Mozaik Peradaban Islam

Islam dan Perang Dunia I (12): Pemberontakan Bangsa Arab (3)

in Monumental

“Progres pemberontakan berlangsung dengan cepat, hanya sekitar tiga bulan dari sejak pecahnya pemberontakan Husein telah memproklamasikan dirinya sebagai raja bangsa Arab, dan pada bulan Desember 1916 dia telah diakui oleh Inggris sebagai penguasa independen.”

–O–

Pemberontakan Arab dimulai pada 10 Juni 1916, ketika pasukan Husein bin Ali, sharif Mekkah, menyerang garnisun Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman) di Mekkah. Pada bulan September sebagian besar kota-kota utama di Hijaz sudah berada di tangan Husein, dengan pengecualian Madinah, yang hanya dikepung selama peperangan berlangsung. Sebagai pembenaran atas pemberontakannya, Husein mempropagandakan bahwa gerakannya merupakan suatu bentuk tanggung jawab atas persatuan Islam. Sadar akan posisinya yang rapuh dalam memimpin pemberontakan melawan Kesultanan Ottoman, kekhalifahan yang sah, dia mencoba membangun opini bahwa tindakannya dilakukan demi kepentingan agama Islam.[1]

Pasukan Husein bin Ali dalam pemberontakan bangsa Arab. Photo: Library of Congress

Husein menyerukan kepada seluruh Muslim yang berada di wilayah Ottoman untuk bergabung dengannya untuk menggulingkan rezim Committee of Union and Progress (CUP) – atau biasa disebut Young Turks (Turki Muda), yang, katanya, terdiri dari sekelompok petualang ateis yang telah mengabaikan Alquran dan syariat. Sejak tahun 1909 CUP telah menjadi penguasa sesungguhnya di tubuh Kesultanan Ottoman, meskipun secara formal di sana masih ada seorang sultan, yang mana posisinya hanya sebatas sebagai simbol saja.[2] Husein cukup berhati-hati untuk tidak mengganggu gugat kesakralan khalifah (sultan) yang sah, sebaliknya, Husein mendesak dan mengajak umat Islam untuk bangkit dan membebaskan khalifah mereka dari cengkeraman CUP. Jenis propaganda atas nama Islam ini terus digaungkan selama dua tahun masa pemberontakannya.[3]

Jadi, pemberontakan Husein pada dasarnya menggunakan dua sentimen: Kearaban dan Islam. Sebagaimana sempat disinggung pada artikel terdahulu, sejarawan umumnya sepakat bahwa di luar segala macam propaganda yang dilakukan Husein, dia sebenarnya memiliki ambisi tersendiri. Dalam konteks kearaban, Husein bukan seorang nasionalis dan tidak pernah berpikir dalam kerangka ideologi Arabisme. Apa yang dilakukan olehnya tidak lain hanya merupakan ambisi kedinastian dengan menggunakan statusnya sebagai syarif dan amir kota Mekkah. Dia memimpikan untuk dapat duduk di singgasana kerajaannya sendiri dan menurunkannya kelak kepada anak keturunannya.[4] Dalam konteks keislaman, di mana Husein mengklaim sebagai keturunan Rasulullah, juga ditolak oleh sejarawan, menurut mereka Islam hanya dipolitisir saja, bukan motif Husein yang sesungguhnya.[5]

Progres pemberontakan Husein berlangsung dengan cepat, pada bulan Agustus 1916 meskipun posisinya sebagai syarif Mekkah digantikan oleh Haidar, salah seorang pejabat Ottoman, namun pada bulan Oktober, hanya sekitar tiga bulan dari sejak pecahnya pemberontakan, Husein telah memproklamasikan dirinya sebagai raja Arab, dan pada bulan Desember dia diakui oleh Inggris sebagai penguasa independen. Menanggapi pemberontakan ini, hanya sedikit yang dapat dilakukan oleh Ottoman. Yang mereka lakukan hanya berusaha mencegah agar berita pemberontakan ini tidak meluas, karena apabila itu terjadi dikhawatirkan dapat melemahkan semangat pasukan Ottoman yang sedang bertempur di tempat lainnya dan dapat mendorong bangkitnya faksi-faksi Arab anti-Turki. Selain itu, akan menjadi cukup aneh apabila Ottoman meminta bantuan Jerman untuk memerangi Husein, bagaimana mungkin Ottoman meminta bantuan kekuatan kafir untuk melindungi tempat-tempat suci Islam. Opsi itu sama sekali bukan pilihan bagi Ottoman.[6]

Meskipun dukungan diam-diam untuk pemberontakan dapat ditemui di beberapa bagian Suriah, namun seruan pemberontakan Husein umumnya gagal menghasilkan respon yang terorganisir di provinsi-provinsi berbahasa Arab. Memang, banyak juga tokoh masyarakat Arab yang menuduh Husein sebagai pengkhianat dan mengutuk tindakannya sebagai upaya memecah belah Kesultanan Ottoman pada saat persatuan justru paling dibutuhkan. Pemberontakan Arab bukan merupakan pemberontakan yang populer, sebaliknya, masyarakat Arab menilai bahwa itu hanya gerakan sempit salah satu suku Arab yang didominasi oleh Bani Hasyim. Tetapi bagaimanapun, ketika pemberontakan mencapai puncaknya dengan penaklukan Damaskus pada tahun 1918, bangsa Arab di sana tetap menyambutnya dengan gempita, dan itu cukup untuk menjadi dasar untuk klaim bahwa Suriah merupakan bagian dari Arab.[7]

Pemberontakan Arab dimulai dari Hijaz, lalu melaju ke kota pelabuhan Aqaba (ditaklukan pada tahun 1917), dan puncaknya serangan ke Damaskus pada tahun 1918 dengan dibantu pasukan sayap kanan Jenderal Allenby dari Inggris. Pasukan Husein dipimpin oleh putranya, Faisal, yang dibantu oleh sekelompok mantan perwira Ottoman Irak dan kontingen kecil penasihat militer Inggris, di antaranya Kapten T.E Lawrence (Lawrence of Arabia). Faisal pada umumnya mencoba untuk menghindari pertempuran langsung dengan Ottoman dan lebih berkonsentrasi untuk merusak jalur komunikasi dan suplai musuh. Ketika dia memimpin pasukannya masuk ke Damaskus pada 1 Oktober 1918, itu menjadi penanda puncak dari pemberontakan bangsa Arab. Faisal segera mengatur administrasi baru, dengan keyakinan Suriah akan diberikan kepada ayahnya, sebagaimana telah dijanjikan oleh Inggris.[8] (PH)

Bersambung ke:

Islam dan Perang Dunia I (13): Pemberontakan Bangsa Arab (4)

Sebelumnya:

Islam dan Perang Dunia I (11): Pemberontakan Bangsa Arab (2)

Catatan Kaki:

[1] William L. Cleveland dan Martin Bunton, A History of the Modern Middle East (Westview Press, 2009), hlm 160-161.

[2] Caroline Finkel, Osman’s Dream: The Story of the Ottoman Empire 1300-1923 (Basic Books: 2006), hlm 265.

[3] William L. Cleveland dan Martin Bunton, Ibid., hlm 161.

[4] Ibid.

[5] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 284.

[6] Caroline Finkel, Ibid., hlm 267.

[7] William L. Cleveland dan Martin Bunton, Loc.Cit.

[8] Ibid.