Mozaik Peradaban Islam

Hagiografi Hasan al-Basri (1): Hasan si Pedagang Mutiara

in Tasawuf

Sebelum dikenal sebagai ahli agama yang termasyhur, Hasan al-Basri adalah seorang pedagang mutiara. Lalu apa yang membuatnya berubah haluan. Simak kisahnya.

Photo Fitur: about islam

Abū Saʿīd b. Abi ’l-Ḥasan Yasār al-Baṣrī, atau seringkali disebut Hasan dari Basrah, atau secara singkat biasa disebut Hasan al-Basri lahir di Madinah pada 21 H/642 M. Ayahnya adalah seorang budak Persia yang ditangkap dari Maisan, Iraq.[1] Abu Hasan (ayah Hasan) di Madinah kemudian membantu tugas-tugas Zaid bin Tsabit sebagai pembantu Nabi Muhammad SAW.[2] Sedikit yang diketahui tentang masa kecil Hasan al-Basri, tetapi beberapa laporan mengatakan bahwa dia pindah dari Madinah ke Basrah, Iraq, pada saat berusia 15 tahun.[3]

Karena tumbuh dewasa di Basrah, diriwayatkan bahwa dia selalu bertemu dengan sahabat-sahabat Nabi, mereka adalah 70 sahabat yang turut serta dalam Perang Badar. Setelah tumbuh dewasa, Hasan menjadi seorang tokoh di antara tokoh-tokoh yang paling terkemuka pada zamannya karena dia termasyhur akan kesalehannya, dan dia secara terbuka membenci perilaku kalangan atas yang gemar berfoya-foya.

Sementara itu, bagi pembesar-pembesar kelompok Mutazilah, Hasan dianggap sebagai pendiri gerakan mereka. Perlu diketahui, dua tokoh besar Mutazilah, yakni Amr bin Ubaid dan Wasil bin Atha, keduanya adalah murid Hasan. Di dalam hagiografi sufi, Hasan al-Basri dikategorikan sebagai salah seorang tokoh suci terbesar Islam pada masa-masa awal sejarah Islam. Hasan meninggal di Basrah pada tahun 110 H/728 M. Hasan adalah seorang pembicara hebat, banyak dari perkataannya yang dikutip oleh penulis-penulis Arab, dan teks-teks tertulisnya masih ada sampai hari ini.[4]

Di bawah ini adalah kisah Hasan al-Basri yang disarikan dari karya Farid al-Din Attar yang berjudul Tadhkirat al-Awliya (Kisah Hidup para Manusia Suci). Farid al-Din Attar adalah seorang penyair Persia yang juga dianggap sebagai salah satu sufi mistik terbesar. Selain itu dia juga merupakan seorang penulis dan pemikir yang telah menyusun setidaknya 45.000 bait prosa yang indah. Farid al-Din Attar dilahirkan di Nishapur, Iran pada tahun 1142 M, dan dia wafat di tempat yang sama pada tahun 1220 M.[5] Berikut ini adalah hagiografi Hasan al-Basri menurut Farid al-Din Attar.

 

Hasan si Pedagang Mutiara

Pada awalnya Hasan dari Basrah adalah seorang penjual permata, karena itulah dia memiliki julukan sebagai Hasan si pedagang mutiara. Hasan menjual barang-barangnya sampai ke Bizantium, dan di sana dia kenal dekat dengan para jenderal dan menteri Kaisar Bizantium.  Suatu waktu, ketika Hasan sedang berada di Bizantium, Hasan bertemu dengan Perdana Menteri untuk berbincang-bincang.

Setelah sekian lama berbincang-bincang, Perdana Menteri mengajak Hasan ke suatu tempat, dia berkata, “Jika engkau suka, kita akan pergi ke suatu tempat.” Hasan menjawab, “Terserah engkau, ke mana pun aku ikut.”

Baca juga:

Menteri kemudian memerintahkan kepada bawahannya untuk menyiapkan kuda, satu untuk dirinya dan satu untuk Hasan. Setelah keduanya menaiki kuda, mereka berangkat menuju ke padang pasir. Setelah sampai, Hasan melihat sebuah tenda yang terbuat dari brokat Bizantium. Tenda itu diikat dengan tali sutra dan pancang-pancangnya yang menancap ke tanah terbuat dari emas. Hasan memerhatikan tenda itu dari kejauhan.

Tidak lama kemudian, datang sekelompok pasukan dengan persenjataan yang lengkap. Mereka lalu mengelilingi tenda tersebut, mengucapkan beberapa patah kata, dan lalu pergi. Kemudian setelahnya datang para ahli filsafat dan cerdik pandai yang jumlahnya hampir mencapai 400 orang. Mereka melakukan hal yang sama dengan para prajurit sebelumnya, mengucapkan beberapa patah kata, dan lalu pergi. Hasan merasa sangat keheranan melihat kejadian-kejadian itu, dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Apa maksud dari semua ini?”

Hasan lalu bertanya kepada Perdana Menteri. Menteri kemudian bercerita, bahwa dulu Kaisar memiliki seorang putra tampan yang menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan tidak seorang pun yang dapat menandinginya. Kaisar sangat sayang kepada putranya itu. Namun tanpa diduga-diduga, putranya jatuh sakit. Semua tabib, semahir apapun tidak dapat dapat menyembuhkannya. Di bawah tenda itu lah tempat sang putra terbaring sakit, dan di tempat itu pula dia akhirnya dimakamkan. Kini, setiap tahun orang-orang datang untuk menziarahi makamnya.

Kemudian sekelompok pasukan yang tadi pergi datang kembali, mereka berkata, “Wahai putra mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini terjadi di medan pertempuran, kami semua akan mengorbankan jiwa raga kami untuk menyelamatkanmu. Tetapi malapetaka yang menimpamu ini datang dari Dia yang tidak sanggup kami perangi dan tidak dapat kami tentang.” Setelah berkata demikian, mereka pun pergi kembali.

Setelahnya, tibalah giliran para ahli filsafat dan cerdik pandai, mereka berkata, “Malapetaka yang menimpa dirimu ini datang dari Dia yang tidak dapat kami lawan dengan ilmu pengetahuan, filsafat, dan tipu muslihat. Karena semua falsafah di atas muka bumi ini tidak berdaya menghadapi-Nya dan semua cerdik pandai hanya seperti orang-orang dungu di hadapan-Nya. Jika tidak demikian halnya, kami akan berusaha dengan mengajukan dalil-dalil yang tidak dapat dibantah oleh siapapun di alam semesta ini.” Setelahnya, sama seperti sebelumnya dengan para prajurit, mereka pun pergi kembali.[6]

Peziarah yang datang selanjutnya adalah orang-orang tua yang mulia dan perempuan-perempuan cantik yang berhiaskan emas dan permata. (PH)

Bersambung….

Catatan Kaki:

[1] Juan E. Campo, Encyclopedia of Islam (Facts On File, 2009), hlm 294.

[2] Farid al-Din Attar, Kisah para Wali (Thinkers Library: Kuala Lumpur, 1994), hlm 26.

[3] Juan E. Campo, Loc.Cit.

[4] Farid al-Din Attar, Loc.Cit.

[5] “Farīd al-Dīn ʿAṭṭār”, dari laman https://www.britannica.com/biography/Farid-al-Din-Attar, diakses 14 Januari 2019.

[6] Farid al-Din Attar, Kisah para Wali, Ibid., hlm 28-29.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*