Mozaik Peradaban Islam

Syekh Ahmad Maeno (1): Mualaf Jepang yang Menjadi Imam

in Mualaf

“Dia telah mencari jawaban pertanyaannya dari sejak usia 14 tahun tentang ‘dari mana saya datang, ke mana saya akan pergi, dan untuk apa saya hidup?’ Jawaban itu tidak kunjung tiba, hingga suatu saat dia bertemu keluarga Muslim untuk pertama kalinya.”

–O–

Syekh Ahmad Maeno berpose dalam pakaian tradisional Jepang. Photo: Jacob Williams/Twitter

Syekh Ahmad Maeno adalah salah seorang Imam di Jepang, dia telah memeluk Islam dari sejak usia 18 tahun, pada tahun 1994. Setelah lulus dari Universitas Osaka, Fakultas Studi Asing, jurusan bahasa Arab, dan bekerja di perusahaan Jepang di Osaka dan di Masjid Nagoya, dia kemudian memulai perjalanannya untuk mendalami agama Islam di Suriah. Syekh Maeno sekarang tinggal di negara asalnya di Jepang, mendakwahkan agama Islam.[1] Berikut ini adalah kisah bagaimana akhirnya dia sampai dapat memeluk Islam.

Pada awalnya Syekh Maeno memiliki persepsi yang buruk tentang Islam. Persepsi itu dia dapatkan dari pandangan orang-orang di Jepang pada umumnya yang memandang Islam sangat buruk dan sangat negatif. Mereka percaya bahwa Islam adalah agama yang fanatik, mengerikan, dan tidak layak untuk diperhatikan. Pandangan negatif tersebut mereka dapatkan dari dunia pendidikan dan media. Syekh Maeno mengakui, bahwa dia adalah salah satu orang yang terpengaruh akan hal tersebut.

Meskipun dia telah memulai perjalanannya mencari kebenaran dari sejak umur 14, menurutnya Islam adalah hal yang paling-paling terakhir yang akan datang ke pikirannya, bahwa itu adalah agama yang benar. Dia memiliki banyak pertanyaan terkait “dari mana saya datang, ke mana saya akan pergi, dan untuk apa saya hidup?” Menurut Syekh Maeno –setelah dia masuk Islam – pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena berkah yang diberikan oleh Allah SWT, yaitu fitrah. Fitrah untuk mencari tahu hakikat tentang diri seseorang. Tadinya dia menyangka akan mendapat jawaban apabila dia menjadi seorang biksu Buddha, karena agama Buddha adalah agama terdekat yang berada di lingkungan sekitarnya. Namun tetap, dia masih merasa belum mendapatkan jawaban yang dapat memuaskannya.

Sampai suatu saat pada usia 17, Maeno menjadi salah satu peserta pertukaran pelajar ke Melbourne, Australia, di mana dia tinggal setahun di sana. Di sana dia bertemu dengan salah satu keluarga Muslim untuk pertama kalinya. Mereka memperlakukannya dengan sangat santun, baik, dan murah hati. Syekh Maeno muda menilai bahwa merekalah orang-orang Islam yang sesungguhnya, yang perilakunya sangat indah dan mengagumkan. Saat itulah secara perlahan pandangannya yang negatif tentang Islam mulai berubah, dan hatinya mencair.

Namun pada saat itu Maeno belum memutuskan untuk masuk Islam, dia kembali ke Jepang. Suatu saat, Maeno kembali lagi ke Australia untuk berkunjung kepada keluarga tersebut. Sang Ayah – kepala keluarga tersebut – memberinya hadiah terjemahan al-Quran berbahasa Inggris. Dia berkata, “Bacalah buku ini, dan pikirkan olehmu.” Maeno merasa bahagia, dan juga merasa dihargai karena dia dianggap memiliki kemampuan untuk memikirkan sesuatu tentang agama, padahal pada waktu itu dia masih remaja yang berusia 18 tahun.

Maeno kemudian melihat anak laki-laki di keluarga itu yang usianya setahun lebih tua darinya. Anak laki-laki itu sangat tertarik dengan bukti-bukti saintifik yang sangat sesuai dengan isi al-Quran. Dia menunjukkan gambar-gambar dan mengkomparasikannya dengan isi al-Quran, “Kamu lihat, fakta-fakta saintifik itu telah dibuktikan, dan mereka tahu dan telah menyatakannya lebih dari 1.000 tahun sebelumnya. Lihatlah bagaimana al-Quran itu benar dan bagaimana Islam itu benar.” Dia terus bercerita tentang fakta-fakta kebenaran Islam secara saintifik.

Diceramahi seperti itu Maeno merasa jengkel, ego sebagai warga Jepang yang terkenal sangat suka membaca buku terganggu. Menurutnya, perkataan anak laki-laki itu merupakan bentuk bujukan untuk percaya, dan bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengan ilmu pengetahuan, menurut Maeno, mereka tidak membutuhkan bujukan, mereka bisa memutuskan sendiri mana yang menurut mereka benar atau salah. Apalagi apabila hal itu berhubungan dengan agama.

Tetapi bagaimanapun setelah kembali ke Jepang, Maeno tetap mempelajari Islam, di mana dia tidak ingin bergantung terhadap pandangan media tentang Islam, kali ini dia lebih percaya kepada pikirannya sendiri. Semakin dia tahu tentang Islam, semakin dia meyakini bahwa Islam adalah agama sempurna yang selama ini dia cari-cari. Pertanyaannya dari sejak usia 14 tentang “dari mana saya datang, ke mana saya akan pergi, dan untuk apa saya hidup?” Dia mendapatkannya dari agama Islam. Pada usianya yang ke-18 Maeno memutuskan untuk bersyahadat.

Kini Maeno telah memutuskan untuk mengabdikan hidupnya dalam dakwah Islam. Ulama yang fasih berbahasa Arab dan Inggris ini, bahkan dalam satu kesempatan terlihat sedang membimbing seorang wanita Barat yang ingin masuk Islam untuk mengucapkan syahadat. Dan dia mengajarkannya langsung dengan dua bahasa, Arab dan Inggris. (PH)

Bersambung ke:

Syekh Ahmad Maeno (2): Jepang, Indonesia, Hadramaut, dan Musik

Catatan:

Artikel ini merupakan adaptasi dari wawancara Syekh Ahmad Maeno dengan channel DOPStv yang berjudul “A day with Japanese Imam | Ahmad Maeno”, video lengkap wawancaranya dapat di akses di sini. Adapun informasi lain yang bukan berasal dari wawancara tersebut dicantumkan di dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] “Shaykh Ahmad Maeno”, dari laman https://sacredknowledge.co.uk/our-teachers/shaykh-ahmad-maeno/, diakses 24 September 2018.