Mozaik Peradaban Islam

Syekh Ahmad Maeno (2): Jepang, Indonesia, Hadramaut, dan Musik

in Mualaf

“Terkait kekeluargaan dan tradisi, Syekh Maeno memberi contoh tentang keberadaan para ulama Hadramaut di Indonesia.”

–O–

Pandangan tentang Islam di Jepang saat ini

Jika di awal Syekh Maeno mengatakan bahwa pandangan orang Jepang sangat negatif terhadap Islam, tetapi tidak untuk saat ini. Menurutnya pandangan tersebut telah banyak berubah dalam banyak hal. Saat ini Maeno sudah memeluk Islam selama 24 tahun, pada waktu di awal dia memeluk Islam, menurutnya banyak orang Jepang yang tidak tahu tentang Islam yang sebenarnya. Pengetahuan mereka sepenuhnya hanya berasal dari media.

Saat ini, mereka tetap masih belum banyak tahu tentang Islam, tetapi setidaknya kini pintu masuk untuk mengetahui tentang Islam lebih terbuka lebar, banyak jalan untuk mengetahui Islam, tidak seperti dulu. Maeno memberi contoh, “Melalui pekerja atau karyawan asing Muslim. Banyak perawat dari Indonesia yang bekerja di sini, masya Allah. Dan sebagaimana anda tahu, mereka adalah salah satu yang berperan besar yang memperjuangkan dan mensukseskan pembangunan masjid di sini. Sekarang jumlah masjid di Jepang sudah 80 sampai 100.”

Syekh Ahmad Maeno (kiri). Photo: Ahmad Abu Hakeem Maeno/Facebook

Masjid-masjid tersebut kebanyakan dibangun, yang pertama oleh pekerja, dan yang kedua oleh pelajar Muslim. Dengan banyaknya masjid, pengetahuan orang Jepang dalam tataran individu telah berkembang pesat, dan itu baik. Karena hanya dengan cara itu orang-orang Jepang dapat mengetahui bahwa Muslim adalah manusia juga, orang-orang normal, kata Syekh Maeno.

 

Tentang Hubungan Indonesia dengan Hadramaut

Terkait kelahirannya sebagai warga Jepang, ketika ditanya tentang seberapa penting tradisi dan bagaimana caranya untuk tetap memiliki hubungan baik dengan keluarga, Syekh Maeno mengatakan bahwa Allah yang telah memilih kita terlahir di keluarga atau bangsa mana, yang mana artinya kita jangan pernah merasa malu atau merendahkan mereka.

Syekh Ahmad Maeno berpose dalam pakaian Samurai Jepang. Beliau juga mempelajari ilmu bela diri Aikido, pemegang sabuk hitam Dan-2. Photo: maenoahmad/Instagram

Syekh Maeno memberikan suatu contoh, menariknya, dia mengambilnya dari apa yang terjadi di Indonesia, “Salah satu hal yang membuat saya takjub adalah ketika mengunjungi Indonesia tahun lalu untuk menghadiri Konferensi Islam Internasional di Jawa Tengah. Saya begitu takjub dan terkejut dengan ikatan silaturahmi yang kuat di sana, juga di Malaysia. Ikatan dan hubungan yang kuat antara Muslim di Malaysia dan Indonesia, dan Muslim di Yaman! Hadramaut, Hadarima.”

Syekh Maeno tidak menjelaskan lebih detail konferensi apa yang dimaksud, namun besar kemungkinan itu adalah acara Muktamar XII Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Mu’tabaroh An Nahdliyah (JATMAN) dan Halaqoh II Ulama Thoriqoh Luar Negeri yang sejatinya hendak diselenggarakan 23-27 Desember 2017 di Pekalongan namun sempat ditunda dan baru terlaksana pada 14-18 Januari 2018. Dalam Muktamar tersebut Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan terpilih menjadi Rais Aam Thariqah di seluruh dunia.[1] Adapun pada tahun 2016, Syekh Maeno dipastikan memang pernah hadir dalam Muktamar JATMAN.[2]

Syekh Maeno melanjutkan, “Masya Allah, mereka sangat terhubung dari sejak 500 atau 300 tahun lalu. Mereka selalu menjaga ikatan keluarga yang berharga dengan kuat, dan mereka telah memberi warna. Saya sangat amat terkejut dengan banyaknya Muslim, orang-orang kebanyakan, yang berbicara dalam bahasa Arab. Karena mereka mereka terikat dengan keluarga. Dari generasi ke generasi, masya Allah.

