Mozaik Peradaban Islam

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq (14): Pendakwah Pertama

in Tokoh

Last updated on May 15th, 2020 03:08 pm

Aisyah RA meriwayatkan, “Abu Bakar berdiri di antara orang-orang, berbicara (berdakwah) kepada mereka, sehingga dia adalah pendakwah pertama yang mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Foto ilustrasi: Maryam Essa/Pinterest

Sekarang mari kita tinggalkan perdebatan di antara para ulama terdahulu mengenai siapa laki-laki yang pertama masuk Islam. Yang jelas, siapa pun yang masuk Islam terlebih dahulu, baik itu Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, atau pun Zaid bin Haritsah, umumnya semua sepakat bahwa Abu Bakar termasuk orang yang masuk Islam pada masa-masa awal kenabian.

Setelah Abu Bakar masuk Islam, dalam kunjungan berikutnya untuk menemui Rasulullah SAW, dia mengajak lima orang bangsawan Quraisy lainnya, mereka adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam,  Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, dan Talhah bin Ubaidillah.

Kelima orang ini berhasil diyakinkan oleh Abu Bakar untuk menerima ajaran Islam, dan mereka datang ke Rasulullah untuk melakukan pem-baiat-an kepadanya. Kelima tokoh ini masuk Islam sekaligus pada saat itu juga.

Masuk Islamnya tokoh-tokoh bangsawan ini mendatangkan pengaruh terhadap orang-orang lainnya yang belum masuk Islam. Beberapa yang lainnya datang secara bertahap ke Rasulullah. Orang-orang yang belum masuk Islam ini berkata, “Muhammad dan Abu Bakar? Demi Allah, tak mungkin kedua orang itu akan berkumpul di atas jalan yang sesat.”[1]

Pada kesempatan yang berikutnya, Abu Bakar berhasil mengajak Utsman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Abu Salama (Abdullah bin Abdul-Asad), dan Arqam bin Abil Arqam, mereka semua juga masuk Islam.[2]

Ibnu Asakir meriwayatkan, bahwa Aisyah berkata:

Ketika para sahabat Nabi SAW berkumpul, dan mereka adalah tiga puluh delapan orang, Abu Bakar mendesak Rasulullah SAW untuk (berdakwah secara) terbuka dan (kepada) khalayak.

Beliau berkata, “Abu Bakar, kita (hanya) sedikit.”

Abu Bakar tidak berhenti mendesak Rasulullah sampai Rasulullah menjadikannya (dakwah) terbuka.

Para Muslim pergi ke setiap sudut masjid (Makkah), setiap orang (berdakwah) di antara saudara-saudara mereka sendiri, dan Abu Bakar berdiri di antara orang-orang, berbicara (berdakwah) kepada mereka, sehingga dia adalah pendakwah pertama yang mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasul-Nya.

Para penyembah berhala menyerang Abu Bakar dan kaum Muslim, dan mereka memukuli mereka, di setiap sudut masjid, dengan sangat kejam.[3]

Mengenai peran Abu Bakar dari sejak masuk Islam hingga wafatnya Nabi, as-Suyuti menuturkan:

Para ulama mengatakan bahwa Abu Bakar menemani Nabi SAW dari sejak dia masuk Islam sampai kematiannya, tidak meninggalkannya baik dalam perjalanan atau pada waktu menetap, kecuali untuk apa yang beliau SAW memberinya izin untuk pergi, seperti pada saat ibadah haji dan berperang.

Dia hadir di dalam semua pertempuran bersamanya, hijrah dengannya, meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia adalah teman dekatnya di gua (Tsur).

Dia adalah yang dimuliakan Dia, berfirman, “Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’.” (QS At-Taubah [9]: 40)

Dia berjanji untuk membantu Rasulullah SAW lebih dari sekali. Dia memberikan jasa yang besar dalam pertempuran, dan tegas pada Perang Uhud dan Perang Hunain ketika semua orang telah melarikan diri.[4]

Mengenai keteguhan Abu Bakar dalam berdakwah, marilah kita simak penuturan dari sejarawan Muhammad Husain Haekal:

Tetapi apa yang menghilangkan kekaguman kita tidak mengubah penghargaan kita atas keberaniannya tampil ke depan umum dalam situasi ketika orang masih serba menunggu, ragu, dan sangat berhati-hati.

