Mozaik Peradaban Islam

Kisah Tentang Adam (6): Diciptakannya Hawa

in Studi Islam

“Adam bertanya untuk apa dia diciptakan, Hawa menjawab, ‘Untukmu, untuk tinggal bersamaku.’ Para malaikat bertanya kepada Adam siapa namanya, ‘Hawa,’ jawab Adam. Malaikat bertanya kembali kenapa, ‘Karena dia diciptakan dari makhluk hidup (hayy).’”

–O–

Photo ilustrasi: Mina Jafari/Pinterest

Pada saat Adam diciptakan, Allah SWT memerintahkan para malaikat dan juga Iblis untuk bersujud kepadanya. Namun Iblis menolak, dan Allah SWT mengecam perilakunya itu, namun Iblis tetap bertahan dalam ketidakpatuhannya dan terus melanjutkan kesalahan dan penyimpangannya. Kini, kesombongan dan penentangan Iblis terhadap Allah SWT yang sebelumnya disembunyikan akhirnya terungkap di hadapan para malaikat, dan segala sesuatunya menjadi jelas bagi mereka.

Allah SWT kemudian mengutuknya dan mengusirnya dari surga. Dia kemudian mencabut kewenangan Iblis dalam memerintah langit bagian bawah dan bumi, dan memakzulkannya dari jabatan sebagai penjaga surga.

Allah SWT berkata kepadanya: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.”[1] Allah SWT mengatakan ini kepada Iblis ketika dia masih di surga dan belum jatuh ke bumi.

Pada saat itu, Adam telah tinggal di surga, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan beberapa sahabat Nabi lainnya:

“Iblis diusir dari surga ketika dia dikutuk, dan Adam menetap di surga. Adam biasa pergi ke sana sendirian, tidak memiliki pasangan untuk tinggal bersama. Dia tertidur, dan ketika dia bangun, dia menemukan duduk di (dekat) kepalanya seorang wanita yang diciptakan oleh Allah SWT dari tulang rusuknya. Dia bertanya apakah dia, dan dia menjawab: ‘Seorang wanita.’

Dia bertanya untuk tujuan apa dia diciptakan, dan dia menjawab: ‘Untukmu, untuk tinggal bersamaku.’ Para malaikat, mencari (untuk mengetahui) sejauh mana pengetahuan Adam, menanyakan namanya. Dia menjawab: ‘Hawa’. Ketika para malaikat bertanya mengapa dia dipanggil Hawa, dia menjawab: ‘Karena dia diciptakan dari makhluk hidup (hayy).’ Allah SWT berkata: ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai!’[2]

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq:

Ketika Allah SWT telah selesai mengecam Iblis, Dia pergi kepada Adam, yang telah Dia ajarkan semua nama, dan berkata: ‘Adam, katakan nama-nama mereka,’ hingga: ‘Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’[3]

Dia kemudian membuat Adam tertidur, sebagaimana yang telah kita dengar dari para Ahli Torah di antara para Ahli Kitab dan para ulama lainnya yang berada dalam otoritas Abdullah bin Abbas dan lainnya. Kemudian Dia mengambil salah satu tulang rusuk Adam dari sisi kiri dan menggantinya dengan daging, sementara Adam tidur dan tidak bergerak, sampai Allah SWT menciptakan pasangannya, Hawa, dari tulang rusuknya.

Dia membuatnya (Hawa) menjadi seorang wanita baginya (Adam) untuk tinggal bersama. Ketika tidurnya diselesaikan dari dia dan dia terbangun, dia melihatnya di sampingnya. Telah diasumsikan – Wallahu a’lam! – bahwa Adam berkata: ‘Daging dan darah dan pasanganku’, dan dia tinggal bersamanya.

Ketika Allah SWT memberinya pasangan dan memberikan baginya sebuah kenyamanan (sakan) dari dirinya sendiri, Dia berkata kepadanya dalam tatap muka: ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.’[4]

Mujahid bin Jabir dalam menafsirkan firman Allah SWT, “dan dari padanya Allah menciptakan isterinya,”[5] berkata:

“Hawa berasal dari tulang rusuk terendah Adam (qusayra’), ketika dia tertidur. Kemudian Adam bangun dan berkata: ‘Atta!’ yang artinya adalah “wanita” dalam (bahasa) Nabath.[6]

Mujahid bin Jabir dan Qatadah bin an-Nu’man dalam kesempatan lainnya, masih menafsirkan ayat yang sama berkata:

“Artinya bahwa Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam.” (PH)

Bersambung ke:

Kisah Tentang Adam (7): Buah Khuldi (1)

Sebelumnya:

Kisah Tentang Adam (5): Diajari Nama-nama (2)

Catatan:

Seluruh artikel ini merupakan penceritaan ulang dari buku Al-Ṭabari, Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 270-274. Adapun informasi tambahan lainnya dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Q.S Al-Hijr Ayat 34-35

[2] Q.S Al-Baqarah Ayat 35: Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

[3] Lihat Q.S Al-Baqarah Ayat 31-32: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

[4] Q.S Al-Baqarah Ayat 35.

[5] Lihat Q.S An-Nisa’ Ayat 1: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

[6] Bangsa Arab kuno, lihat “Nabataean”, dalam https://www.britannica.com/topic/Nabataean-people, diakses 5 Agustus 2018.