Mozaik Peradaban Islam

Ammar bin Yasir (8): Musailamah al-Kazzab, Sang Nabi Palsu

in Tokoh

Last updated on February 22nd, 2020 02:04 pm

Orang-orang Yamamah membuat kesaksian, “Kami bersaksi bahwa Musailamah adalah Rasul Allah.” Musailamah bahkan membuat fikih baru yang mengizinkan perzinahan dan meminum khamr.

Foto ilustrasi: inhilklik.com

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA diangkat menjadi khalifah untuk menggantikan beliau sebagai pemimpin umat Islam. Bagaimanapun, ketika berita tentang wafatnya Rasulullah menyebar ke berbagai belahan wilayah Muslim, itu menimbulkan percikan-percikan yang bernuansa pemberontakkan terhadap kepemimpinan yang baru, terutama dari daerah-daerah yang jauh dari pusat di Madinah, yang penduduknya belum lama masuk Islam. Oleh para sejarawan, periode ini disebut periode riddah (pembelokkan agama).

Penduduk Bahrain, Oman, dan Mahrah misalnya, mereka terhasut untuk melakukan pemberontakkan karena sebuah syair yang digubah oleh penyair setempat yang berbunyi:

Memang, selagi hidupnya kita harus taat kepada Rasulullah. Tetapi hai hamba Allah, terhadap Abu Bakar apa perlunya?

Selain itu, di berbagai daerah lainnya bermunculan nabi-nabi palsu. Di antaranya adalah Thulaihah al-Asadi yang mengaku sebagai nabi. Di antara rakyat dari suku Asad, Gathfan, Thai, dan Dzubyan banyak yang percaya dan menjadi pengikutnya. Setelahnya menyusul Bani Amir, Hawazin, dan Salim yang juga meyakini kenabian Thulaihah.

Tidak berhenti sampai di sana, di kalangan Bani Tamim muncul seorang wanita yang bernama Sajjah. Dia menjadi dalang dan mengipas-ngipasi mereka agar mengkui kenabian Thulaihah. Dengan dukungan sebesar ini, Thulaihah bahkan berencana untuk menyerang dan menduduki Madinah.

Selain Thulaihah, ada juga orang lainnya yang mengaku sebagai nabi bagi seluruh manusia, dia adalah Musailamah bin Habib, atau biasa disebut Musailamah al-Kazzab (Musailamah si Pembohong). Tidak tanggung-tanggung, penduduk Yamamah (sekarang berada di Najd Tengah, Saudi Arabia) percaya kepadanya dan menjadi pengikutnya. Musailamah  bahkan memiliki kekuatan tempur yang sudah mencapai skala pertahanan satu kota.[1]

Kiprah Musailamah yang terang-terangan mengaku sebagai penerus nabi bahkan sudah dimulai dari sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Dia bahkan pernah secara langsung meminta jatah kekuasaan terhadap Rasulullah. Kemudian di rumahnya di Yamamah, meskipun mengakui Muhammad sebagai nabi, tapi dia membuat fikih tersendiri dengan mengizinkan kaumnya untuk meminum khamr dan melakukan perzinahan.

Dalam kesempatan lain, kedua utusannya pernah menemui Rasulullah. Ibnu Masud meriwayatkan, beliau berkata kepada mereka, “Apakah kalian bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”

Keduanya menjawab, “Kami bersaksi bahwa Musailamah adalah Rasul Allah.”

Beliau bersabda, “Aku percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Andai kata aku boleh membunuh seorang utusan, niscaya kalian berdua sudah kubunuh.”[2]

Hari-hari setelah wafatnya Rasulullah dan tidak lama setelah naiknya Abu Bakar sebagai khalifah adalah salah satu momen yang paling genting bagi keberlangsungan ajaran agama Islam. Ali bin Abi Thalib RA, yang pada waktu itu merupakan salah satu tokoh besar Islam, yang sebelumnya lebih memilih untuk hidup menyepi untuk beribadah, sampai-sampai terpaksa harus keluar dari penyepiannya untuk membantu Abu Bakar dengan segala sumber daya yang dimilikinya.

Ali berkata, “Karena itu aku khawatir jika aku tidak memberikan dukungan kepada Islam dan kaum Muslim, ada bahaya nyata bahwa Islam akan punah.”

Kita tidak akan membahas terlalu jauh tentang Thulaihah al-Asadi, karena berkenaan dengan kisah hidup Ammar bin Yasir, kiprahnya yang legendaris justru terekam dalam peristiwa di Yamamah.

