Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Nuh (1): Rasul Pertama

in Studi Islam

Last updated on August 19th, 2019 02:26 pm

Pada saat air bah tiba, seorang ibu lari membawa anaknya ke puncak gunung. Hingga air itu naik sampai ke lehernya, dia mengangkat anaknya dengan tangannya. Rasulullah berkata, “Jika Allah hendak mengampuni salah satu dari mereka, itu akan diberikan kepada ibu dari anak kecil itu.”[1]

Foto Ilustrasi: Biologos

Di dalam ajaran Islam, Nabi Nuh AS dianggap sebagai salah satu tokoh kunci yang telah mendirikan peradaban baru bagi umat manusia. Bukan hanya nama dan kisahnya sering disebutkan di dalam banyak ayat di berbagai surat dalam Alquran, bahkan nama “Nuh” itu sendiri diabadikan dalam satu surat yang memiliki 28 ayat. Selain itu, dia juga dipertimbangkan sebagai Rasul pertama yang dikirim oleh Allah SWT untuk manusia.[2]

Sebelum melanjutkan kisahnya, penulis akan menyatakan sebuah disclaimer terlebih dahulu. Belajar dari pengalaman sebelumnya ketika menulis kisah tentang Yehezkiel (Baca: Siapa Yehezkiel dalam Islam? (1): Nabi Yahudi) yang juga telah diterbitkan oleh Gana Islamika, tulisan tersebut ternyata menjadi pembahasan di dalam media sosial, dan ada yang berkomentar, menyatakan bahwa isinya merupakan dongeng karangan belaka.

Dengan demikian, penulis akan memberikan informasi terlebih dahulu perihal penggunaan referensi dalam artikel ini. Berikut ini referensi-referensi utama yang akan digunakan penulis: (1) Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah para Nabi dan Raja)karya Al-Tabari, dan (2) Qisas Al-Anbiya (Kisah Para Nabi) karya Ibnu Katsir. Kedua penulis kitab tersebut telah mendapatkan tempat yang terhormat dalam Dunia Islam, dan karya mereka dianggap sebagai karya klasik di dalam Islam.

Selain itu, karena kisah dan nama Nabi Nuh banyak disebutkan di dalam Alquran, maka penulis juga akan menggunakan kitab-kitab tafsir, yaitu: (1) Tafsir al-Jalalayn (Tafsir dari dua Jalal) karya Jalal ad-Din al-Maḥalli dan Jalal ad-Din as-Suyuti, dan (2) Tafsir Al-Mishbah (Tafsir Lentera/Penerang) karya penulis dari dalam negeri, Quraish Shihab.

Seluruh kisah yang akan disampaikan di dalam artikel ini sepenuhnya akan bersandar kepada referensi utama yang telah disebutkan di atas, jadi nanti isinya bukan merupakan karangan atau penafsiran penulis. Adapun mengenai kebenaran kisahnya, penulis serahkan sepenuhnya kepada pembaca, dan untuk penelitian lebih lanjut tentunya dibutuhkan tangan-tangan yang lebih ahli dalam ilmu hadis dan tafsir Alquran. Adapun informasi-informasi pendukung lainnya dapat dilihat di dalam catatan kaki. Selamat menyimak!

Kenapa Nuh Diutus

Sepeninggal Nabi Adam AS, umat manusia tadinya merupakan satu bangsa.[3] Mereka adalah pengikut hukum-hukum Allah yang diturunkan melalui Nabi Adam dan dipelihara oleh nabi-nabi setelahnya. Namun kemudian, seiring dengan terus bertambah banyaknya manusia, mereka menjadi memiliki pandangan keagamaan yang berbeda. Manusia terbagi ke dalam dua golongan, yakni mereka yang taat terhadap hukum Allah, dan mereka yang melanggarnya.[4]

Mereka yang melanggar di antaranya melakukan perbuatan-perbuatan seperti melakukan berbagai kejahatan, minum anggur, dan membiarkan diri mereka terlarut dengan alat-alat musik sehingga mereka lupa kepada Allah.[5] Perpecahan golongan manusia ini awalnya terjadi pada masa Nabi Idris, ketika Raja Bewarasb di tanah Persia berkuasa. Beberapa perkataan Nabi Adam sebetulnya telah sampai kepadanya, namun ketimbang mengamalkannya, dia malah menggunakannya untuk ilmu sihir.[6]

Ketika Bewarasb menginginkan sesuatu dari mana saja di wilayahnya, atau ketika dia menyukai kuda atau seorang wanita, dia akan meniupkan kata-kata Adam ke buluh emas (pipa) yang dia miliki, dan semua yang dia inginkan akan datang kepadanya. Kebiasaan inilah yang kemudian menjadi tradisi orang-orang Yahudi dalam meniup shofar.[7] Shofar adalah terompet yang terbuat dari tanduk hewan dan biasa digunakan pada tahun baru Yahudi untuk membangkitkan semangat. Tradisi ini dilaporkan masih tetap dilakukan sampai masa kini dan telah berlangsung selama ribuan tahun.[8]

Ketika Nuh dilahirkan, Bewarasb masih hidup, dan dia dilaporkan telah menyembah berhala dan menyebut mereka sebagai Tuhannya. Hal ini terus dia lakukan sampai sembilan abad berikutnya. Dan bukan hanya untuk dirinya, tradisi penyembahan berhala ini juga terus menerus diturunkan oleh Bewarasb dari generasi ke generasi.[9] Dan untuk alasan inilah kemudian Allah mengutus Nuh untuk memberi peringatan kepada mereka.[10] (PH)

Bersambung ke:

Catatan Kaki:


[1] Diriwayatkan oleh Aisyah dalam Sirah Ibnu Hisyam, dalam Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 356.

[2] Al-Tabari, Ibid., hlm 353.

[3] Penjelasan tentang Surat Albaqarah ayat 213 oleh Ibnu Abbas dan Qatadah bin an-Numan, dalam Al-Tabari, Ibid.

[4] Ibid., hlm 354.

[5] Ibid.

[6] Ibid., hlm 344.

[7] Ibid.

[8] “Blowing The Shofar On The Jewish New Year”, dari laman https://www.huffpost.com/entry/jewish-new-year-blowing-the-shofar_n_1882971, diakses 15 Agustus 2019.

[9] Al-Tabari, Op.Cit., hlm 348. Lihat juga Tafsir al-Jalalayn Surat Al-Baqarah ayat 14, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dr Feras Hamza, D.Phil (2017, Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought, Amman, Jordan), dalam www.altafsir.com.   

[10] Lihat catatan kaki No.2.

2 Comments

  1. Mau nanya dong, maksudnya Nabi Nuh disini sebagai Nabi pertama karena beliau lah utusan pertama untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Hal ini berbeda dgn kondisi nabi Adam yg beliau diutus untuk membentuk sebuah bangsa?

    • Iya maksudnya sebelum Nabi Nuh sudah ada nabi-nabi lain sebelumnya, tapi mereka tidak diutus untuk berdakwah terhadap suatu kaum, inilah yang dimaksud dengan rasul. Ulama klasik yang berpendapat demikian adalah Al-Tabari, sementara ulama masa kini adalah Quraish Shihab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*