Mozaik Peradaban Islam

Seyyed Hossein Nasr (4): Wawancara Zainal Abidin Bagir dengan Nasr: Generasi dengan Dua Kaki

in Studi Islam

Masyarakat modern ada bukan cuma di Barat, tapi juga di banyak negara Muslim. Masyarakat ini sudah melupakan hakikat keberadaan manusia dan memutus hubungan dengan Sumber Kebaikan.

Seyyed Hossein Nasr. Foto: Kaleem Hussain

Oleh Zainal Abidin Bagir[1]

ZAB: Anda kerap mengkritik dunia modern dengan keras. Misalnya, Anda menulis bahwa dunia Barat itu pada esensinya buruk, dan hanya baik secara aksidental, sementara dunia tradisional adalah kebalikannya. Seorang pembaca di amazon.com mengkhawatirkan bahwa pandangan seperti inilah yang menjadi pembenaran terorisme seperti pada 11 September. Tanggapan Anda?

NASR: Yang saya kritik adalah modernisme sebagai posisi filsafat. Sebagai filsafat, ia didasarkan pada penafian Transendensi dan keterlibatannya dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikan manusia sebagai pusat segalanya. Itulah yang saya tentang. Dan sesungguhnya para pelaku teror adalah bagian dari dunia modern.

Bagaimana penjelasannya?

Masyarakat modern ada bukan cuma di Barat, tapi juga di banyak negara Muslim. Masyarakat ini sudah melupakan hakikat keberadaan manusia dan memutus hubungan dengan Sumber Kebaikan, sehingga secara esensial apa yang meraka lakukan adalah buruk. Dalam hal ini para pemikir Kristen dan Yahudi pun akan bersepakat dengan saya, karena inilah penentangan terhadap inti agama.

Masih tentang modernitas, saya melihat ambivalensi dalam pandangan Anda tentang sains modern. Misalnya, Anda mengkritik keras teori evolusi, tapi menyetujui penafsiran mekanika kuantum dari perspektif Tradisional seperti yang dilakukan Wolfgang Smith. Tak dapatkah teori evolusi diletakkan dalam pandangan dunia Tradisional juga?

Tidak. Ada perbedaan penting. Mekanika kuantum adalah teori tentang realitas fisik yang bisa diuji secara eksperimental, sementara evolusi adalah hipotesis yang tak dapat diuji. Ia adalah semacam filsafat yang merangkum himpunan data tertentu untuk sekelompok orang yang tak mengakui adanya proses kreatif ilahiah dalam alam.

Bagaimana dengan upaya ilmuwan Kristen seperti Arthur Peacocke, yang membangun teologi panenteistik di atas pengakuan kebenaran teori evolusi?

Saya menaruh hormat pada upaya mereka, khususnya Peacocke, yang saya kenal baik, tapi saya kira mereka mengorbankan teologi Kristiani terlalu banyak. Upaya itu tak mengubah sains tapi mengubah hampir seluruh bagian agama—teologi, kitab suci—demi menyesuaikannya dengan teori yang masih akan terus berubah.

Sekarang tentang filsafat tradisional Islam, yang Anda katakan masih hidup hingga hari ini. Bisakah Anda menyebut nama filsosof Muslim saat ini?

Sekitar 30-40 tahun yang lalu, kebangkitan kembali filsafat Islam dalam konteks kontemporer terjadi di Iran. Saya terlibat di dalamnya, bersama-sama dengan Allamah Thabathaba’i, Murtadha Muthahhari, Henri Corbin, Ashtiyani, dan beberapa tokoh lainnya di madrasah tradisional Qum.

Kebangkitan itu sedang berlangsung hingga kini, termasuk di universitas modern seperti di Teheran. Kini pun banyak tokoh yang bisa disebut, bukan sejarawan filsafat Islam, tapi filosof Islam. Salah satunya yang baru meninggal belum lama ini adalah Mehdi Ha’iri Yazdi (yang bukunya telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia—ZAB).

Bagaimana dengan di luar Iran?

Ada perkembangan serupa, ada generasi muda filosof Islam. Misalnya Osman Bakar di Malaysia, Bilal Kuspinar dan Alparslan Acikgenc dari Turki, Suheyl Umar di Pakistan. Mereka adalah pemikir dalam tradisi filsafat Islam, meskipun muncul dari universitas yang sesungguhnya lebih berorientasi modern, dan mulai dianggap dengan lebih serius di Barat.

Selain itu, untuk pertama kalinya sejak Abad Pertengahan, saya kira, sejumlah pemikir Barat pun mulai tertarik kepada filsafat Islam secara serius. Henri Corbin adalah perkecualian—sebelum dan sesudahnya, umumnya orang yang mempelajari filsafat Islam adalah ahli bahasa, bukan filosof.

Saat ini apa harapan Anda untuk masa depan filsafat Islam?

Pertama saya berharap akan muncul generasi muda pemikir Islam yang serius, yang berakar kukuh, dan berjalan dengan dua kaki. Kaki pertama adalah tradisi filsafat Islam—tanpa memperhatikan mazhab pemikiran, kaki kedua adalah pemahaman yang amat baik tentang dunia modern. Gembar-gembor slogan sudah bukan waktunya lagi kini.

Pemikir awal Muslim seperti Ibnu Sina memahami filsafat Yunani dengan amat baik, lalu membangun filsafat Islam sebagai responnya. Pemikiran modern pun harus dipelajari dengan serius dari sudut pandang Islam.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Apa yang kini sedang Anda kerjakan?

Saat ini ada pekerjaan tertunda, 2 jilid terakhir dari 5 jilid antologi filsafat Persia, yang saya kerjakan bersama Mehdi Aminrazavi. Pekerjaan ini tertunda setelah 11 September, karena saya kini bekerja siang-malam menyiapkan buku yang amat sangat penting, berjudul The Heart of Islam, yang akan keluar pada peringatan 11 September tahun ini (tahun 2002-red). []

Seri Seyyed Hossein Nasr selesai.

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Zainal Abidin Bagir, Direktur Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Pascasarjana, UGM. Seri artikel Seyyed Hossein Nasr yang ditulis oleh Zainal Abidin Bagir ini tadinya berasal dari tiga artikel yang ditulis oleh beliau di Koran Tempo (Suplemen Ruang Baca) pada 11 Februari 2002. Atas izin dari yang bersangkutan, Redaksi Gana Islamika diperkenankan untuk menerbitkan kembali tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*