Mozaik Peradaban Islam

Timur Lang (9): Pertempuran dengan Ustmani (4)

in Tokoh

“Meskipun Timur telah memenangkan perang dengan Ottoman, setelahnya dia justru malah membagi-bagikan wilayah kekuasaan kepada anak-anak Bayezid. Sementara itu, kisah yang beredar di Eropa, Timur memperlakukan Bayezid sebagai tawanan seperti anjing, diberi makanan sisa dan harus merangkak.”

–O–

Setelah mengalahkan pasukan Ottoman (Ustmaniyah) yang dipimpin oleh Bayezid I, pasukan Tatar yang dipimpin oleh Timur Lang dengan mudah menduduki dan menghancurkan bagian kota Ankara lainnya. Pada saat yang bersamaan, Mohammed Sultan, cucu kesayangan sekaligus putra mahkota Timur – meskipun terluka karena pertempuran – dengan bergegas mengejar Suleiman yang melarikan diri. Suleiman, putra Bayezid itu bergerak cepat, mengumpulkan kekayaan kota dan melarikan diri dari Bursa dengan terburu-buru.

Lima hari kemudian, pasukan Timur mencapai Bursa, Ibukota Ottoman. Namun di sana sebagian besar kekayaan kota sudah tidak ada karena telah dibawa lari oleh Suleiman. Satu-satunya yang dianggap cukup berharga adalah mereka mendapatkan Zabina, istri dari Bayezid. Karena kecewa tidak mendapatkan harta rampasan, sebagai gantinya pasukan Tatar melampiaskan kebrutalan mereka, Bursa dihancurkan habis-habiskan.

Dalam setengah tahun berikutnya, Timur bergerak tanpa rintangan melintasi Anatolia, menduduki kota demi kota. Dia memaksa penduduk masing-masing kota untuk menyerahkan kekayaannya; mereka yang menolak dibantai. Prestasi terbesar Timur dalam rangkaian invasi ini adalah ketika dia berhasil merebut kota Kristen, Smyrna. Orang-orang Turki telah gagal dalam upaya berulang untuk merebut kembali kota-kota mereka, dan kemenangan Timur yang massif dan cepat membenarkan klaimnya bahwa dialah pemimpin dunia Islam pada saat itu. Menyusul kejatuhan Smyrna, Timur dilaporkan membantai penduduk Kristen.

Timur selanjutnya bergerak dengan cepat untuk membangun kembali Anatolia. Di sepanjang bagian timurnya, dia menempatkan amir-amir yang terbukti setia kepadanya. Tetapi, meskipun kekuatan Ottoman telah berkurang sangat drastis, namun Timur tidak memiliki keinginan untuk menyingkirkan mereka di mana pun. Sebaliknya, dia justru membagi-bagikan wilayah kekuasaan kepada anak-anak Bayezid sedemikian rupa, sehingga dengan terpecah-pecah seperti itu mereka tidak akan pernah bisa menantang kembali otoritasnya.

Putra sulung Bayezid, Suleiman, secara otomatis mendapatkan bagian terbesar dari wilayah kekuasaan peninggalan ayahnya. Namun karena Suleiman sudah melarikan diri ke Eropa, Timur tidak membuat situasi ini menjadi sulit, dia mengizinkan Suleiman untuk memerintah dari kejauhan.[1]

 

Nasib Bayezid

Lalu bagaimana dengan nasib ayah mereka, Bayezid si Petir? Menurut penulis drama Inggris abad ke-16, Christopher Marlowe, dalam karyanya yang berjudul Tamburlaine the Great, Timur dikisahkan berusaha keras untuk mempermalukan Bayezid yang telah menjadi tawanan. Dalam karyanya, Timur diceritakan berulang kali menghinakan tawanannya, mengurungnya di dalam sangkar seperti binatang, dan bahkan menggunakannya menjadi tumpuan kaki. Sementara itu, istri Bayezid, Zabina, menjadi budak dan diperlakukan seperti seorang pembantu. Akhir dari Bayezid mengenaskan, dia melakukan bunuh diri dengan cara membenturkan kepala ke jeruji kandangnya. Zabina juga sama, dia dikisahkan melukai dirinya sendiri.[2]

Lukisan yang menggambarkan nasib Bayezid ketika menjadi tawanan Timur, pelukis tidak diketahui. Lukisan ini berasal dari Jerman bagian selatan (mungkin Tübingen), dibuat pada pertengahan abad ke-16. Photo: Wikimedia