“Dan ada juga, ulama Hadarima yang hanya dapat berbicara dalam bahasa Indonesia! Anda tahu, mereka belum pernah ke dunia Arab untuk belajar, tetapi mereka telah belajar ilmu Islam di Indonesia atau Malaysia. Subhanallah. Mereka telah mendirikan sistem pendidikan untuk meneruskan ikatan mereka yang berharga, ikatan keimanan Muslim. Masya Allah,” kata Syekh Maeno.

Sebanyak 5.500 peserta Muktamar JATMAN 2018 hadir dari berbagai negara, dan uniknya, warga Pekalongan justru berebutan ingin rumah mereka menjadi tempat menginap para ulama tersebut selama Muktamar berlangsung. Bukan hanya menginap, warga bahkan secara sukarela menyediakan makan, minum, dan transport bagi para ulama dengan gratis. Mereka sangat mengharapkan doa dari para kiai dan mursyid yang akan menginap di rumah mereka. Mereka ingin memuliakan dan membantu para ulama.[3]

 

Berdakwah Lewat Musik

Syekh Maeno juga dikenal suka berdakwah melalui pendekatan musik, yaitu Nasyid. Ketika ditanya apa alasannya, Syekh Maeno menjelaskan bahwa Nasyid berpengaruh besar terhadap hati anak-anak. Selain itu Nasyid juga menurutnya sedang berkembang pesat di dunia Barat dan banyak negara lainnya, bahkan di antara komunitas-komunitas Muslim minoritas.

Sementara itu, di Jepang sendiri, menurut Syekh Maeno hampir sama sekali tidak ada perkembangan. “Apabila tidak ada yang melakukannya (Nasyid di Jepang), maka saya harus melakukannya. Itulah sebabnya saya memulai (Nasyid),” ujarnya. Syekh Maeno mengembangkan gaya Nasyid-nya sendiri yang bergaya nada-nada Jepang.

Dalam media sosial, Syekh Maeno dapat ditemui di akun instagramnya: @ maenoahmad, dan twitternya: @AhmadMAENO. (PH)

Video Syekh Maeno sedang bernasyid, dapat dilihat di bawah ini:

Selesai.

Sebelumnya:

Syekh Ahmad Maeno (1): Mualaf Jepang yang Menjadi Imam

Catatan:

Artikel ini merupakan adaptasi dari wawancara Syekh Ahmad Maeno dengan channel DOPStv yang berjudul “A day with Japanese Imam | Ahmad Maeno”, video lengkap wawancaranya dapat di akses di sini. Adapun informasi lain yang bukan berasal dari wawancara tersebut dicantumkan di dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Fathoni, “Habib Luthfi Diminta Pimpin Thariqah Seluruh Dunia”, dari laman http://www.nu.or.id/post/read/85379/habib-luthfi-diminta-pimpin-thariqah-seluruh-dunia, diakses 24 September 2018.

[2] “Syaikh Ahmad Maeno Jepang”, dari laman https://www.youtube.com/watch?v=qFSrI6QPHPI, diakses 24 September 2018.

[3] Fuji Eka Permana, “Warga Sukarela Siapkan Rumah untuk Peserta Muktamar JATMAN”, dari laman https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/01/09/p29ovf396-warga-sukarela-siapkan-rumah-untuk-peserta-muktamar-jatman, diakses 24 Januari 2018.