Mozaik Peradaban Islam

Hagiografi Hasan al-Basri (5): Melamar Rabiah al-Adawiyah

in Tasawuf

Last updated on January 23rd, 2019 02:11 pm

“Ikatan pernikahan hanya berlaku untuk mereka yang memiliki keakuan…. Engkau harus meminta diriku kepada-Nya, bukan kepadaku,” kata Rabiah kepada Hasan.

Photo Ilustrasi: theglobalvariety/deviant art

Rabiah al-Adawiyah adalah seorang sufi wanita pertama yang melegenda. Dia dilahirkan di Basra, Iraq, pada era Dinasti Abbasiyah berkuasa. Ada beberapa versi tentang tahun kelahirannya, di antaranya ada yang menyebut tahun 717 M,[1] sementara versi lain mengatakan pada tahun 752 M.[2] Meskipun jarak usianya terpaut cukup jauh dengan Hasan al-Basri yang lahir pada tahun 642 M,[3] namun dalam banyak kisah, keduanya digambarkan pernah bertemu dan memiliki kedekatan sebagai sesama sufi. Artikel kali ini akan menampilkan kisah-kisah pertemuan Hasan al-Basri dengan Rabiah al-Adawiyah menurut Farid al-Din Attar.

Baca Juga:

 

Disukai Hewan

Suatu hari Rabiah pergi ke pegunungan. Di sana dia dikerumuni berbagai macam hewan liar seperti kawanan rusa, kambing gunung, ibeks (sejenis kambing, habitatnya di gunung, dan bertanduk sangat panjang), dan keledai liar. Hewan-hewan itu menatap Rabiah dan mendekatinya. Hasan yang juga sedang datang ke gunung melihatnya, dia kemudian menghampiri Rabiah. Begitu hewan-hewan itu melihat Hasan, mereka lari berhamburan karena ketakutan, meninggalkan Rabiah sendirian. Melihat hal itu, Hasan merasa kecewa.

“Mengapa mereka lari dariku, sementara engkau begitu akrab dengan mereka?” tanyanya kepada Rabiah.

“Apa yang sudah engkau makan hari ini?” kata Rabiah.

“Sedikit sup bawang.”

“Engkau telah memakan daging mereka,” kata Rabiah. “Mengapa mereka tidak lari ketakutan melihatmu?”[4]

 

Karamah

Pada hari lain Rabiah melewati rumah Hasan. Ketika itu Hasan sedang termenung di jendela, dia menangis dan air matanya jatuh ke pakaian Rabiah. Rabiah melihat ke atas, pada awalnya dia berpikir bahwa itu adalah hujan; kemudian, menyadari bahwa itu adalah air mata Hasan, dia menoleh padanya dan memanggilnya.

“Guru, tangisan ini adalah tanda kelesuan spiritual. Jagalah air matamu, jika tidak, di dalam dirimu akan menggelora samudra sehingga engkau tidak dapat lagi mengenal dirimu dan hanya melalui Raja yang maha perkasa engkau dapat menemukannya kembali,” kata Rabiah.

Kata-kata Rabiah membuat Hasan menderita, namun dia tetap diam.

Lalu suatu hari Hasan melihat Rabiah ketika dia sedang berada di dekat sebuah danau. Sambil melemparkan sajadahnya ke atas permukaan air, dia memanggil, “Rabiah, ke sini! Mari kita shalat dua rakaat di atasnya!”

“Hasan,” jawab Rabiah, “ketika engkau memperlihatkan karamahmu di depan orang-orang, semestinya itu adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh siapapun.”

Rabiah kemudian melemparkan sajadahnya ke udara, dan dia naik ke atasnya.

“Kemarilah Hasan, di mana orang-orang dapat melihat kita!” serunya.

Hasan, yang belum mencapai tingkatan seperti itu, tidak dapat berkata apa-apa. Rabiah berusaha menghiburnya.

“Hasan,” katanya, “Apa yang engkau lakukan juga dilakukan ikan, dan apa yang kulakukan juga dilakukan lalat. Urusan yang sebenarnya berada di luar kedua karamah ini. Seseorang harus menetapkan dirinya sendiri ke urusan yang lebih nyata.”[5]

 

Jari yang Bercahaya

Suatu malam, Hasan dengan dua atau tiga temannya pergi mengunjungi Rabiah. Rabiah tidak memiliki lentera. Hasan dan kawan-kawannya berpikir alangkah lebih baiknya jika di sana ada cahaya. Rabiah kemudian meniup jarinya, dan sejak malam itu hingga subuh, jari Rabiah bersinar  seperti lentera, dan mereka dapat duduk bersama dengan disinari oleh cahaya.

“Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana ini bisa terjadi?’ Aku akan menjawab, ‘Sama seperti tangan Musa.’ Jika mereka keberatan dan menyanggah, ‘Tetapi Musa adalah seorang nabi,’ aku akan menjawab, ‘Siapa pun yang mengikuti jejak Nabi dapat memiliki setitik kenabian,’ seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi sendiri, ‘Barangsiapa yang menolak hal-hal yang tidak berarti dari sesuatu yang haram, (maka dia) telah mencapai tingkat kenabian.’ Dia juga berkata, ‘Mimpi yang benar adalah satu per empat puluh dari kenabian,’,” kata Rabiah.[6]

 

Melamar Rabiah

Suatu waktu Rabiah mengirim Hasan tiga benda — sepotong lilin, sebuah jarum, dan sehelai rambut.

“Seperti lilin,” katanya. “Nyalakan dunia, dan dirimu terbakar. Jadilah seperti jarum, selalu bekerja meskipun tidak memiliki apa-apa. Ketika engkau telah melakukan dua hal ini, seribu tahun bagimu akan menjadi seperti sehelai rambut.”

“Apakah engkau ingin kita menikah?” tanya Hasan kepada Rabiah.

“Ikatan pernikahan hanya berlaku untuk mereka yang memiliki keakuan,” jawab Rabiah. “Saat ini keakuanku telah lenyap, karena aku telah menghilang dan hanya ada melalui Dia. Aku sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup dalam bayang-bayang kuasa-Nya. Engkau harus meminta diriku kepada-Nya, bukan kepadaku.”

“Bagaimana engkau menemukan rahasia ini Rabiah?” Tanya Hasan.

“Aku merelakan semua hal yang telah kuperoleh kepada-Nya,” jawab Rabiah.

“Bagaimana engkau mengenal-Nya?” tanya Hasan.

“Engkau lebih suka bertanya, tetapi aku lebih suka menghayati,” kata Rabiah.[7] (PH)

Bersambung ke:

Hagiografi Hasan al-Basri (6): Wafatnya Rabiah al-Adawiyah

Sebelumnya:

Hagiografi Hasan al-Basri (4): Dia yang Meminum Air Nabi

Catatan Kaki:

[1] Sophia Pandya, Rabia al-Adawiyya, dalam Juan E. Campo, Encyclopedia of Islam (Facts On File, 2009), hlm 578.

[2] Farid al-Din Attar, Muslim Saints and Mystics (Tadhkirat al-Auliya’), diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh  A. J. Arberry, (Omphaloskepsis: Iowa, 2000), hlm 29.

[3] Ibid., hlm 1.

[4] Ibid., hlm 36-37.

[5] Ibid., hlm 37-38.

[6] Ibid., hlm 38-39.

[7] Ibid., hlm 39.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*