Mozaik Peradaban Islam

Spiritualitas, Minoritas Kreatif, dan Peradaban Islam Klasik (2): Madinah al-Nabi

in Studi Islam

 

Oleh Mi’raj Dodi Kurniawan[1]

“Kebudayaan Islam Klasik disusun oleh sistem gagasan, sistem sosial, dan benda fisik hasil olahan masyarakatnya yang berpedoman kepada Wahyu.”

–O–

Feature Photo: aboutislam

Jika Kebudayaan Islam Klasik dibentuk oleh masyarakat Muslim klasik yang sedang melakukan proses menjadi (it becomes), maka Peradaban Islam Klasik dibentuk oleh masyarakat Muslim klasik yang sudah mapan, sudah selesai (it has been), sudah menjadi, atau telah sampai pada pencapaian tertingginya. Dan Peradaban Islam Klasik ini dapat diketahui secara utuh pada masa kini.

Kemudian, ada satu hal penting yang harus dimengerti, bahwa Kebudayaan dan Peradaban Islam Klasik berbeda dengan kebudayaan dan peradaban non keagamaan. Sebab, Kebudayaan Islam Klasik bukan hasil akal masyarakat Muslim klasik belaka, melainkan hasil atau produk akal dan ikhtiar manusia yang dinafasi atau dipengaruhi oleh Wahyu alias petunjuk Allah SWT (revelation). Artinya, Kebudayaan Islam Klasik memang disusun oleh sistem gagasan, sistem sosial, dan benda fisik hasil olahan masyarakatnya. Namun, semua itu berpedoman kepada Wahyu.

Alih-alih mengandalkan akal atau rasio masyarakat Muslim klasik belaka, Kebudayaan dan Peradaban Islam Klasik justru diyakini sebagai kreasi unik kaum Muslim Klasik hasil pertautan Wahyu dengan akal. Artinya, Islam bagi kaum Muslim Klasik bukan hanya ritual, tetapi juga – terutama – pengajaran dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Mengetahui sekaligus Maha Kuasa yang membimbing penciptaan kebudayaan dan peradaban.

Secara ringkas, Wahyu adalah petunjuk atau pengajaran Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Manakala dihubungkan dengan akal (rasio), maka Wahyu tidak hanya lebih tinggi, tetapi juga melampaui tingkat pencapaian rasio. Sebab, Wahyu akan menyampaikan manusia kepada Kebenaran Mutlak. Secara utuh, Wahyu dari Allah SWT mengejawantah dalam agama Islam.[2]

Itu sebabnya, agama pun sering dinamakan fitrah (kecenderungan baik manusia) yang diwahyukan (fithrah al-munazzalah), untuk menguatkan fitrah yang sudah ada padanya secara alami (fithrah majbulah). Oleh karena itu pula, seruan kepada manusia untuk menerima agama yang benar, acap dikaitkan dengan fitrah (penciptaan) Allah, yang atas fitrah itu, manusia diciptakan (Q.S. Al-Rum: 30). Dari sudut pandang manusia, agama ialah wujud nyata dari kecenderungan alami manusia untuk mencari kebaikan dan kebenaran (hanif).[3]

Secara ringkas, proses pembentukan kebudayaan, terutama Peradaban Islam pasca Nabi hijrah ke Yatsrib yang kemudian namanya diubah menjadi Madinah, dapat dijelaskan, bahwa pergantian tersebut mengandung makna yang sangat penting. Secara semantis (ilmu makna bahasa), Madinah berarti kota, satu akar kata dengan tamaddun yang berarti tempat peradaban.[4]

Madinah juga satu akar kata dengan din yang biasa diterjemahkan orang dengan agama. Namun, sebenarnya, terjemahan harfiah din adalah sikap ketundukan. Kaitan antara Madinah sebagai tempat peradaban (tamaddun) dengan Madinah sebagai ketundukan (din) disebabkan salah satu unsur penting dari setiap peradaban adalah adanya sikap ketundukan masyarakatnya terhadap aturan.[5]

Maka, jika menemukan istilah civilization (peradaban), artinya masyarakatnya tunduk kepada suatu aturan hidup bersama. Mudah dimengerti bahwa padanan kata civil dalam bahasa Arab adalah madani, sehingga dalam bahasa Arab dikenal kata qanun madani, yang artinya hukum sipil (masyarakat secara keseluruhan). Akhir-akhir ini, populer pula istilah civil society (masyarakat sipil), yang memiliki padanan kata mujtama madan (masyarakat sipil) dalam bahasa Arab.[6]

Kesimpulannya, sebetulnya pindahnya Nabi dari Mekah ke Madinah membawa ide membentuk peradaban baru yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip yang ada dalam agama Islam, yang selanjutnya dituangkan ke dalam beberapa dokumen politik. Dengan demikian, Madinah sama dengan civil society, yang dalam bahasa Yunani sama dengan polis, yang dari istilah polis itulah diambil dan muncul istilah politik.[7]

