad, Irak) sebagai ibukotanya, itu bukan hanya kekuatan militer yang tangguh tetapi juga pusat peradaban dan budaya – budaya yang masih bertahan dan dengan pesona yang menggoda yang bahkan hingga hari ini masih memikat wisatawan yang ke Iran.[11] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Encyclopædia Britannica, “Iran, ancient.” (Chicago: Encyclopædia Britannica, 2014)

[2] Microsoft® Encarta® 2009 [DVD], “Persia.” (Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008)

[3] Encyclopædia Britannica, Loc.Cit.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Microsoft® Encarta® 2009 [DVD], Loc.Cit.

[7] Ibid.

[8] Encyclopædia Britannica, Loc.Cit.

[9] Hala Fattah, A Brief History of Iraq (Checkmark Books: 2009), hlm 49.

[10] Agha Ibrahim Akram, The Muslim Conquest of Persia (Maktabah: Birmingham, 1975), hlm 18.

[11] Ibid., hlm 5-6.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*