Demikianlah, akhirnya umat Islam di bawah panji komando Khalid bin Walid berangkat ke Yamamah untuk menumpas Musailamah al-Kazzab. Dalam ekspedisi ini, Ammar menjadi anggota korps pasukan yang dipimpin oleh Ali.

Rincian pertempuran berlangsung seperti ini: Musailamah yang merupakan penerus Tasam dan Judais, bersama pasukannya pada gilirannya mengambil inisiatif untuk menyerang terlebih dahulu. Kedua pasukan bertemu satu sama lain di medan perang.

Dalam pertempuran ini, umat Islam harus menghadapi musuh yang begitu berapi-api dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika pertempuran dimulai, orang-orang kafir ini melakukan perlawanan yang begitu keras, sehingga sebagian kaum Muslim ada yang mulai hilang keberanian dan mulai melarikan diri sedemikian rupa, sampai-sampai Khalid kehilangan kendali terhadap pasukannya sendiri.

Pada waktu yang bersamaan, Musailamah bersama pasukannya mengambil titik persembunyian untuk menyergap pasukan Muslim. Pasukan Muslim menghadapi kesulitan besar dan mulai melarikan diri seperti kawanan domba yang ketakutan.[3]

Pada titik inilah Ammar kemudian mengambil perannya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar. Saat Pertempuran Yamamah, dia melihat Ammar bin Yasir berdiri di atas batu dan berteriak, “Wahai Umat Muslim! Apakah kalian melarikan diri dari Jannah? Aku Ammar bin Yaasir! Apakah kalian melarikan diri dari Jannah? Aku Ammar bin Yasir! Datanglah kemari!”

Abdullah bin Umar mengatakan bahwa dia menyaksikan Ammar bin Yasir bertarung dengan begitu sengit meskipun telinganya telah terpotong dan beruntai-untai.[4]

Dalam redaksi yang sedikit berbeda, sebagaimana diriwayatkan oleh Waqidi dan Ibnu Saad, Abdullah bin Umar berkata:

Aku melihat Ammar Yasir di atas bukit dengan telinganya yang terputus, terluka oleh pedang, berdarah, dan dia hendak bertarung dengan kondisi seperti itu, dan memanggil para Muslim yang melarikan diri dan berkata, “Wahai Muslim! Apakah kalian melarikan diri dari Surga?”

Kemudian dia mengeraskan suaranya lagi dan berkata, “Akulah Ammar! Akulah Ammar! Datanglah padaku dan melaju ke arahku!”

Aku melihat telinga Ammar bergelantungan dan aku juga melihat bahwa dalam kondisi seperti itu dia membunuh musuh-musuh, membacakan ayat-ayat tentang keberanian, berteriak, dan menyemangati orang lain sehingga akhirnya prajurit Muslim berkumpul di sekelilingnya. Ketika prajurit Muslim berkumpul di dekatnya, dia menyerang musuh dan muncul sebagai pemenang dari medan perang.[5]

Perang Yamamah menelan korban jiwa yang begitu banyak dari Kaum Anshar, mereka adalah orang-orang yang sangat bernilai karena pengetahuan mereka yang tinggi tentang Alquran. Pada masa itu Alquran belum tertulis, masih mengandalkan orang-orang yang menghafalnya, yang mana banyak yang berguguran dalam perang ini.

Musailamah akhirnya terbunuh, dan jantung pemberontakkan riddah berhasil dihancurkan. Kekuatan pemerintahan Muslim di Madinah berhasil dikokohkan kembali.[6] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Khalid Muhammad Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, diterjemahkan oleh Mahyuddin Syaf (CV. Diponegoro: Bandung, 1984), hlm 86-87.

[2] Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm 596.

[3] Sadruddin Sharafuddin al-Amili, Ammar Ibn Yasir (ra) – A Companion of the Prophet (‘s), (Islamic Seminary Publications, Lebanon), e-book version, chapter 11.

[4] Diriwayatkan oleh Hakim (Vol 3, hlm 385), dikutip kembali dalam Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, The Lives of The Sahabah (Vol.1), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mufti Afzal Hossen Elias (Zamzam Publisher: Karachi, 2004) hlm 546.

[5] Sadruddin Sharafuddin al-Amili, Loc.Cit.

[6] Encyclopaedia Britannica, “Riddah”, dari laman https://www.britannica.com/topic/riddah#ref80139, diakses 21 Februari 2020.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*