Keberanian Abu Bakar ini patut sekali kita hargai, mengingat dia pedagang, yang demi perdagangannya diperlukan perhitungan guna menjaga hubungan baik dengan orang lain serta menghindari konfrontasi dengan mereka, yang akibatnya berarti menentang pandangan dan kepercayaan mereka. Ini dikhawatirkan kelak akan berpengaruh buruk terhadap hubungan dengan para relasi itu.

Berapa banyak orang yang memang tidak percaya pada pandangan itu dan dianggapnya suatu kepalsuan, suatu cakap kosong yang tak mengandung arti apa-apa, lalu dengan sembunyi-sembunyi atau berpura-pura berlaku sebaliknya hanya untuk mencari selamat, mencari keuntungan di balik semua itu, menjaga hubungan dagangnya dengan mereka.

Sikap munafik begini kita jumpai bukan di kalangan awamnya, tapi di kalangan tertentu dan kalangan terpelajarnya juga. Bahkan akan kita jumpai di kalangan  mereka yang menamakan diri pemimpin dan katanya hendak membela kebenaran. Kedudukan Abu Bakar yang sejak semula sudah dikatakan oleh Rasulullah itu, patut  sekali dia mendapat penghargaan, patut dikagumi.

Usaha Abu Bakar melakukan dakwah Islam itulah yang patut dikagumi. Barangkali ada juga orang yang berpandangan semacam dia, merasa sudah cukup puas dengan mempercayainya secara diam-diam dan tak perlu berterang-terang di depan umum agar perdagangannya selamat, berjalan lancar. Dan barangkali Muhammad pun merasa cukup puas dengan sikap demikian itu dan sudah boleh dipuji.

Tetapi Abu Bakar dengan menyatakan terang-terangan keislamannya itu, lalu mengajak orang kepada ajaran Allah dan Rasulullah dan meneruskan dakwahnya untuk meyakinkan kaum Muslimin yang mula-mula untuk mempercayai Muhammad dan mengikuti ajaran agamanya, inilah yang belum pernah dilakukan orang; kecuali mereka yang sudah begitu tinggi jiwanya, yang sudah sampai pada tingkat membela kebenaran demi kebenaran.

Orang demikian ini sudah berada di atas kepentingan hidup pribadinya sehari hari. Kita lihat, dalam membela agama, dalam berdakwah untuk agama, segala kebesaran dan kemewahan hidup duniawinya dianggapnya kecil belaka.

Demikianlah keadaan Abu Bakar dalam persahabatannya dengan Muhammad, sejak dia memeluk Islam, hingga Rasulullah berpulang ke sisi Allah dan Abu Bakar pun kemudian kembali ke sisi-Nya.[5] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Khalid Muhammad Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, diterjemahkan oleh Mahyuddin Syaf (CV. Diponegoro: Bandung, 1984), hlm 52.

[2] Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah (Vol 3, hlm 29), dikutip dalam  Hazrat Maulana Muhammad Yusuf Kandehelvi, The Lives of The Sahabah (Hayatus Sahabah) Vol.1, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mufti Afzal Hossen Elias (Zamzam Publisher: Karachi, 2004) hlm 84-85. Ada sedikit versi yang berbeda dengan Khalid Muhammad Khalid, Ibnu Katsir memasukkan Abdurrahman bin Auf ke dalam rombongan kedua yang dibawa oleh Abu Bakr menemui Rasulullah.

[3] Jalal ad-Din as-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul The History of the Khalifahs who took the right way oleh Abdassamad Clarke (Ta-Ha Publishers Ltd: Turki, 1995), hlm 14.

[4] Ibid., hlm 11-12.

[5] Muhammad Husain Haekal, Abu Bakar As-Siddiq: Sebuah Biografi, diterjemahkan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia oleh Ali Audah (Litera Antar Nusa: Jakarta, 2003, Cet. Ketiga), hlm 5.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*