Mozaik Peradaban Islam

Hudzaifah bin al-Yaman (11): Fitnah Pertama (2)

in Tokoh

Last updated on July 30th, 2019 01:42 pm

Terbunuhnya Ustman bin Affan RA membuat perkembangan dan pertumbuhan Islam berubah untuk selama-lamanya. Inilah yang menjadi awal dari arus pembentukan mazhab, teologi, dan hukum di dalam Islam yang beragam.

Ilustrasi Ustman bin Affan. Sumber: EcuRed

Stephen Humphreys, seorang professor sejarah Islam dan Timur Tengah, pernah mengajar di University of California dan American University di Kairo, Mesir,[1] sebagai penerjemah dan pembuat anotasi kitab Tarikh al-Rusul wa al-Muluk karya Al-Tabari, di dalam pengantarnya di dalam buku tersebut mengatakan bahwa peristiwa terbunuhnya Ustman bin Affan RA adalah peristiwa dalam sejarah Islam yang paling menentukan bagi perkembangan wajah Islam selanjutnya.[2]

Wafatnya Ustman membuat umat Islam pada waktu itu dihadapkan kepada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang paling penting, bukan hanya tentang persoalan siapa khalifah yang berhak untuk berkuasa, tetapi juga tentang hubungan antara Tuhan dengan umatnya. Perkembangan dari peristiwa itu menghadirkan jawaban yang berbeda-beda, bahkan bertentangan, yang mana secara substansial akan membentuk arus mazhab, teologi, dan hukum Islam yang beragam ke depannya. Oleh karenanya banyak sejawaran Muslim awal yang menganggap peristiwa ini sebagai titik persimpangan dalam Islam.[3]

Dengan latar belakang seperti itu, Humphreys memperingatkan, bahwa teks-teks sejarah (riwayat dan hadis) terkait periode yang disebut “Fitnah Pertama” dalam Islam, bisa jadi sudah tidak autentik. Karena bisa jadi si periwayat yang dimaksud juga sudah masuk ke dalam lingkaran partisan, alias mendukung salah satu faksi yang ada pada waktu itu. Namun bukan berarti teks-teks tersebut dianggap menjadi palsu atau batal keasliannya, Humphreys memberi saran, hendaknya para penstudi sejarah Islam menyimak berbagai riwayat dari berbagai latar belakang untuk dapat menangkap gambaran utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.[4]

Terkait keberpihakan Hudzaifah bin al-Yaman RA pada masa itu, ini menjadi menarik karena dia dianggap sebagai satu-satunya orang yang mengetahui siapa saja orang-orang munafik di masa Nabi Muhammad SAW, kendati dalam banyak riwayat, dikisahkan dia tidak pernah mau membuka siapa saja nama-namanya, bahkan terhadap Umar bin Khattab RA sekalipun.[5]

Untuk menyiasatinya, agar Umar bisa mengetahui siapa saja orang munafik, dia selalu bertanya ketika ada seorang Muslim yang meninggal, “Apakah Hudzaifah menghadiri salat jenazahnya?” Jika jawabannya adalah “ya’”, dia akan ikut mensalatkan juga. Jika jawabannya “tidak”, dia menjadi ragu tentang orang itu dan menahan diri untuk tidak melakukan salat jenazah untuknya.

Suatu waktu, ketika Umar sudah menjadi khalifah, dia bertanya kepada Hudzaifah, “Apakah ada gubernurku yang munafik?”

Hudzaifah menjawab, “Satu.”

“Tunjukkan dia kepadaku,” desak Umar.

“Itu yang aku tidak bisa,” kata Hudzaifah.

Tidak lama setelah percakapan tersebut, Umar dikabarkan memecat salah seorang gubernurnya, seolah-olah dia telah mendapatkan jawabannya.[6]

Sebagaimana telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya, ketika huru-hara pembunuhan Ustman terjadi, Hudzaifah sedang berada jauh dari Madinah, dia berada di Persia, kalau tidak di Kufah, dia berada di Madain. Lalu kepada siapa Hudzaifah berpihak? Sepanjang pencarian penulis, penulis hanya menemukan dua kitab yang menerangkannya. Pertama, al-Istiab karya Ibnu Abdul Barr, dan kedua, Irshad Al Qulub karya Hasan bin Muhammad al-Daylami.

