Mozaik Peradaban Islam

Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW (4): Etos Dagang Saudagar Quraisy (1)

in Sejarah

Last updated on January 27th, 2020 10:43 am

Leluhur Rasulullah, Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay, menjalin aliansi dengan suku-suku yang jauh agar karavan-karavan Makkah dapat melintasi daerah-daerah dan mengunjungi pasar-pasar baru. Olehnya, jalur perdagangan global menjadi terbuka.

Lukisan tentang karavan Arab, dibuat sekitar tahun 1850, pelukis tidak diketahui. Sumber: Hulton Archive/Getty Images

Awalnya, di Kota Makkah tidak ada rumah atau bangunan selain Kabah. Kabilah Jurhum maupun belakangan Khuzaah, yang berkuasa di Makkah, mereka tinggal di luar Tanah Haram. Mereka melarang siapapun untuk menginap pada malam hari di sekitar Baitullah, yang dibangun oleh Ibrahim bersama putranya Ismail sekitar tahun 2130 SM itu.[1]

Hingga akhirnya setelah lima abad berlalu, pada era Qushay bin Kilab berkuasa di Makkah, barulah rumah dan bangunan bisa didirikan di sekitar Kabah.[2]  Bangunan pertama yang didirikan adalah Darun Nadwah, semacam balairung tempat musyawarah suku Quraisy.[3] Kemudian bangunan lain menyusul seperti Darul Azlam (rumah majelis), sebagai pusat pemerintahan. Karena usahanya ini, Qushay dikenal pula sebagai Bapak Pembangunan Kota Makkah.[4]

Sejak tampuk kekuasan beralih ke suku Quraisy, Makkah berubah menjadi pusat perdagangan. Menurut Philip K Hitti dalam bukunya History of the Arabs, masyarakat Makkah yang progresif dan memiliki naluri dagang telah berhasil mengubah kota tersebut menjadi pusat kemakmuran.[5] Dan, bangsa Arab melalui suku Quraisy termasuk pelaku dagang global paling awal di Jazirah Arab.

Masyarakat Makkah memang mayoritas berprofesi sebagai pedagang. Jiwa saudagar telah menyatu dalam denyut nadi masyarakat yang hidup di tengah gurun tandus ini. Strabo (63/64 SM), Geografer dan Sejarawan Yunani Kuno, pernah melukiskan profesi sebagian besar masyarakat Arab, jika tidak pedagang pastilah makelar.[6]

Demikian juga dengan Badia Y Leblich (1767–1818), seorang mata-mata Kristen Spanyol, menyebut bahwa masyarakat Arab telah melayani perdagangan internasional dua imperium besar (Romawi dan Persia) sejak lama.[7]

Untuk itulah jika ditinjau dari sisi geografis, Makkah memang terletak di tengah rute perdagangan strategis, tepat berada pada pertemuan jalur perdagangan dunia: baik darat maupun laut.

Jalur penting ini menghubungkan antara Yaman di Selatan dengan laut Arab dan Suriah di Utara. Di wilayah barat berbatasan dengan laut Merah dan Semenanjung Sinai (Mesir) di Asia Barat, dan di wilayah timur berbatasan dengan Teluk Persia. Sehingga memungkinkan terciptanya jalur perniagaan dari Timur ke Barat, yakni dari Eropa menuju Mesopotamia (Irak). Atau, perdagangan dari Selatan ke Utara, pedagang bangsa Timur (Cina, India), menuju Barat (Eropa) melalui Yaman.

Semula Makkah hanyalah sebagai tempat persinggahan, selain karena keberadaan Kabah sebagai tempat ziarah spiritual juga memiliki sumber air zamzam yang cukup melimpah untuk melepas dahaga karavan pedagang di jalur tersebut.

