Mozaik Peradaban Islam

Kisah Tentang Adam (10): Rumah Pertama di Muka Bumi

in Studi Islam

“Aku memiliki wilayah suci di sekitar tahta-Ku. Pergi dan bangun rumah untukku di sana! Kemudian tawaflah di sekitarnya, seperti yang telah engkau lihat malaikat-Ku bertawaf di sekeliling tahta-Ku. Di sana Aku akan menjawabmu dan semua anakmu yang taat kepada-Ku.”

–O–

Terkait lokasi pasti di mana Adam, Hawa, Iblis, dan ular diturunkan, menurut al-Tabari, tidak ada satu pun riwayat yang dapat dijadikan bukti yang konklusif, satu-satunya yang dapat dibenarkan dari riwayat-riwayat tersebut adalah bahwa Adam memang diturunkan di India. Sementara itu, riwayat-riwayat lainnya yang menyebutkan posisi pasti di mana diturunkannya mereka, telah ditolak oleh para ulama Muslim maupun oleh para Ahli Kitab Taurat dan Injil karena kurangnya bukti.

Sementara itu, dalam riwayat lainnya telah disebutkan bahwa puncak gunung di mana Adam diturunkan adalah salah satu tempat yang paling dekat dengan surga di antara gunung-gunung lainnya di bumi. Dan bahwa, ketika Adam diturunkan, kakinya berada di puncak tersebut, sementara itu kepalanya berada di surga, sehingga dia masih bisa mendengar doa-doa dan pujian-pujian malaikat. Adam menjadi terlalu akrab dengan itu semua, sehingga para malaikat menjadi merasa terganggu karenanya. Oleh karena itu, kemudian ukuran (tubuh) Adam diperkecil.

Diriwayatkan oleh Ata’ bin Abi Rabah:

“Ketika Allah SWT menurunkan Adam dari surga, kaki-kaki Adam berada di atas bumi, sementara itu kepalanya berada di surga dan dia mendengar ucapan-ucapan dan doa-doa para penghuni surga. Dia menjadi (terlalu) akrab dengan mereka, dan para malaikat merasa sangat terganggu padanya sehingga mereka akhirnya mengeluh kepada Allah dalam berbagai doa mereka (doa dan shalat).

“Allah SWT, oleh karena itu, memendekkan Adam ke bumi. Adam merindukan apa yang biasa dia dengar dari para malaikat dan merasa sangat kesepian sehingga dia akhirnya mengeluh tentang hal itu kepada Allah SWT dalam berbagai doa-doanya. Karena itu dia dikirim ke Mekah. (Ketika perjalanan, di setiap) tempat di mana dia menjejakkan kakinya berubah menjadi desa, dan (di antara) langkahnya menjadi padang pasir, sampai dia mencapai Mekah.

“Allah SWT mengirim permata (yaqut/rubi) dari surga di mana rumah (Allah) itu berada hari ini. (Adam) terus bertawaf di sekitarnya, sampai Allah SWT menurunkan air bah. Permata itu terangkat, sampai Allah mengutus Ibrahim, sahabat-Nya untuk (membangun kembali) rumah (dalam bentuknya yang baru). Ini (yang dimaksud oleh) firman Allah: ‘Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah.’”[1] [2]

Karya seni seniman asal Arab Saudi, Ahmad Mater, terbuat dari magnet dan serbuk besi yang mengilustrasikan orang-orang sedang bertawaf di sekitar Kabah. Photo: cnn.com

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

“Ketika ukuran Adam diperkecil menjadi enam puluh hasta (sekitar 30 m), dia mulai berkata: ‘Tuhanku! Sebelumnya aku adalah anak yang dilindungi di rumah-Mu, tidak memiliki Tuhan selain Engkau dan tidak ada yang memperhatikanku kecuali Engkau. Di sana aku punya banyak makanan dan bisa tinggal di mana pun aku mau. Tetapi kemudian Engkau menurunkanku ke gunung yang suci ini. (Di sana), aku biasa mendengar suara para malaikat dan melihat mereka bertawaf di sekitar tahta-Mu dan menikmati bau harum surga. Kemudian Engkau menurunkanku ke bumi dan mengecilkanku menjadi enam puluh hasta. Aku terputus dari suara dan penglihatan (terhadap para malaikat), dan bau surga meninggalkanku.’

