Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Nuh (3): Waddan, Berhala Pertama Umat Manusia

in Studi Islam

Last updated on August 22nd, 2019 01:29 pm

Iblis berkata, “Aku melihat kalian bersedih karena kematian orang ini. Bolehkan aku membuat patung yang menyerupai dia?”

Foto ilustrasi, patung Światowid ze Zbrucza, ditemukan di dasar sungai di Ukraina pada tahun 1848. Ia diperkirakan dibuat pada abad ke-9 hingga 8 sebelum masehi. Foto: Ancient Origins

Dahulu kala, jauh hari sebelum masa Nabi Nuh, terdapat seorang pria yang bernama Waddan. Dia adalah seorang saleh yang berbudi baik dan sangat dicintai oleh para pengikutnya. Suatu waktu Waddan meninggal. Dengan diliputi kesedihan, rakyatnya kemudian mengubur jasad Waddan di tanah Babilonia (sekarang di Irak).

Di tengah suasana duka yang begitu mendalam, Iblis melihat sebuah kesempatan untuk memperdayai manusia. Dia kemudian mengubah wujudnya ke dalam bentuk manusia. Dia menghampiri orang-orang yang sedang bersedih itu, lalu berkata, “Aku melihat kalian bersedih karena kematian orang ini. Bolehkan aku membuat patung yang menyerupai dia (Waddan), yang mana nantinya bisa diletakkan di tempat pertemuan kalian, agar kalian bisa mengingatnya?”

Mereka menjawab, “Silakan.”

Demikianlah, Iblis lalu membuat patung Waddan, lalu orang-orang meletakkan patung tersebut di tempat pertemuan mereka. Setelah diletakkan di sana, manakala orang-orang teringat akan Waddan, mereka begitu antusias untuk memandangi patung Waddan.

Melihat antusiasme orang-orang, lalu Iblis menawari mereka untuk membuat patung lagi, “Bolehkan aku membuatkan kembali patung dirinya untuk disimpan di rumah kalian masing-masing, sehingga dia (Waddan) akan berada di rumah semua orang, dan kalian bisa mengingatnya?”

Mendapatkan tawaran ini semua orang setuju.

Anak-anak dari orang-orang ini kemudian menyaksikan bahwa betapa orang tua mereka begitu mengagumi patung ini. Dan tak ayal, mereka pun mengikuti perilaku orang tua mereka. Sehingga lama kelamaan, para anak keturunan mereka, ketimbang mengingat dan menyembah Allah, mereka lebih suka mengingat dan menyembah Waddan, berhala pertama dalam sejarah umat manusia.[1]

Ibnu Abbas menjelaskan, “Adalah pada masa Yarid ketika berhala dibuat, dan beberapa dari mereka berpaling dari Islam.”[2] Al-Tabari mengatakan bahwa Yarid adalah keturunan Adam dari garis Idris, dia dilahirkan 460 tahun setelah kematian Adam.[3]

Dalam riwayat lainnya, Ibnu Abbas menjelaskan, “Setelah kematian orang-orang saleh itu, Setan mengilhami umat mereka untuk mendirikan patung-patung di tempat-tempat di mana mereka biasa berkumpul. Mereka melakukannya, tetapi patung-patung ini tidak disembah sampai generasi mendatang menyimpang dari jalan hidup yang benar. Kemudian mereka menyembahnya sebagai berhala mereka.”[4]

Dalam riwayat versi lainnya, Al-Tabari menjelaskan, “Terdapat orang-orang saleh yang hidup pada periode antara Adam dan Nuh, mereka memiliki pengikut yang menjadikan mereka sebagai teladan. Setelah kematian mereka, sahabat-sahabat mereka yang biasa mencontoh mereka (akhlak orang-orang saleh ini), berkata, ‘Jika kita membuat patung-patung mereka, itu akan lebih memudahkan kita untuk beribadah, dan akan mengingatkan kita tentang mereka.’

“Maka mereka membangun patung-patung mereka (orang-orang saleh), dan setelah mereka mati, dan generasi lain datang setelah mereka, Iblis merayap dalam benak mereka dengan mengatakan, ‘Nenek moyang kalian dulu menyembah mereka, dan melalui ibadah itu mereka mendapat hujan.’ Jadilah generasi baru itu menyembah patung-patung.”[5]

Terkait peristiwa-peristiwa di atas, Ibnu Katsir menjelaskan bahaya-bahaya yang akan menimpa umat manusia mana kala mereka menyembah berhala. Menurutnya, karena mereka kehilangan pemahaman tentang keberadaan Allah, dan lupa akan hukum-hukum-Nya, maka mereka menjadi hilang kendali, berbuat kejam, dan melakukan tindakan-tindakan tidak bermoral.

Lebih jauh, Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa pada hakikatnya, ketika manusia menyembah kepada selain Allah, maka mereka sesungguhnya telah terenggut kebebasannya. Akibat serius yang ditimbulkan oleh penyembahan berhala adalah hancurnya pikiran manusia. Allah menciptakan manusia dengan akalnya agar mereka memperoleh pengetahuan yang terpenting, bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, sementara yang lain hanyalah makhluk yang bergantung kepada-Nya.

Karena itu, ketidakpercayaan kepada Allah, mengakibatkan hilangnya kebebasan, hancurnya pikiran, dan hilangnya tujuan mulia dalam kehidupan. Dengan menyembah apa pun selain Allah, manusia menjadi pengabdi Setan, yang mana, padahal  dirinya sendiri adalah makhluk, yang sama-sama tidak berdayanya dengan manusia.

Demikianlah, tradisi penyembahan berhala ini terus terjadi sampai ke masa Nuh. Oleh Ibnu Katsir, Nuh digambarkan sebagai satu-satunya orang yang tersisa yang pemikirannya masih merdeka. Dia tidak terseret oleh arus besar bangsanya sendiri yang telah melupakan Allah dan menyembah berhala.[6]

Allah SWT kemudian mengutus Nuh untuk memberi peringatan kepada kaumnya, peristiwa ini diabadikan di dalam Alquran, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.’.” (Q.S 11: 25-26)[7]

Qatadah bin an-Numan, ketika memberikan penjelasan tentang Surat Al-Baqarah ayat 213, mengatakan, “Nabi pertama yang diutus adalah Nuh.” Dengan demikian, di dalam sejarah Islam, menurut Al-Tabari, Nuh adalah nabi pertama yang menjadi rasul.[8] Mengenai bagaimana proses Nabi Nuh berdakwah terhadap kaumnya, akan dikisahkan dalam seri selanjutnya. (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Kisah ini diadaptasikan dari sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abu Hatim, dalam Ibnu Katsir, Qisas Al-Anbiya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Mustapha Geme’ah (Darussalam: Riyadh, e-book version), Chpater 3, Prophet Nuh (Noah).

[2] Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 344.

[3] Ibid., hlm 342.

[4] Ibnu Katsir, Loc.Cit.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Alquran Surat Hud ayat 25-26, lihat Tafsir al-Jalalayn, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dr Feras Hamza, D.Phil (2017, Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought, Amman, Jordan), dalam www.altafsir.com.   

[8] Al-Tabari, Op.Cit., hlm 353.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*