Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (29): Kekaisaran Mongol (2)

in Sejarah


Pada saat Genghis Khan berkuasa, banyak pengikutnya yang telah menganut Buddhisme, Kristen, Manicheanisme, dan Islam. Dia menjamin kebebasan total bagi mereka, dan membebaskan para pemukanya dari segala macam kewajiban membayar pajak.

Hewan Ternak dan Perburuan

Meski mencuri hewan ternak selalu dianggap salah, tetapi itu sudah menjadi hal yang biasa dalam budaya jarah-menjarah masyarakat padang rumput, dan ini juga yang sering menjadi penyebab permusuhan dan perselisihan yang berkepanjangan. Mungkin teringat akan kesulitan besar yang menimpa keluarga kecilnya dulu, ketika delapan kuda mereka dicuri, kini Genghis Khan membuat hukum yang menyatakan bahwa pencurian hewan adalah pelanggaran besar.

Selain itu, dia meminta kepada siapa pun yang menemukan hewan hilang untuk mengembalikannya kepada pemiliknya yang sah. Untuk tujuan ini, dia mendirikan sebuah lembaga besar untuk mengelola penemuan hewan yang hilang, dan sistem ini terus berkembang beriringan dengan semakin besarnya kekaisaran. Siapa pun yang menemukan barang, uang, atau hewan yang hilang, tapi dia tidak menyerahkannya kepada penyelia yang ditugaskan, maka dia akan diperlakukan sebagai pencuri, dan hukuman untuk pencurian adalah eksekusi.

Selain persoalan hewan yang hilang, masyarakat padang rumput juga sering berdebat mengenai hak berburu hewan liar. Genghis Khan mengkodifikasikan pendapat-pendapat yang ada dengan melarang perburuan antara bulan Maret hingga Oktober karena itu adalah masa perkembangbiakan. Dengan melindungi hewan-hewan di musim panas, Genghis Khan juga menyediakan jaring pengaman untuk ketersediaan pada musim dingin, dan para pemburu harus membatasi pembunuhan mereka berdasarkan kebutuhan mereka saja untuk makanan, tidak lebih. Hukum juga mengatur tentang cara-cara berburu dan memotong daging, sehingga tidak ada yang terbuang dengan sia-sia.[1]

Kebebasan Beragama

Selain persoalan seks, properti, dan makanan, Genghis Khan juga menyadari kemungkinan munculnya pertikaian di antara agama-agama yang ada untuk bersaing. Dalam berbagai macam bentuknya, banyak masyarakat padang rumput yang pindah ke agama-agama yang datang dari luar, mulai dari Buddhisme, Kristen, Manicheanisme, dan Islam. Semua telah ada di sana, dan masing-masing dari mereka mengklaim bahwa agamanya adalah satu-satunya yang benar.

Perempuan Muslim Mongolia mengenakan pakaian tradisionalnya. Photo: Launch Good

Dalam perspektif Barat, barangkali ini adalah hukum pertama di dunia, Genghis Khan menetapkan kebebasan beragama yang lengkap dan total bagi seluruh warga kekaisarannya.  Meskipun Genghis Khan terus menganut shamanisme yang menyembah Langit Biru Abadi dan Gunung Dewa Burkhan Khaldun, namun dia tidak menginginkan keyakinannya dijadikan agama resmi kekaisarannya.

Untuk mempromosikan semua agama, Genghis Khan membebaskan para pemimpin agama dan propertinya dari urusan perpajakan dan semua jenis layanan publik. Untuk mempromosikan profesi terkait, dia kemudian memperluas kebijakan bebas pajak yang sama ke sejumlah profesi-profesi yang menyediakan layanan publik penting lainnya, termasuk pengurus pemakaman, dokter, pengacara, guru, dan cendekiawan.[2]

Mekanisme Suksesi Kepemimpinan

Genghis Khan membuat sejumlah undang-undang yang dirancang khusus untuk mencegah peperangan dalam memperebutan posisi khan. Menurut hukum, khan harus selalu dipilih melalui khuriltai. Genghis Khan akan memberikan hukuman yang sangat keras bagi siapapun anggota keluarganya yang mengklaim posisi khan apabila tanpa melalui pemilihan dalam khuriltai.

Untuk mencegah para kandidat khan saling membunuh satu sama lain, dia memberlakukan hukuman bagi siapapun yang melanggar, dan pelakunya harus dihukum mati melalui mekanisme dalam khuriltai, bukan dilakukan secara pribadi. Dengan memberlakukan hal ini, Genghis Khan telah menghapus tradisi pembunuhan untuk meraih posisi pemimpin, yang mana sebenarnya dia sendiri telah melakukannya sewaktu kecil ketika membunuh kakak tirinya sendiri.

Hukum Komunitas

Hukum Mongol, sebagaimana telah dikodifikasikan oleh Genghis Khan, mengakui tanggung jawab dan kesalahan kelompok. Individu yang sendirian tidak memiliki kewajiban hukum di luar konteks keluarga dan unit-unit yang lebih besar di mana dia berada. Oleh karena itu, keluarga memikul tanggung jawab untuk memastikan perilaku yang benar dari para anggotanya. Kejahatan oleh seseorang bisa membawa hukuman bagi semua. Demikian pula, sebuah suku atau satu unit pasukan memikul tanggung jawab yang sama untuk setiap tindakan anggotanya, dan dengan demikian seluruh bangsa, bukan hanya aparatur pemerintah, memikul tanggung jawab untuk menjunjung tinggi dan menegakkan hukum. Untuk menjadi orang Mongol yang adil, maka setiap orang harus hidup dalam komunitas yang adil.

Penegakan hukum dan tanggung jawab untuk mematuhinya dimulai pada tingkat tertinggi, yakni dari sang khan sendiri. Dengan cara ini, Genghis Khan telah memproklamirkan supremasi hukum bagi setiap individu, bahkan penguasa. Dengan mendudukan penguasa di bawah hukum, dia telah mencapai sesuatu yang belum pernah dicapai oleh peradaban monarki lainnya. Tidak seperti banyak peradaban — dan terutama Eropa barat, tempat di mana para raja memerintah atas kehendak Tuhan dan memerintah di atas hukum — Genghis Khan menjelaskan bahwa Hukum Agungnya berlaku sama ketatnya terhadap para penguasa, sama seperti semua orang lainnya. Para keturunan Genghis Khan terbukti mampu meneruskan tradisi ini, meskipun hanya bertahan sekitar lima puluh tahun setelah kematiannya. Setelahnya, mereka menghapuskan aturan ini.[3] (PH)

Bersambung ke:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (30): Kekaisaran Mongol (3)

Sebelumnya:

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (28): Kekaisaran Mongol (1)

Catatan Kaki:


[1] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 3.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*