Dengan kata lain, langkah Nabi mengubah nama wilayah Yitsrobah (Yatsrib) menjadi Madinah atau lengkapnya Madinah al-Nabi (Kota Nabi) dapat diartikan sebagai strategi politik beliau untuk menjadikan wilayah baru ini sebagai lokus peradaban. Dan andai Nabi orang Yunani, maka – kira-kira – Madinah al-Nabi akan dinamakan Prophetopolis (Kota Nabi), yang diambil dari istilah prophet yang berarti Nabi, dan polis yang berarti kota.[8]

Dari konsep polis itulah – sebagaimana telah dikemukakan tadi – diambil istilah politik, sehingga tergambar konsep kehidupan teratur pada sebuah kota. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika yang dilakukan pertama kali oleh Nabi Muhammad adalah mendirikan sebuah negara yang mula-mula berupa sebuah negara kota (city state). Lalu, wilayahnya diperluas hingga meliputi seluruh jazirah Arabia. Kelak, wilayah tersebut bahkan diperluas lagi oleh para sahabat dan para penerusnya menjadi suatu imperium dunia. Jika ditinjau dari segi geografis, imperium ini jauh lebih luas dibanding kekaisaran Romawi atau Bizantium pada zaman keemasannya.[9]

Itu sebabnya, dalam tinjauan sosiologis, mudah dipahami apabila agama Islam sering disebut agama yang berorientasi urban (kota). Islam ialah agama kota atau agama kehidupan yang teratur. Melalui hijrah, Nabi membangun masyarakat madani, yang bercirikan sikap-sikap egalitarianisme (kesetaraan), menghargai prestasi, terbuka pada partisipasi seluruh anggota masyarakat, dan menentukan kepemimpinan melalui pemilihan.[10]

Sebangun dengan itu, unsur-unsur Peradaban Islam Klasik terdiri atas masyarakatnya yang telah mengenal tulisan, berlangsung pola kehidupan kota, terbentuk pembagian kerja secara kompleks, tercipta teknologi yang telah maju, dan berkembangnya pranata-pranata atau lembaga-lembaga politik, agama, filsafat, dan seni. Dan, akhirnya, tentu saja, unsur-unsur peradaban tadi diinspirasi dan dinafasi visi spiritualitas Islam.

Selanjutnya, terbentuknya pola kehidupan kota dan berkembangnya pranata-pranata politik dalam Peradaban Islam Klasik tampak pada bangunan sikap masyarakat Muslim yang menjunjung egalitarianisme (kesetaraan), penghargaan atas prestasi, keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat, dan penentuan pemimpin melalui pemilihan. Dalam konteks yang terakhir disebutkan, acuan yang paling signifikan tampak pada zaman Khulafaur Rasyidin, akan tetapi hal itu raib karena munculnya sistem dinasti pada beberapa imperium yang mengatasnamakan Islam.

Secara umum, pembabakan sejarah peradaban Islam dibagi menjadi tiga periode. Kesatu, Periode Klasik (610 – 1250 M) sejak Muhammad diangkat menjadi Nabi.[11] Kedua, Periode Pertengahan (1250 – 1800 M). Ketiga, Periode Modern (1800 – sekarang).[12] Dalam Periode Klasik, sejak Masa Kenabian Muhammad hingga tahun 1250 M, pusat kepemimpinan atau pemerintahan umat Islam hanya satu, dan dalam beberapa abad, tampak kuat.

Dalam periode ini terwujud kesatuan budaya Islam[13] dan peranan bangsa Arab sangat menonjol, karena Islam memang hadir di sana.[14] Semua wilayah kekuasaan Islam memakai bahasa yang satu, yaitu bahasa Arab sebagai bahasa administrasi. Ungkapan-ungkapan budaya pun diekspresikan melalui bahasa Arab, kendati saat itu, bangsa-bangsa non Arab pun mulai berpartisipasi dalam membina suatu kebudayaan dan peradaban. Apalagi orang-orang non Muslim juga banyak menyumbangkan karya budayanya.[15]

Bersambung ke:

Spiritualitas, Minoritas Kreatif, dan Peradaban Islam Klasik (3): Nabi Muhammad

Sebelumnya:

Spiritualitas, Minoritas Kreatif, dan Peradaban Islam Klasik (1): Jazirah Arab

Catatan Kaki:

[1] Ketua Bidang Litbang KAHMI Cianjur, Sejarawan UPI Bandung, dan Penulis essay-essay tentang Keislaman di berbagai media Nasional.

[2] Nurcholish Madjid. 1998. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina. Hlm xi.

[3] Ibid.

[4] Nurcholish Madjid. 1997. Perjalanan Religius, Umrah dan Haji. Jakarta: Paramadina. Hlm 25.

[5] Ibid., hlm 25-26.

[6] Ibid., hlm 26.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Nurcholish Madjid. 2002. Fatsoen Nurcholish Madjid. Jakarta: Republika. Hlm 13.

[10] Ibid., hlm 14.

[11] Stephen J. Shoemaker. 2011. The Death of a Prophet: The End of Muhammad’s Life and the Beginnings of Islam. Pennsylvania University Press.

[12] Rianawati. 2010. Sejarah dan Peradaban Islam. Pontianak: STAIN Pontianak Press. Hlm 9.

[13] Badri Yatim. 1998. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Press. Hlm 3.

[14] Op.Cit., Rianawati., hlm 11.

[15] Ibid., hlm 9-10.