Mozaik Peradaban Islam

Penjajahan East India Company ke Yaman (4): Imperialisme Inggris

in Monumental

“Kisah ini bukanlah kisah sukses tentang kebesaran peradaban Islam. Namun kronik sejarah ini menjadi penentu bagi masa depan Dunia Islam dan Timur Tengah yang kelam.”

–O–

Terlepas dari kematiannya yang tragis, Haines harus dianggap sangat berhasil dalam menjadikan Aden sebagai pelabuhan yang penting secara global. Bukan hanya itu, dia juga berperan penting dalam membangun kekuatan angkatan laut Inggris di wilayah tersebut.

Mulai dari Aden lah Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan Angkatan Laut East India Company akan meluncurkan operasi anti pembajakan di wilayah perairan di Semenanjung Arab. Pada perkembangannya operasi ini juga menjangkau perairan di sekitar wilayah tanduk benua Afrika.

Bukan hanya itu, Haines juga memberikan informasi-informasi yang berharga tentang suku-suku tradisional di Yaman: karakter mereka, bagaimana cara berinteraksi dengan mereka, bagaimana cara mengelola mereka, dan banyak hal lainnya yang dapat digunakan sebagai sampel untuk menjamah wilayah-wilayah Arab lainnya.[1]

 

Pemberontakan di India

Sementara itu, setelah kematian Haines, di India terjadi pergolakan. Sebagian tentara East India Company yang berasal dari penduduk setempat mengangkat senjata terhadap perusahaan. Tepatnya pada bulan Mei 1857, tentara Bengal menembak para perwira Inggris mereka, dan setelahnya berpawai menuju Delhi. Pemberontakan ini memicu pemberontakan yang lebih besar, sejumlah besar warga sipil India di utara dan selatan sampai kira-kira dari Delhi di barat ke Benares di timur akhirnya bersama-sama melakukan pemberontakan.

Mendengar berita tentang pemberontakan ini, publik Inggris sangat dikejutkan oleh skala pemberontakan dan jumlah korban yang begitu besar di antara kedua belah pihak. Para pemberontak dilaporkan melakukan pembantaian terhadap orang-orang Eropa yang berhasil mereka tangkap, termasuk perempuan dan anak-anak. Sebaliknya, tentara Inggris pun dalam serangan balasan melakukan pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil India.

Masyarakat Inggris yang shock menuntut penjelasan atas peristiwa ini kepada otoritas terkait. Desakan masyarakat ternyata memiliki pengaruh yang kuat atas terciptanya kekuatan masyarakat sipil untuk membangun opini. Maka untuk pertama kalinya dalam sejarah Inggris, masyarakat memiliki kekuatan untuk berpendapat.

Konflik besar ini disebabkan oleh penguasa East India Company yang dinilai mengabaikan tradisi konservatif dan cara hidup masyarakat India. Semenjak East India Company menjajah Inggris, mereka telah melakukan reformasi, menerapkan undang-undang baru, teknologi baru, dan bahkan agama Kristen pun dipaksakan kepada mereka. Masyarakat India merasa dilecehkan, dan akhirnya mereka terdorong untuk melawan dengan cara kekerasan.[2]

 

Setelah Pemberontakan Berakhir

Akibat langsung dari pemberontakan itu adalah pembersihan secara umum administrasi di India. East India Company dibubarkan dan sebagai gantinya Kerajaan Inggris memimpin langsung pemerintahan di India. Dalam praktiknya, meskipun secara personel tidak berarti banyak, namun paling tidak kali ini pemerintah Inggris jadi memiliki akses langsung terhadap India, dan mereka juga menghapuskan komersialisme berlebihan yang sebelumnya merupakan hak mutlak dari Direksi East India Company.

Selain itu, karena krisis keuangan yang disebabkan oleh pemberontakan, pemerintah Inggris me-reorganisir sistem keuangan di India menjadi lebih modern. Orang-orang India bekas pasukan East India Company juga secara ekstensif ditata ulang.[3]

 

Titik Balik bagi Dunia Islam dan Timur Tengah

Kisah ini bukanlah kisah sukses tentang kebesaran peradaban Islam. Namun kronik sejarah ini menjadi penentu bagi masa depan Dunia Islam dan Timur Tengah. Sebenarnya penaklukan Aden oleh East India Company hanya merupakan “pembuka” bagi Kerajaan Inggris. Aden ditaklukan pada 19 Januari 1839 oleh East India Company, namun pada akhirnya pelabuhan, kota, dan provinsi ini menjadi milik kerajaan Inggris sampai tahun 1967 – hampir 130 tahun kemudian. Begitu pula dengan India, awalnya negara ini dikuasai oleh East India Company, namun pada akhirnya menjadi milik pemerintah Inggris juga hingga tahun 1947.

Peta kekuasaan di Timur Tengah pada tahun 1914. Photo: utopiayouarestandinginit

Kurang dari satu abad setelah Kapten Haines dan pasukannya dari East India Company mendarat di Aden, ke depannya Kerajaan Inggris juga akan memiliki kekuasaan atas negara-negara Islam di Timur Tengah seperti Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Irak, dan negara-negara yang dimandatkan oleh Liga Bangsa-bangsa terhadap Inggris setelah Perang Dunia I, yaitu negara-negara Transjordan dan Palestina, meliputi apa yang nantinya akan menjadi negara Israel. Di luar itu, mereka juga menguasa Mesir dan Sudan — sebuah pencapaian imperial yang begitu besar.[4]

Di tempat lainnya meskipun Inggris tidak secara resmi menduduki negara yang bersangkutan, Inggris juga memainkan dinamika politik yang penting, di antaranya, bersama Prancis dan Rusia bertanggung jawab terhadap runtuhnya Dinasti Ustmaniyah (Ottoman) melalui perjanjian Sevres,[5] menguasai minyak Iran dengan konsesi yang sangat besar,[6] memprovokasi masyarakat Arab untuk memberontak terhadap Ottoman,[7] dan membantu Abdulaziz bin Saud untuk mendirikan Arab Saudi.[8] (PH)

Seri Penjajahan East India Company ke Yaman selesai.

Sebelumnya:

Penjajahan East India Company ke Yaman (3): Kapten Stafford Bettesworth Haines

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 259-263.

[2] Peter Marshall, “British India and the ‘Great Rebellion’”, dari laman http://www.bbc.co.uk/history/british/victorians/indian_rebellion_01.shtml, diakses 26 Juli 2018.

[3] “Indian Mutiny”, dari laman https://www.britannica.com/event/Indian-Mutiny, diakses 26 Juli 2018.

[4] Eamon Gearon, Ibid., hlm 263.

[5] “Treaty of Sèvres”, dari laman https://www.britannica.com/event/Treaty-of-Sevres, diakses 4 Mei 2018.

[6] Randy Alfred, “May 26, 1908: Mideast Oil Discovered — There Will Be Blood”, dari laman https://www.wired.com/2008/05/dayintech-0526/, diakses 16 Juli 2018.

[7] The Ottoman Empire – The Arab Revolt, 1916-18, dari laman https://nzhistory.govt.nz/war/ottoman-empire/arab-revolt, diakses 26 Juni 2018.

[8] Lihat Yaroslav Trofimov, The Siege of Mecca: The 1979 Uprising at Islam’s Holiest Shrine (New York: Anchor Books, 2008), dalam Stig Stenslie, The End of Elite Unity and the Stability of Saudi Arabia (The Washington Quarterly: Spring 2018), hlm 73.