Narasi serupa juga disampaikan oleh Aeneas Silvius Piccolomini, Paus Pius II (sekitar 1458-64), dalam karyanya yang berjudul Asiae Europaeque elegantissima descriptio, ditulis antara 1450-1460 dan diterbitkan di Paris pada 1509. Menurut Marcus Milwright dan Evanthia Baboula, mereka menyatakan:

“Bagian ini (Asiae Europaeque elegantissima description) menyatukan elemen-elemen kunci yang mendasar dalam narasi di Eropa selama dua abad: pertama, sultan ditempatkan di kandang besi; kedua, dia dipaksa, seperti anjing, untuk makan makanan sisa dari bawah meja Timur; dan ketiga, Bayezid dipekerjakan menjadi tukang kuda yang menyediakan tangga untuk penguasa ketika hendak naik kuda, sebagaimana penguasa Scythian.”[3]

Kisah-kisah yang menarik dan dramatis seperti di atas hampir sepenuhnya salah. Marlowe pada kenyataannya mengambil dasar ceritanya dari buku karya Ahmed Ibn Arabshah yang berjudul Tamerlane or Timur The Great Amir.  Ibnu Arabshah merupakan saksi hidup yang pernah melihat Timur Lang secara langsung. Ketika Timur menginvasi Damaskus pada tahun 1400, Ibnu Arabshah dijadikan tawanan perang bersama ibu dan saudara-saudaranya, mereka kemudian dibawa ke Samarkand.

Dalam bukunya,  Arabshah tidak pernah berhenti untuk menunjukkan pribadi haus darah Timur yang tak pernah padam meskipun dia menggambarkannya dengan jauh lebih ringan ketimbang Marlowe. Arabshah menceritakan bahwa Bayezid dibelenggu, bukannya di dalam kandang; dan meskipun kadang-kadang dia menghina, Timur juga menunjukkan rasa simpati dan hormat kepada mantan penguasa Ottoman tersebut.[4]

Pada spektrum lain, Sharifuddin Ali Yazdi, seorang sejarawan Persia, berusaha untuk memenangkan hati Timur dengan menulis bahwa Timur memperlakukan Bayezid dengan sangat baik, dan bahkan dia menangis ketika mengetahui bahwa Bayezid meninggal. Dalam tahapan yang lebih jauh, Sharifuddin bahkan menulis bahwa Timur tidak pernah menginginkan perang, dan setelah pertempuran Ankara, Timur merencanakan untuk mengembalikan tahta Bayezid di Kekaisaran Ottoman.

Louis Ciotola, penulis sejarah militer, mengatakan bahwa kedua versi yang bertolak belakang tersebut tidak ada yang benar. Menurut dia kebenaran kisahnya berada di tengah-tengah, Bayezid memang diikat, tetapi itu hanya karena dia berupaya untuk melarikan diri, dan tidak pernah dikurung di dalam sangkar. Sebagai Tawanan, Bayezid terkadang diperlakukan sebagai tamu terhormat dan terkadang sebagai tahanan yang dicemooh, tergantung suasana hati Timur.

Meskipun Bayezid tidak pernah dijadikan tumpuan kaki, tapi dia memang benar-benar merasa terhina ketika menyaksikan haremnya diarak di hadapannya dengan asyik selama pesta sebagai balasan atas komentarnya tentang istri-istri Timur ketika surat-menyurat. Ketika Bayezid meninggal sebagai tawanan pada 3 Maret 1403, dalang dari tersebarnya berita pembunuhannya – yang mana sebenarnya tidak dibunuh – adalah para penyair yang suka melebih-lebihkan cerita. Masih menurut Ciotola, dapat diasumsikan dengan realistis, bahwa Timur menahan air matanya ketika mendengar berita kematian Bayezid.[5] (PH)

Bersambung….

Sebelumnya:

Timur Lang (8): Pertempuran dengan Ustmani (3)

Catatan Kaki:

[1] Louis Ciotola, “Clash of the Tyrants”, dari laman http://warfarehistorynetwork.com/daily/military-history/clash-of-the-tyrants/, diakses 13 Juli 2018.

[2] Ibid.

[3] Cam Rea, “The Battle of Ankara – Part II”, dari laman http://www.camrea.org/2017/08/14/the-battle-of-ankara-part-ii/, diakses 13 Juli 2018.

[4] Lihat Ahmed Ibn Arabshah, Tamerlane or Timur The Great Amir, diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Inggris oleh J. H. Sanders (Luzac & Co: London, 1936).

[5] Louis Ciotola, Ibid.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*