Sehingga pola perdagangan di Makkah lebih bersifat pasif, aktifitas jual-beli terbatas dilakukan dengan karavan yang melintasi Makkah semata. Barulah ketika masa kepemimpinan Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay, dia melakukan inovasi dengan membuka perjalanan niaga ke luar negeri dua kali dalam setahun.[8]

Kafilah dagang meninggalkan Makkah di musim dingin berangkat ke Selatan ke negeri Yaman yang hangat. Di Yaman mereka mendapatkan barang seperti emas, permata, sutera dan berbagai jenis tekstil dari India, serta berbagai jenis dupa dan rempah-rempah: kayu manis, kunyit, merica, jahe, dan lainnya.[9]

Jika musim panas, mereka pergi berniaga ke negeri Syam (Suriah) dan Gaza (Palestina) yang sejuk. Dari sinilah mereka membawa anggur, telur burung unta, kulit hewan, dan berbagai komoditas lain yang berasal dari Eropa. Allah SWT melukiskan perjalanan duta dagang saudagar Quraisy ini dalam Alquran (106: 1-2): “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (Yaitu) kebiasaan melakukan perjalan dagang pada musim dingin dan musim panas.”

Misi dagang ke berbagai belahan dunia Arab ini tak lepas dari faktor etos kerja Quraisy yang tinggi.[10] Etos dagang yang tidak hanya terbatas di sekitar Makkah, tapi juga juga membuka hubungan dengan berbagai bangsa lain di belahan dunia.

Tentu saja, untuk membangun sebuah jalur perdagangan yang bersifat global semacam ini tidak mudah. Karena berbagai tantangan dan ancaman keamanan kafilah dagang senantiasa berada di depan mata. Untuk itulah, Hasyim membangun kerjasama dengan para kepala suku di sepanjang rute perdagangan ke Suriah dan Yaman. Bahkan, dia juga berhasil meyakinkan pemimpin Bizantium untuk menjalin kerjasama dengan Quraisy.[11]

Hasyim kemudian mengamankan jalur yang aman di Suriah untuk pedagang Makkah yang mulai mengunjungi pasar Mesir dan Suriah seperti Gaza (tempat Hasyim akhirnya meninggal dunia) dan Busra di mana gandum merupakan komoditas impor utama Makkah.[12]

Aliansi dengan suku-suku yang jauh ini memungkinkan karavan-karavan Makkah melintasi daerah-daerah baru dan mengunjungi pasar-pasar baru. Kabilah-kabilah yang ada sepanjang jalur ini ikut menjaga keamanan mereka dan siap memberi sanksi tegas kepada siapapun yang berbuat jahat kepada kafilah Quraisy.[13]

Langkah Hasyim ini kemudian diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain. Nawfal membuka jalan ke Irak, Abd Syams mengembangkan perdagangan dengan Abyssinia, dan Abdul Muthalib dengan Yaman.

Sejarawan menyebut, setiap berkunjung ke Yaman, Abdul Muthalib bukan hanya berkunjung ke tokoh-tokoh suku Himyar, tapi juga mendatangi raja-raja Yaman dan membuat perjanjian (ilaf) untuk dapat bebas berdagangdi negeri itu.[14] (SN)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Lihat Ali Husni Al-Kharbuthli, Sejarah Ka’bah, (Pustaka Turos, 2015), hal 66.

[2] Tentang Qushay bin Kilab lihat kembali edisi sebelumnya https://ganaislamika.com/kaum-quraisy-4/

[3] Ali Husni Al-Kharbuthli, Ibid, hal 67.

[4] Lihat Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah, (Mizan, 1989), hal 46. Menurut Fuad Hashem, Qushay merupaka Ketua Klan yang bertugas sebagai administrator kota yang membangun Makkah, persis seperti Romulus membangun Kota Roma.

[5] Lihat Philip Khuri Hitti, History of the Arabs: Rujukan Induk dan Paling Otoritatif Tentang Sejarah Peradaban Islam, (Serambi, 2006), hal 130.

[6] Fuad Hashem, Op.Cit, hal 55.

[7] Ibid.

[8] Fuad Hashem, Op.Cit, hal 56.

[9] Ibid.

[10] Lihat Zuhairi Misrawi, Mekkah : Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim, (Kompas, 2009), hal 108-109.

[11] Lihat Mahmood Ibrahim, Social Economic Condition in Pre-Islamic Mecca, (International Journal of Middle East Studies, Vol. 14, No. 3, August 1982, Cambridge University Press), hal 345.

[12] Ibid.

[13] Jawwad Ali, Sejarah Arab Sebelum Islam–Buku 4: Kondisi Sosial – Budaya, (Alvabet, Februari 2019), hal 52.

[14] Ibid, hal 57.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*