Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (27): Genghis Khan

in Sejarah


Ketimbang mengambil gelar lama Gur Khan, Temujin lebih memilih gelar baru yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu Genghis Khan. Artinya adalah kuat, tegas, tidak tergoyahkan, atau tidak kenal takut, atau dalam arti lain, serigala.

Ilustrasi Genghis Khan. Photo: Central Pedmont Community College

Dengan telah menaklukkan dan melebur tiga suku terbesar – Tatar, Kereyid, dan Naiman –ke dalam sukunya sendiri, kini Temujin telah menjadi penguasa yang tidak terbantahkan lagi dari sebuah wilayah yang sangat luas. Wilayah kekuasaannya membentang mulai dari Gobi di selatan hingga tundra Arktik di utara, dan dari hutan Manchuria di timur hingga Pegunungan Altai di barat. Sebagian besar imperiumnya adalah padang rumput, dan ketimbang manusia, di sana lebih banyak hewannya.

Peta wilayah kekuasaan Kekaisaran Mongol dari tahun ke tahun. Photo: Astrokey44/Wikimedia

Kemenangan besar Temujin terhadap tiga suku terbesar tersebut masih belum cukup untuk dapat memberikan legitimasi kekuasaan kepadanya sampai dia diangkat secara resmi dalam khuriltai. Perwakilan dari setiap wilayah akan menghadiri acara itu, dan jika ada yang memilih untuk tidak hadir, maka itu sudah merupakan sebuah pernyataan yang tegas bahwa mereka menolak kepemimpinan khan yang memanggilnya. Dengan demikian, sang khan tidak memiliki hak untuk memerintah mereka, namun yang lebih penting, merekalah yang menjadi tidak memiliki hak perlindungan dari khan terpilih.

Setelah mengalahkan suku Naiman, Temujin tidak tergesa-gesa untuk segera menyelenggarakan khuriltai. Selama satu tahun dia menyelesaikan urusannya terlebih dahulu untuk “menyelesaikan” beberapa suku atau klan kecil, dan tahun berikutnya dia fokus untuk memulihkan perdamaian dan memperbaiki hubungan dengan suku-suku bekas musuhnya yang kini telah menjadi bagian dari pengikutnya. Pada tahun 1206, atau Tahun Macan, barulah Temujin kembali ke hulu Sungai Onon yang berada di dekat gunung suci Burkhan Khaldun untuk menyelenggarakan khuriltai. Barangkali ini adalah khuriltai terbesar yang pernah dilakukan dalam sejarah masyarakat padang rumput Mongolia.

Puluhan ribu hewan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan susu dan daging untuk perayaan besar tersebut. Barisan tenda membentang sampai berkilo-kilo ke berbagai arah dari tenda utama milik Temujin. Di tengah semua itu berdiri tiang-tiang penyangga sulaman bulu kuda, panji spiritual yang telah menuntun Temujin sampai ke titik ini. Setelah seremoni yang khidmat, acara dilanjutkan dengan pesta perayaan, olahraga, dan musik.

Panji spiritual bangsa Mongol. Photo: Carol Pearson/crosstabs.org

Para shaman kekaisaran, termasuk shaman legendaris Teb Tengeri, memukul genderang dan bernyanyi pada siang harinya, dan para musisi tampil pada sore harinya. Masuk ke malam hari, udara dipenuhi oleh nyanyian khas Mongolia, sebuah nanyian dengan nada-nada tinggi, di mana para penyanyi menarik napas dengan begitu dalam supaya mereka dapat terus mengikuti dua irama musik yang saling bersahutan. Sementara itu para anak muda turun dalam kompetisi gulat, balap kuda, dan memanah, sebuah rangkaian arena kompetisi ketangkasan tradisional Mongol yang disebut dengan naadam.

Bila dibandingkan dengan masa kini, wilayah kekuasaan Temujin kira-kira setara dengan luas Eropa Barat modern. Populasi penduduknya hanya sekitar satu juta orang masyarakat nomaden, jauh lebih kecil dengan populasi hewannya yang mencapai sekitar 15-20 juta. Temujin bukan hanya menjadi khan bagi suku-suku besar Tatar, Kereyid, dan Naiman, tetapi juga “Orang-orang Dinding Kulit”, yaitu kelompok masyarakat plural yang pertama kali dirintis olehnya. Dan untuk imperium barunya ini, dia mengambil nama yang berasal dari sukunya sendiri, yaitu Yeke Mongol Ulus, yang artinya adalah “Bangsa Besar Mongol.”