“Allah SWT menjawab: ‘Karena ketidaktaatanmu Aku telah melakukan ini padamu Adam.’ Kemudian, ketika Allah SWT melihat ketelanjangan Adam dan Hawa, Dia memerintahkan Adam untuk menyembelih seekor domba jantan dari delapan pasangan ternak kecil yang telah Dia turunkan dari surga. Adam mengambil domba jantan itu dan menyembelihnya. Kemudian dia mengambil wolnya, dan Hawa memintalnya. Dia dan Hawa menenunnya. Adam membuat mantel untuk dirinya sendiri, dan pakaian dalam dan kerudung untuk Hawa. Mereka mengenakan pakaian itu.

“Kemudian Allah SWT memberi tahu Adam: ‘Aku memiliki wilayah suci di sekitar tahta-Ku. Pergi dan bangun rumah untukku di sana! Kemudian tawaflah di sekitarnya, seperti yang telah engkau lihat malaikat-Ku bertawaf di sekeliling tahta-Ku. Di sana Aku akan menjawabmu dan semua anakmu yang taat kepada-Ku.’ Adam berkata: ‘Tuhanku! Bagaimana aku bisa melakukan itu? Aku tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya dan tidak tahu caranya.’ Kemudian Allah SWT memilih satu malaikat untuk membantunya, dan dia pergi bersamanya ke Mekah.

“Setiap kali Adam melewati padang rumput atau tempat yang dia sukai, dia akan berkata kepada malaikat: ‘Mari kita berhenti di sini!’ Dan malaikat itu akan berkata kepadanya: ‘Tolong lanjutkan!’ Ini terus berlanjut sampai mereka mencapai Mekah. Setiap tempat di mana dia berhenti menjadi tanah yang subur, dan setiap tempat yang dilewatinya menjadi gurun yang sepi.

“Dia membangun rumah (Allah) dengan (bahan-bahan dari) lima gunung: Gunung Sinai, Bukit Zaitun, (Gunung) Lebanon, dan al-Judi, dan dia membangun fondasinya dengan (bahan-bahan dari Gunung) Hira’ (dekat Mekah). Ketika dia selesai dengan konstruksinya, malaikat itu pergi bersamanya ke ‘Arafat. Dia menunjukkan kepadanya semua ritual (yang berhubungan dengan ziarah) yang dilakukan orang-orang hari ini. Kemudian dia pergi bersamanya ke Mekah, dan (Adam) bertawaf di rumah (Allah) selama seminggu. Kembali ke tanah India, dia wafat di atas (Gunung) Nudh.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

“Akhirnya dia (Adam) tiba di rumah (Allah). Dia bertawaf dan melakukan semua ritual (dari ziarah). Kemudian dia ingin kembali ke India dan pergi. Ketika dia mencapai dua gunung yang melintasi ‘Arafat, para malaikat bertemu dengannya dan berkata: ‘Engkau telah melakukan ziarah dengan tidak semestinya.’ Ini mengejutkannya. Ketika para malaikat memperhatikan keterkejutannya, mereka berkata: ‘Adam! Kami telah melakukan ziarah ke rumah (Allah) ini dua ribu tahun sebelum engkau diciptakan.’ Dan Adam merasa ditegur sebagaimana semestinya.” (PH)

Bersambung ke:

Kisah Tentang Adam (11): Qabil dan Habil (1)

Sebelumnya:

Kisah Tentang Adam (9): Tempat Dijatuhkannya Adam

Catatan:

Seluruh artikel ini merupakan penceritaan ulang dari buku Al-Ṭabari, Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 292-295. Adapun informasi tambahan lainnya dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Lihat Q.S Al-Hajj Ayat 26: Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.

[2] Juga diriwayatkan dalam Bukhari, Ta’rikh, IV, 2, 197 dan Bukhari, Ta’rikh, II,2, 169.