Mozaik Peradaban Islam

Yavuz Sultan Selim (4): Penaklukan Mamluk di Suriah dan Mesir

in Tokoh

“Mamluk di Damaskus menyerah tanpa perlawanan. Selanjutnya, dalam khotbah Jumat di Masjid Agung Umayyah, nama Selim mesti disebutkan. Kini Selim menuju Mesir untuk membersihkan sisa-sisa Mamluk.”

–O–

Setelah kemenangannya atas Kekaisaran Safawi Persia, Selim kini memberikan perhatiannya kepada Kesultanan Mamluk di Suriah dan Mesir. Dia dan pasukannya bergerak ke selatan melalui Suriah dan Levant, yang meliputi Israel modern, Palestina, dan daerah sekitarnya.[1] Para sejarawan berbeda pendapat tentang jalan cerita penaklukan Selim atas Mamluk, apakah itu merupakan sesuatu yang direncanakan atau tidak. Tampaknya klaim Ottoman terhadap wilayah Dulkadir lah yang menjadi penyebab pecahnya konfrontasi dengan Mamluk, sebab pada waktu itu Dulkadir terhitung masih berada di bawah otoritas Mamluk.[2]

Ketika penguasa Dulkadir Alaüddevle tidak memenuhi tuntutan Ottoman untuk menyerahkan wilayahnya, Selim mengalahkan dan membunuhnya pada tahun 1515. Sebagai gantinya Selim menempatkan keponakan sekaligus saingan Alaüddevle untuk menjadi penguasa – namun di bawah otoritas Ottoman. Sementara itu kepala Alaüddevle dikirimkan kepada Sultan Mamluk Qansuh al-Ghawri di Kairo. Sejarawan Ottoman mengklaim bahwa ketika Selim melakukan perjalanan untuk melawan Safawi pada tahun 1514, persediaan logistik pasukannya diserang oleh Alaüddevle, dan dengan demikian Selim terpaksa berperang melawan Dulkadir. Namun apa pun kebenarannya, kemenangan Selim atas Dulkadir lah yang membuat konfrontasi Ottoman-Mamluk menjadi terbuka.[3]

Untuk membenarkan perang melawan Safawi yang bermadzhab Islam Syiah, Selim tidak terlalu kesulitan untuk menuduh mereka sesat dan wajib hukumnya untuk diperangi. Namun untuk kasus Mamluk, mereka adalah pengikut Islam Sunni, begitu pula dengan Ottoman. Selain itu, al-Mustansir, keturunan khalifah Abbasiyah terakhir, tinggal di Kairo. Para sultan Mamluk juga merupakan pelindung Mekah dan Madinah, serta penjamin keamanan rute dan pelaksanaan ibadah haji. Untuk membenarkan serangannya terhadap Mamluk, Selim mesti mengajukan fatwa.[4] Maka Selim mulai membuat narasi yang menuduh bahwa Mamluk adalah penindas Muslim, dan mereka bersekutu dengan Syiah Safawi. Atas dasar tuduhan tersebut maka muncullah fatwa yang menyatakan, “Barang siapa yang membantu orang-orang sesat, maka dia juga termasuk sesat.” Dengan demikian, setelah munculnya fatwa tersebut, peperangan dengan Mamluk dapat dianggap sebagai “perang suci” juga, sebagaimana yang telah mereka narasikan sebelumnya terhadap Safawi.[5]

