Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Nuh (2): Kelahiran Nuh

in Studi Islam

Last updated on August 20th, 2019 01:25 pm

Ibnu Abbas meriwayatkan, “Ada sepuluh generasi antara Nuh dan Adam, seluruhnya adalah pengikut hukum agama yang benar. Kemudian mereka berselisih dan Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar baik dan pemberi peringatan.”

Ilustrasi penyembahan berhala. Sumber: BibleStudyTools

Kisah tentang Nabi Nuh tidak hanya dimiliki oleh Islam saja, agama-agama Samawi lainnya, yakni Yahudi dan Nasrani, juga memiliki kisahnya, dan tentu saja dengan versi yang detailnya berbeda. Berikut ini penulis akan mengutip sebagian kisahnya dari Alkitab Kejadian, Bab 6, Ayat 9-14:

“Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.

“Berfirmanlah Allah kepada Nuh: ‘Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam.’[1]

Bukan hanya agama Samawi saja, bahkan Hindu juga memiliki kisahnya. Dalam mitologi India, Nuh dikenal dengan nama Manu, yakni manusia pertama. Sementara itu dalam Weda, Kitab Suci Hindu, Manu dikenal sebagai pelaku pengorbanan pertama. Dia juga dikenal sebagai raja pertama, dan sebagian besar penguasa pada abad pertengahan di India melacak silsilah mereka kembali kepada Manu, baik melalui putranya (garis keturunaan surya) ataupun putrinya (garis keturunan bulan).

Dalam kitab Hindu lainnya, Shatapatha Brahmana, Manu dikisahkan diberi peringatan oleh seekor ikan, bahwa banjir akan menghancurkan seluruh umat manusia. Karena itu dia membangun perahu, seperti yang telah disarankan oleh sang ikan. Dan ketika banjir datang, dia mengikat perahunya ke tanduk sang ikan, dan dengan aman dia dibawanya ke tempat peristirahatan di puncak gunung.[2]

Kapan Nabi Nuh Dilahirkan?

Nuh dilahirkan pada masa yang tidak terlalu jauh dengan Nabi Adam. Mengutip dari Ahli Kitab Taurat, al-Tabari mengatakan bahwa Nuh dilahirkan 126 tahun setelah kematian Nabi Adam.[3] Meskipun dikatakan dekat, namun dalam hitungan tahun, masa dari sejak Nabi Adam diciptakan (atau sejak dia dibuang ke bumi) hingga kematiannya terpaut seribu tahun. Nabi Muhammad SAW berkata, “Kehidupan Adam adalah seribu tahun.”[4] Jika dijumlahkan, maka Nuh lahir 1.126 tahun setelah Nabi Adam diciptakan.

Dalam riwayat lainnya, Rasulullah berkata, “Periode antara Adam dan Nuh adalah sepuluh abad.”[5] Masih terkait hal ini, Ibnu Abbas meriwayatkan, “Ada sepuluh generasi antara Nuh dan Adam, seluruhnya adalah pengikut hukum agama yang benar. Kemudian mereka berselisih dan Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar baik dan pemberi peringatan.”[6]

Ibnu Katsir kemudian mengelaborasinya lebih jauh, menurutnya silsilah dari Nabi Nuh adalah: Nuh bin Lamik, bin Matushalakh, bin Idris, bin Yard, bin Mahlabil, bin Qinan, bin Yanish, bin Syits, bin Adam.[7] Ibnu Abbas mengatakan, usia Lamik bin Matushalakh, ayah Nuh, ketika Nuh dilahirkan adalah 82 tahun.[8]

Taurat menggambarkan masa-masa ketika Nuh dilahirkan. Ketika Nuh mencapai usia dewasa, saat itu dia masih belum menjadi Rasul, Lamik bin Matushalakh, berkata kepadanya, “Engkau tahu, bahwa tidak ada seorang pun selain kita yang tetap di tempat ini, tetapi jangan merasa kesepian dan jangan mengikuti bangsa yang berdosa!”[9]

Lalu dosa apakah yang dimaksud? Di dalam artikel sebelumnya kita telah mengulas, bahwa umat Nabi Nuh telah menyembah berhala yang mereka anggap sebagai Tuhan. Ibnu Katsir mengatakan bahwa mereka percaya bahwa tuhan-tuhan ini akan membawakan mereka kebaikan, melindungi mereka dari kejahatan, dan menyediakan semua kebutuhan mereka.

Mereka memberi nama-nama berhala mereka dengan nama seperti Waddan, Suwaan, Yaghutha, Yaauga, dan Nasran. Masing-masing dari berhala ini dianggap memiliki keistimewaan tersendiri, seperti keperkasaan lelaki, kemampuan berubah-ubah, keindahan, tenaga yang sangat besar, kecepatan, ketajaman penglihatan, dan pengetahuan yang dalam.[10]

Terkait para berhala ini, Alquran mengabadikannya dalam sebuah ayat, “Dan mereka (umat Nabi Nuh) berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.’.” (Q.S 71:23).[11]

Namun siapakah sebenarnya tuhan-tuhan tersebut? Ternyata dulunya mereka adalah manusia. Hal ini akan dikisahkan dalam seri selanjutnya. (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] “Kejadian 6 – Alkitab Terjemahan Baru”, dari laman http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=1&c=6, diakses 19 Agustus 2019.

[2] Encyclopaedia Britannica, “Manu”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Manu, diakses 19 Agustus 2019.

[3] Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 347.

[4] Riwayat dari Ibnu Abbas, dalam Al-Tabari, Ibid., hlm 328.

[5] Sahih Bukhari dalam Ibnu Katsir, Qisas Al-Anbiya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Mustapha Geme’ah (Darussalam: Riyadh, e-book version), Chpater 3, Prophet Nuh (Noah).

[6] Al-Tabari, Op.Cit., hlm 353.

[7] Ibnu Katsir, Loc.Cit.

[8] Al-Tabari, Op.Cit., hlm 348.

[9] Ibid., hlm 347.

[10] Ibnu Katsir, Loc.Cit.

[11] Surat Nuh Ayat 23, lihat Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Vol 14 (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hlm 470-471.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*