Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (36): Menyerang Jurchen Jin (2)

in Sejarah

Last updated on March 21st, 2019 02:12 pm


Marco Polo memberi kesaksian, ketika prajurit Mongol sudah tidak punya makanan, “Mereka menyayat pembuluh darah kuda, meminum sedikit darahnya dan menutupnya kembali.”

Ilustrasi prajurit berkuda Mongol. Photo: camrea.org

Pada awal abad ketiga belas, China terbelah dalam beberapa kekaisaran (Jurchen Jin di utara dan Song di selatan) dan melemah. Ia diumpakan, “Seperti seorang wanita tua, tenggelam dalam lamunan, mengenakan pakaian yang terlalu rumit, dikelilingi oleh banyak anak, dan mendapat sedikit perhatian.” Meski demikian, apabila dibandingkan dengan Mongolia, China masih jauh luar biasa besar peradabannya.

Mereka memiliki banyak pagoda dan danau-danau yang indah, perhiasan naga perak dengan mata pirus, giok berukir, bidak catur gading, dan vas bertelinga phoenix. Sedangkan rakyat Genghis Khan, mereka pada dasarnya hanyalah pemburu atau penggembala, sebaliknya, penduduk China adalah orang-orang mandarin dan cendekiawan, para penyair dan kaligrafer, pembangun jembatan, kelompok pengemis, pengrajin perunggu, bangsawan-bangsawan, para pangeran, dan tentu saja kaisar yang dikelilingi oleh kemewahan.

Ketika Genghis Khan hendak menyerang Dinasti Jurchen Jin, mereka memiliki kekuatan militer yang jauh lebih besar ketimbang Mongol, belum lagi parit dan tembok yang melindungi kota-kota besar mereka, benteng-benteng yang besar, dan persenjataan-persenjataan yang canggih. Tembok besar kota Jurchen bagaikan tak mungkin tertembus, terutama mengingat bangsa Mongol hanya memiliki senjata primitif. Selain itu rasio pasukan Jurchen dibandingkan dengan pasukan Mongol lebih dari dua banding satu. Tetapi, bagaimanapun juga, Genghis Khan adalah seorang pemimpin militer yang jenius, dan memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dalam hal ini, sebagaimana akan dikisahkan dalam artikel ini. Sehingga, meskipun primitif, militer Mongol sangat berbeda dari tentara tradisional.[1]

Untuk menyerang kekuatan besar seperti itu, orang-orang Mongol memerlukan persiapan yang benar-benar matang, apalagi mereka akan melintasi wilayah Gobi yang sangat luas. Sebelum pasukan besar berangkat, beberapa regu pasukan pendahulu pergi terlebih dahulu untuk mencari sumber air dan melaporkan kondisi rumput dan cuaca. Seorang pengamat Tiongkok mengatakan, pasukan pendahulu mengintai setiap bukit dan titik sebelum pasukan utama tiba. Mereka ingin mengenal semua yang ada di daerah itu: penduduk dan sumber dayanya, dan mereka selalu berusaha untuk memiliki jalur melarikan diri yang dipersiapkan jika diperlukan nanti.

Orang-orang Mongol seolah memiliki fisik yang sudah didesain dengan baik untuk dapat melakukan perjalanan jarak jauh; setiap orang membawa apa yang dia butuhkan, namun tidak lebih. Selain deel, yaitu jubah tradisional dari wol yang panjangnya mencapai pergelangan kaki, mereka mengenakan celana panjang, topi bulu dengan penutup telinga, dan memakai sepatu bot dengan sol yang tebal. Selain pakaian yang dirancang untuk dapat melindungi dalam cuaca terburuk, setiap prajurit membawa batu api untuk membuat api, kantong kulit untuk air dan susu, kikir untuk menajamkan panah, laso untuk menangkap hewan atau tawanan, jarum dan benang jahit untuk memperbaiki pakaian, pisau dan kapak untuk memotong, dan tas kulit untuk mengepak semuanya. Dan setiap regunya yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang membawa tenda kecil.

Pergerakan dan pembentukan pasukan Mongol ditentukan oleh dua faktor yang membedakan mereka dengan setiap pasukan pada peradaban tradisional lainnya. Pertama, militer Mongol seluruhnya terdiri dari kavaleri yang mengendarai kuda dan bersenjata, mereka tidak memiliki pasukan infanteri yang berjalan kaki. Sebaliknya, pada hampir semua militer lainnya, mayoritas prajurit adalah infanteri. Pasukan Mongol terdiri dari sekitar 65.000 penunggang kuda seluruhnya, dan mereka akan menghadapi pasukan kuda Jurchen yang jumlahnya kurang lebih sama, namun disertai dengan 85.000 prajurit infanteri tambahan. Dengan perbandingan seperti itu, Jurchen lebih diuntungkan, namun mereka tidak memiliki mobilitas sebaik pasukan Mongol.[2]

Karakteristik unik kedua dari pasukan Mongol adalah bahwa mereka melakukan perjalanan tanpa komisari atau kereta logistik yang tidak praktis, mereka hanya membawa cadangan kuda yang besar yang selalu menemani para prajurit. Selama perjalanan, mereka memerah susunya, menyembelih mereka untuk dimakan, dan mencari makanan lainnya dari perburuan dan penjarahan.[3] Penjelajah Marco Polo mengatakan bahwa prajurit Mongol dapat melakukan perjalanan sepuluh hari tanpa berhenti untuk membuat api atau memanaskan makanan, mereka bertahan hidup dengan memakan daging kering dan susu kering yang dicampur dengan air. Ketika tidak ada lagi yang tersedia, “Mereka menyayat pembuluh darah kuda, meminum sedikit darahnya dan menutup pembuluh darahnya kembali.”[4] Selain daging kering, mereka juga membawa dadih kering, keduanya dapat dikunyah sambil mengendarai kuda. Dan ketika mereka memiliki daging segar, tetapi tidak ada waktu untuk memasaknya, mereka meletakkan daging mentah itu di bawah pelana agar daging itu melunak dan dapat dimakan.[5]

Para sejarawan China mencatat dengan terkejut dan keheranan terhadap kemampuan para prajurit Mongol yang dapat bertahan hidup dengan makanan dan air yang sedikit untuk waktu yang lama. Menurut salah satu catatan itu, seluruh pasukan Mongol dapat berkemah tanpa kepulan asap karena mereka tidak perlu api untuk memasak. Dibandingkan dengan pasukan Jurchen, orang-orang Mongol jauh lebih sehat dan kuat. Bangsa Mongol mengonsumsi makanan yang stabil seperti daging, susu, yogurt, dan produk-produk susu lainnya.

Berbeda dengan orang-orang Jurchen, mereka terbiasa memakan bubur yang terbuat dari berbagai macam biji-bijian. Makanan seperti itu menciutkan tulang, membuat gigi rusak, dan membuat mereka lemah dan rentan terhadap penyakit. Sebaliknya, tentara Mongol yang paling miskin pun sebagian besar makanannya adalah protein, sehingga membuat gigi dan tulang mereka kuat. Tidak seperti tentara Jurchen, yang bergantung pada diet karbohidrat yang tinggi, orang-orang Mongol dapat dengan mudah pergi selama sehari atau dua hari tanpa makanan.[6] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Amy Chua, Day of Empire: How Hyperpowers Rise to Global Dominance — and Why They Fall (Doubleday, 2007), hlm 97-99.

[2] Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World (Crown and Three Rivers Press, 2004, e-book version), Chapter 4.

[3] Ibid.

[4] Amy Chua, Loc.Cit., hlm 99.

[5] Jack Weatherford, Loc.Cit.

[6] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*