Mozaik Peradaban Islam

Kisah Tentang Adam (7): Buah Khuldi (1)

in Studi Islam

“Hawa berkata: ‘Makanlah Adam! Sebagaimana aku lakukan, dan itu tidak membahayakanku.’ Namun ketika Adam makan, ‘nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.’”

–O–

Ilustrasi buah khuldi. Photo: rihlatuna

Artikel kali ini akan membahas bagaimana Allah SWT menguji ketaatan Adam dan membuatnya menderita (karena gagal dalam ujian), bagaimana Adam tidak taat kepada Allah SWT setelah memberinya kehormatan dan kedudukan yang tinggi bersama-Nya dan memungkinkan dia untuk menikmati banyak hal yang bermanfaat di dalam surga Allah, dan bagaimana dia kehilangan semua itu dan pergi dari kemewahan dan cara hidup yang menyenangkan dan berlimpah di surga menuju cara hidup penghuni bumi yang sulit: membajak, mencangkul, dan menanam tanah.

Ketika Allah SWT menetapkan Adam dan istrinya di surga-Nya, Dia mengizinkan mereka untuk makan buah apa pun yang mereka inginkan, kecuali buah dari salah satu pohon. Inilah yang membuat mereka menderita dan mendapatkan hukuman dari Allah SWT terhadap mereka beserta keturunannya, seperti yang Allah SWT katakan: “Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.’”[1]

Setan berbisik kepada mereka dan berhasil membuat buah tersebut tampak bagus dan menggoda. Kemudian Adam dan Hawa memakan buah yang dilarang oleh Allah SWT tersebut, dan dengan demikian, maka mereka telah melanggar perintah-Nya. Sebagai hasilnya, bagian aurat mereka yang telah disembunyikan dari mereka menjadi tampak bagi mereka.

Bagaimana musuh Allah dapat mengatur supaya mereka dapat memakan buah terlarang itu, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan beberapa sahabat Nabi lainnya:

“Ketika Allah SWT berkata kepada Adam: ‘Diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim,’ Iblis ingin mendatangi dan menemui mereka di surga, tetapi para penjaga (surga) mencegahnya masuk. Dia mendatangi ular, seekor binatang dengan empat kaki seperti seekor unta — sepertinya itu adalah salah satu hewan yang paling indah. Iblis berbicara dengannya (mencoba membujuknya) untuk membiarkan dia masuk ke mulutnya dan membawanya ke Adam.

“Ular itu membiarkan dia melakukannya, melewati para penjaga, dan masuk tanpa sepengetahuan mereka, karena itu adalah rencana Allah SWT. Sekarang, Iblis berbicara dengan Adam dari mulut ular, tetapi Adam tidak menaruh minat terhadap apa yang dia katakan. Lalu Iblis mendatanginya dan berkata: ‘Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada engkau pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?’[2] — yang artinya: ‘Bolehkah aku menuntunmu ke pohon yang, jika engkau makan dari sana, engkau akan jadi penguasa seperti Tuhan, atau baik engkau dan (Hawa) akan memiliki hidup yang kekal dan tidak akan pernah mati?’ Iblis bersumpah kepada mereka atas nama Allah SWT: ‘Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada engkau berdua.’[3]

“Tetapi dengan lepasnya pakaian mereka, Iblis ingin menunjukkan kepada mereka bagian-bagian aurat mereka, yang sebelumnya disembunyikan dari mereka. Dari apa yang dia baca dari kitab-kitab para malaikat, dia tahu, apa yang Adam tidak tahu, bahwa mereka memiliki bagian-bagian aurat. Pakaian mereka adalah al-zufr.[4] Adam menolak makan dari pohon, tetapi Hawa mendahului dan makan. Lalu dia berkata: ‘Makanlah Adam! Sebagaimana aku lakukan, dan itu tidak membahayakanku.’ Namun ketika Adam makan, ‘nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.’”[5] (PH)

Bersambung ke:

Kisah Tentang Adam (8): Buah Khuldi (2)

Sebelumnya:

Kisah Tentang Adam (6): Diciptakannya Hawa

Catatan:

Seluruh artikel ini merupakan penceritaan ulang dari buku Al-Ṭabari, Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 274-276. Adapun informasi tambahan lainnya dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Q.S Al-Baqarah Ayat 35.

[2] Q.S Ta Ha Ayat 120.

[3] Q.S Al-A’raf Ayat 21.

[4] Mengenai al-zufr, juga dibahas dalam Kitab Perjanjian Lama, dalam Targum Pseudo-Jonathan (terjemahan Kitab Kejadian 3: 7 dan 21), pakaian Adam dan Hawa digambarkan seperti kuku jari tangan (tuprayhon). Sementara itu, dalam tradisi para ulama Muslim, al-zufr mengacu kepada seputih, sehalus (safa’), dan setipis (kathafah) kuku jari tangan, lihat Ibnu al-Athir, Nihayah, III, 61.

[5] Q.S Al-A’raf Ayat 22: maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”