Kedua pasukan bertemu di utara Aleppo di Marj Dabik pada 24 Agustus 1516. Senjata Ottoman dan desersi sebagian pasukan Mamluk – akibat propaganda intensif Ottoman di bulan-bulan sebelumnya – menjadi faktor kunci bagi nasib Mamluk. Meskipun jumlah pasukan Mamluk dan Ottoman seimbang, namun pertempuran hanya berlangsung selama beberapa jam. Pasukan Mamluk panik dan melarikan diri ketika berhadapan dengan meriam dan senapan Ottoman. Sultan Mamluk Qansuh al-Ghawri meninggal, tampaknya karena serangan jantung, dan sisa-sisa pasukannya melarikan diri. Aleppo dan Damaskus sama-sama menyerah tanpa perlawanan. Pada shalat Jumat berikutnya di Masjid Agung Khalifah Umayyah di Damaskus, nama Selim mulai harus disebutkan di dalam khotbah. Kekalahan Mamluk dalam pertempuran ini menandakan berakhirnya 250 tahun kekuasaan Mamluk di Suriah.[6]

Ilustrasi pasukan Ottoman menggunakan persenjataan modern. Photo: deadliestfiction

Dari Suriah, Ottoman terus bergerak ke selatan, melalui Levant, dan tiba di Mesir pada Januari 1517. Kesultanan Mamluk di Mesir dapat naik ke tampuk kekuasaan karena kekuatan militernya. Orang-orang Mamluk membanggakan diri mereka dengan berperang memakai cara-cara tradisional — apa yang mereka anggap terhormat. Mereka adalah pemanah yang ahli. Tiga puluh tahun sebelumnya, Ottoman dan Mamluk Mesir pernah mengobarkan perang yang berakhir tanpa konklusi. Namun, pada awal abad ke-16, Mamluk telah kehilangan keunggulan mereka sebagai pemilik kekuatan militer yang tangguh. Pemanah mereka tidak dapat menandingi pasukan artileri dan penembak Ottoman. Dengan demikian, kemajuan persenjataan Ottoman kali ini menjadi penentu bagi hasil akhir pertempuran.[7]

Mesin tembak milik Ottoman dari awal abad ke-16. Sekarang koleksi milik Musee de l’Armee, Paris. Photo: PHGCOM/Wikimedia

Ottoman melancarkan serangan kedua kepada Mamluk, mereka dikalahkan pada 23 Januari 1517 di Raydaniyya, di luar Kairo. Meskipun sisa-sisa pasukan Mamluk melakukan perlawanan sengit di Kairo, perlawanan itu berakhir ketika Sultan Mamluk Tumanbay tertangkap dan dibunuh.[8] Tubuhnya kemudian digantung di salah satu gerbang utama kota Kairo. Meskipun bukan wilayah yang terlalu besar, namun Kairo memiliki harta dan kekayaan yang besar, dan ini cukup berarti bagi Ottoman.[9] Dengan berakhirnya kesultanan Mamluk yang telah memerintah selama lebih dari 250 tahun di Mesir dan Suriah – sejak Mongol menghancurkan Baghdad pada tahun 1258, bekas wilayahnya kini diambil alih ke dalam Kesultanan Ottoman, menjadikannya sebagai tiga provinsi pemerintahan yang  baru, yaitu Aleppo, Damaskus, dan Mesir.[10] Sementara itu, gubernur-gubernur Mamluk di wilayah lainnya yang belum ditaklukan, ketika mendengar Mesir telah jatuh, secara teratur turut menyerah.[11] (PH)

Bersambung ke:

Yavuz Sultan Selim (5): Warisan Selim

Sebelumnya:

Yavuz Sultan Selim (3): Fatwa Religius dalam Peperangan Ustmaniyah

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 205.

[2] Gábor Ágoston dan Bruce Masters, Encyclopedia of the Ottoman Empire (Facts On File, Inc. : 2009), hlm 512.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Caroline Finkel, Osman’s Dream: The Story of the Ottoman Empire 1300-1923 (Basic Books: 2006), hlm 64.

[6] Gábor Ágoston dan Bruce Masters, Loc.Cit.

[7] Eamon Gearon, Loc.Cit.

[8] Gábor Ágoston dan Bruce Masters, Loc.Cit.

[9] Eamon Gearon, Loc.Cit.

[10] Gábor Ágoston dan Bruce Masters, Loc.Cit.

[11] Eamon Gearon, Loc.Cit.