Sebagaimana telah dijelaskan oleh Humphreys di atas, penting untuk melihat latar belakang periwayat yang menyampaikan teks mengenai masa Fitnah Pertama. Ibnu Abdul Barr adalah seorang ahli hadis dengan latar belakang mazhab Maliki. Dia dilahirkan pada tahun 368 H di Andalusia pada saat Dinasti Umayyah II berkuasa di sana. Penting untuk diketahui, mazhab resmi Dinasti Umayyah II adalah Maliki.[7]

Fu’ad Jabali, di dalam bukunya The Companions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Alignments, mengutip al-Istiab karya Ibnu Abdul Barr, mengatakan bahwa Hudzaifah memerintahkan kedua putranya, Safwan dan Said, untuk ber-baiat kepada Ali bin Abi Thalib RA. Namun Hudzaifah wafat ketika berita tentang pembunuhan Ustman sampai ke Kufah.

Bagaimanapun, akhirnya Safwan dan Said berangkat ke medan Perang Siffin untuk membantu Ali. Namun Fu’ad menekankan, ketika Hudzaifah memberi perintah kepada kedua putranya, dia tidak pernah mengetahui bahwa Ali akan berperang dengan Muawiyah, dan dia keburu wafat sebelum perang itu terjadi. Menurut Fu’ad, berangkatnya Safwan dan Said ke Perang Siffin adalah berdasarkan penafsiran mereka sendiri, bukan ayahnya.[8]

Sekarang kita akan menjelaskan riwayat dari Hasan bin Muhammad al-Daylami dalam kitabnya Irshad Al Qulub. Seperti sebelumnya, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu siapa Hasan bin Muhammad al-Daylami (wafat 711 H). Al-Daylami adalah seorang sufi dan ulama yang bermazhab Zaidiyah, salah satu sekte dalam Syiah. Dia lahir di sekitar wilayah Laut Kaspia, namun bermigrasi ke Yaman, tempat di mana Zaidiyah berkembang pesat.[9]

Dalam Irshad Al Qulub, al-Daylami meriwayatkan bahwa dari sejak awal, bahkan dari sejak masa Nabi Muhammad masih hidup, Hudzaifah telah menisbatkan bahwa dirinya kelak akan ber-baiat kepada Ali. Namun karena cukup panjang, riwayatnya akan disampaikan dalam artikel berikutnya.

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] “Stephen Humphreys”, dari laman https://www.history.ucsb.edu/emeriti/stephen-humphreys/, diakses 27 Juli 2019.

[2] Dalam Al-Ṭabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 15, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh R. Stephen Humphreys (State University of New York Press: New York, 1990), hlm xiv.

[3] Ibid.

[4] Ibid., hlm xv.

[5] Abu Nasr as-Sarraj, Al-Luma’ fi At-Tashawwuf, Bab 9, dalam John Renard, Knowledge of God in Classical Sufism (Paulis Press, 2004), hlm 89.

[6] The Muslim Students Association of the University of Southern California (MSA USC), Biographies of the Companions (Sahaabah), (e-book version, dapat diunduh di https://www.muslim-library.com/english/biographies-of-the-companions-sahaabah/), bab Hudhayfah Ibn Al-Yaman. Sebagai informasi, MSA USC adalah sebuah organisasi kemahasiswaan Islam di University of Southern California yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, sangat mendukung berdirinya khilafah, biografi tentang organisasi ini dapat dilihat di https://www.discoverthenetworks.org/organizations/muslim-students-association-university-of-southern-california-msa-usc/. MSA USC sangat aktif mengumpulkan riwayat-riwayat dari Sahih Muslim.

[7] Dr. G.F. Haddad, “Ibn `Abd Al-Barr”, dalam http://www.sunnah.org/history/Scholars/ibn_abd_al_barr.htm, diakses 27 Juli 2019.

[8] Fu’ad Jabali, The Companions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Alignments (Brill, 2003), hlm 158.

[9] “al-Daylamī, Muḥammad b. al-Ḥasan”, dari laman https://referenceworks.brillonline.com/entries/encyclopaedia-of-islam-3/al-daylami-muhammad-b-al-hasan-COM_25953, diakses 27 Juli 2019.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*