Setelah menyatukan semua suku, klan, dan keluarga, Temujin menghapus semua gelar aristokrat bangsawan yang ada di antara mereka sebelumnya. Seluruh gelar tersebut kini menjadi hak prerogatif negara, bukan lagi milik individu atau keluarga, dan kelak akan didistribusikan kembali kepada siapa yang dikehendaki oleh penguasa baru.

Bagi dirinya sendiri, Temujin menolak gelar penguasa kuno seperti Gur-Khan atau Tayang Khan, dia lebih memilih gelar yang mungkin sebelumnya sudah tersebar di antara pengikutnya sendiri, yakni Chinggis Khan. Gelar itu kemudian di dunia Barat lebih dikenal melalui ejaan Persia, yakni Genghis Khan. Dalam bahasa Mongolia chin artinya adalah kuat, tegas, tidak tergoyahkan, atau tidak kenal takut, atau dalam kata lainnya yang dekat, chino, artinya adalah serigala, yang diyakini merupakan leluhur bangsa Mongol. Gelar ini sederhana, namun tampak cocok bagi sang khan baru.

Sebagaimana kebanyakan penguasa yang sukses, Genghis Khan paham akan pentingnya acara seremonial politik yang khidmat dan agung seperti ini. Namun tidak seperti kebanyakan penguasa yang biasanya menyelenggarakannya di dalam sebuah bangunan seperti istana atau kuil, pengangkatannya sebagai penguasa justru terjadi di atas padang rumput luas yang terbuka, sebuah tempat di mana ratusan ribu orang dapat berpartisipasi.

Seremoni besar seperti itu telah mengundang minat para penjelajah dan penulis sejarah untuk mendatanginya, dan kemudian menuliskannya dengan rinci. Catatan sejarah yang paling lengkap tentang acara tersebut dimiliki François Pétis de la Croix, seorang penulis biografi abad ke-17 asal Prancis, yang memiliki akses terhadap dokumen-dokumen bersejarah Persia dan Turki yang kini telah hilang.


Lukisan tentang pengangkatan Genghis Khan karya Rashid al-Din. Photo: Bibliothèque nationale de France. Département des Manuscrits. Division orientale. Supplément persan 1113, fol. 44v

Menurut Pétis, para pengikut Genghis Khan “menempatkannya di atas Karpet Bulu Hitam yang telah mereka gelar di atas Tanah; dan Seseorang yang telah diberi tugas untuk menyuarakan Suara Rakyat, mengucapkan kepadanya dengan keras tentang Kebahagiaan Rakyat.” Orang itu kemudian melanjutkannya kepada Genghis Khan “bahwa otoritas kekuasaan apa pun yang telah diberikan kepadanya, berasal dari surga, dan Tuhan (Dewa) tidak akan mengecewakan dalam memberkati dan memakmurkan Takdir-Nya jika dia dapat memerintah Pengikutnya dengan baik dan adil; tapi sebaliknya, dia akan sengsara jika menyalahgunakan kekuasaan itu.”

Seremoni tersebut disambut dengan gegap gempita oleh para pengikutnya, yang secara terbuka menunjukkan kepatuhan mereka dengan mengangkatnya di atas karpet di atas kepala mereka dan secara harfiah benar-benar membawanya ke atas singgasana. Mereka kemudian “berlutut sembilan kali di hadapan Kaisar baru ini, untuk menunjukkan Ketaatan yang telah mereka janjikan kepadanya.” Setelahnya setiap suku, klan, dan keluarga menunjukkan hal yang serupa, diikuti oleh para shaman yang telah mendapatkan mimpi spiritual untuk melakukan hal serupa. Para shaman kemudian memberikan berkah spiritual pada acara tersebut dan menjadikannya lebih dari sekadar acara politik. Melalui kehadiran mereka, acara tersebut menjadi pernyataan suci tentang takdir Temujin yang telah ditahbiskan secara spiritual oleh Langit Biru Abadi.

Para shaman memukul genderang, melantunkan puji-pujian ke roh suci alam, dan menaburkan arak ke udara dan tanah. Sementara itu para pengikut yang lainnya berdiri dan berdoa dalam barisan yang rapi dengan telapak tangan mereka menghadap ke atas ke arah Langit Biru Abadi. Mereka mengakhiri doa dan mengirimkannya ke langit seraya berkata dengan bahasa Mongol kuno, “Huree, huree, huree,” yang artinya mirip dengan “Amiiin.” Tindakan spiritual ini menjadikan masing-masing dari mereka menjadi bagian dari pemilihan pemimpin baru dan menyegel perjanjian agama tidak hanya di antara mereka dan pemimpin mereka, tetapi juga dengan dunia spiritual.[1] (PH)

Bersambung ke:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (28): Kekaisaran Mongol (1)

Sebelumnya:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (26): Akhir Hidup Jamuka

Catatan Kaki:


[1] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 3.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*