Mozaik Peradaban Islam

Imam Abu Hanifah (4): Berguru Kepada para Imam Syiah

in Tokoh

Last updated on October 2nd, 2019 02:52 pm

Meski hari ini mazhab Hanafi yang dilahirkan oleh Abu Hanifah dikategorikan ke dalam Suni. Namun faktanya, Abu Hanifah pernah belajar kepada para Imam Syiah, yakni Muhammad al-Baqir, Jafar as-Sadiq, dan Zaid bin Ali.

Foto Ilustrasi: Ijtihad Network

Abu Hanifah adalah orang yang belajar kepada banyak kalangan di dalam Dunia Islam, tidak terbatas kepada suatu sekte tertentu. Selagi kecil, dia dilaporkan pernah bertemu dengan beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW, utamanya adalah Anas bin Malik, yang diketahui memiliki umur paling panjang dibanding sahabat Nabi lainnya. Meski demikian, Abu Hanifah pada waktu itu masih terlalu kecil untuk dapat belajar kepada salah satu sahabat.[1]

Pada artikel sebelumnya, kita telah menyebutkan bahwa Abu Hanifah selama delapan belas tahun penuh berada di bawah bimbingan Hammad bin Abi Sulaiman. Namun pada kenyataannya, Hammad bukanlah satu-satunya guru bagi Abu Hanifah. Muhammad Abu Zahra, seorang ulama Hanafi asal Mesir, pengajar teologi di Universitas al-Azhar, dan juga professor Hukum Islam di Universitas Kairo,[2] menerangkan, bahwa Abu Hanifah semasa hidupnya belajar di bawah orang-orang yang sangat beragam, baik itu dari Suni maupun Syiah.[3]  

Khusus mengenai Syiah, Abu Hanifah dilaporkan telah belajar kepada tokoh-tokoh terkemuka Syiah, yakni Zaid bin Ali (wafat 122 H / 740 M), cucu dari Husein bin Ali, putra dari Ali Zain al-Abidin (Imam ke-4 Syiah), dan peletak pondasi mazhab Zaidiyah; Muhammad al-Baqir (wafat 114 H / 732 M), Imam ke-5 Syiah; dan Jafar as-Sadiq (wafat 148 H / 765 M), Imam ke-6 Syiah. Dari mereka semua, Abu Hanifah dilaporkan telah dianggap memenuhi syarat untuk dapat melakukan ijtihad (penalaran hukum secara independen).[4]

Dan memang, menurut Abu Zahra, Abu Hanifah secara mencolok dapat ditemukan di pusat-pusat lingkaran studi Syiah di Kufah. Dia dilaporkan belajar di lingkaran studi Kaysaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan Ismailiyah. Di antara semuanya, Abu Hanifah dilaporkan paling menghormati studi hukum Islam yang diajarkan oleh Zaid bin Ali. Bahkan Wilferd Madelung, penulis buku The Succession to Muhammad, menyimpulkan, bahwa terdapat banyak kesamaan antara fikih Zaidiyah dan Hanafiyah. Meski demikian, Abu Zahra justru berpendapat, lebih banyak pada fikih Maliki lah kesamaannya dengan Zaidiyah.[5]

Di luar persoalan hukum Islam, Abu Hanifah juga dilaporkan memiliki simpati yang besar terhadap gerakan politik Alawi, yakni sebuah gerakan politik yang memiliki pemikiran bahwa yang paling berhak untuk memimpin umat Islam adalah para keturunan Ali bin Abi Thalib. Seluruh sekte di dalam Syiah (Kaysaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan Ismailiyah) bisa masuk ke dalam kategori ini.[6]

Abu Hanifah dilaporkan sangat menghormati para Imam Syiah Imamiyah, yakni Muhammad al-Baqir dan Jafar as-Sadiq. Namun, seperti yang diamati oleh Abu Zahra, meskipun Abu Hanifah berpihak kepada gerakan politik Alawi di tengah suasana di Kufah yang sangat Syiah, dia tidak merasa dirinya terikat untuk harus mengikuti pendapat hukum para Imam Syiah, dan juga dia tidak menganggap mereka sebagai satu-satunya sumber pengetahuan agama. Abu Hanifah memandang bahwa pendapat hukum dari para Imam Syiah hanya sebagai suatu produk ijtihad.

Meski demikian, lebih dari segalanya, sikap Abu Hanifah terhadap keluarga Nabi Muhammad, para sahabat, dan pandangan atas legitimasi politik, dia paling dekat terhadap orang-orang Zaidiyah. Dan karena hal inilah kelak dia akan terseret bersama-sama dengan pemberontakan yang diusung oleh Zaid bin Ali terhadap Dinasti Umayyah.[7]

Latar Belakang Situasi Politik

Pada masa Abu Hanifah hidup, luka-luka yang dialami oleh Muslim belum cukup pulih setelah terjadinya peristiwa Karbala, yakni dibunuhnya Husein bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad SAW, oleh orang-orang dari Bani Umayyah. Politik tangan besi kemudian diadopsi oleh gubernur-gubernur Umayyah, yakni Hajjaj dan Ibnu Ziyad, di Hijaz dan Irak untuk membungkam para kabilah Arab.

Kemudian, karena Bani Umayyah mengakuisisi kekayaan negara dan menggunakannya untuk kepentingan golongan mereka sendiri, masyarakat menjadi memandang negatif kepada mereka. Simpati kepada Bani Umayyah secara perlahan mulai menguap. Terlebih, politik tiran Hajjaj dan Ibnu Ziyad juga terus dilakukan terhadap Bani Hasyim (kabilah Arab yang masih memiliki hubungan kekeluargaan yang lebih dekat dengan Nabi Muhammad).

Di tengah situasi seperti ini, beberapa keluarga Bani Hasyim mulai menyusun rencana untuk mengambil alih pemerintahan dari Bani Umayyah, yakni Alawi dan Abbasi. Dua keluarga ini menyusun rencana dalam skala besar untuk melakukan revolusi penggulingan Bani Umayyah. Dari Alawi, Zaid bin Ali, yang merupakan guru dari Abu Hanifah, tampil terdepan untuk memimpin revolusi.[8] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] U. F. ʿAbd-Allāh, “Abū Ḥanīfa” (Encyclopædia Iranica), dari laman http://www.iranicaonline.org/articles/abu-hanifa-noman-b, diakses 28 September 2019.

[2] “Abu Zahra, Muhammad”, dari laman http://www.oxfordislamicstudies.com/article/opr/t125/e41, diakses 28 September 2019.

[3] U. F. ʿAbd-Allāh, Loc.Cit.

[4] Karim D. Crow, Abū Ḥanīfa Nu‘mān ibn Thābit, dalam Alexander Wain dan Mohammad Hashim Kamali (ed), The Architects of Islamic Civilisation (International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia, 2017), hlm 42.

[5] U. F. ʿAbd-Allāh, Loc.Cit.

[6] “Alids”, dari laman http://www.oxfordislamicstudies.com/article/opr/t125/e122, diakses 28 September 2019.

[7] U. F. ʿAbd-Allāh, Loc.Cit.

[8] Akbar Shah Najeebabadi, The History Of Islam; Volume Two (Riyadh: Darussalam, 2000), hlm 230.

2 Comments

    • Yang mengatakan demikian adalah ulama Hanafi itu sendiri, sebagaimana yg disebut di dalam artikel, namanya Muhammad Abu Zahra, seorang ulama Hanafi asal Mesir.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*