Mozaik Peradaban Islam

Kisah Tentang Adam (8): Buah Khuldi (2)

in Studi Islam

“Hawa, engkaulah yang membujuk hamba-Ku (Adam). Kehamilan akan sulit bagimu, dan ketika engkau akan melahirkan apa yang ada di dalam rahimmu, engkau akan sering berada dalam bahaya yang mematikan.”

–O–

Riwayat lainnya diriwayatkan oleh Wahb bin Munabbih, narasi awalnya masih mirip dengan riwayat sebelumnya – kecuali dia menyebutkan bahwa para malaikat memakan buah khuldi agar dapat hidup abadi, namun pada bagian pertengahan, narasinya mulai berbeda. Berikut ini riwayat dari Wahb bin Munabbih yang dimulai dari bagian pertengahan:

“Ketika ular itu memasuki surga, Iblis keluar dari dalamnya. Dia mengambil beberapa (buah) pohon yang telah dilarang bagi Adam dan istrinya untuk dimakan, membawanya ke Hawa, dan berkata: ‘Lihatlah pohon ini! Manis sekali baunya! Betapa enak rasanya! Betapa indah warnanya!’ Hawa mengambil dan memakan buah yang ditawarkan kepadanya. Kemudian dia (Hawa) membawanya kepada Adam dan berkata: ‘Lihatlah pohon ini! Manis sekali baunya! Betapa enak rasanya! Betapa indah warnanya!’ Dengan demikian, Adam memakannya, dan bagian aurat mereka menjadi tampak bagi mereka.

“Adam masuk ke dalam pohon (untuk bersembunyi). Tuhannya memanggilnya: ‘Adam, di mana engkau?’ Adam menjawab: ‘Aku di sini Tuhanku.’ Allah SWT berkata: ‘Apakah engkau tidak akan keluar?’ Adam menjawab: ‘Aku merasa malu kepada-Mu, Tuhanku.’ Allah SWT berkata: ‘Terkutuklah di bumi dari mana engkau diciptakan, dengan kutukan yang akan mengubah buahnya menjadi duri. Baik di surga maupun di bumi tidak ada pohon yang lebih unggul daripada akasia (talh) dan pohon bidara (sidr).[1] Kemudian Tuhan berkata: ‘Hawa, engkaulah yang membujuk hamba-Ku (Adam). Kehamilan akan sulit bagimu, dan ketika engkau akan melahirkan apa yang ada di dalam rahimmu, engkau akan sering berada dalam bahaya yang mematikan.’

“Kepada ular itu Dia berkata: Engkaulah yang membiarkan Iblis terkutuk masuk ke dalam perutmu, sehingga dia bisa membujuk hamba-Ku. Engkau dikutuk dengan kutukan yang akan mengakibatkan kakimu tertarik ke dalam perutmu, dan hanya tanah yang akan menjadi rizkimu. Engkau akan menjadi musuh anak-anak Adam, dan mereka akan menjadi musuhmu. Di mana pun engkau menemukan salah satu dari mereka, engkau akan melilit pada tumitnya, dan di mana pun dia bertemu denganmu, dia akan menghancurkan kepalamu.”

Wahb bin Munabbih, ketika ditanya tentang riwayat di atas, yaitu tentang kenapa malaikat diperbolehkan memakan buah khuldi, dia menjawab, “Allah SWT melakukan apapun yang Dia kehendaki.”

Photo ilustrasi: steemit.com

Riwayat lainnya disampaikan oleh Muhammad bin Qais (wafat antara tahun 743-744 M):

“Dia (Iblis) berbicara kepada Hawa dan berbisik kepada Adam. Dia berkata: ‘Tuhanmu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya engkau berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).’[2] Dan (Iblis) meyakinkan mereka dengan sumpah: ‘Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada engkau berdua.’[3] Hawa memotong pohon itu, dan itu berdarah. Bulu-bulu yang menutupi Adam dan Hawa terlepas,[4] ‘dan mulailah keduanya menutupinya (aurat) dengan daun-daun surga.’ Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: ‘Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’[5] Kenapa kalian memakannya, padahal Aku sudah melarangnya untukmu?’

“Adam berkata: ‘Tuhanku, Hawa membuatku memakannya. Ketika Allah SWT bertanya kepada Hawa: ‘Mengapa engkau membuatnya memakannya?’ Dia (Hawa) menjawab: ‘Ular itu memerintahku untuk melakukannya.’ Lalu Allah SWT bertanya pada ular itu: ‘Mengapa engkau memerintahkan Hawa untuk melakukannya?’ Dan ular itu menjawab: ‘Iblis memerintahku untuk melakukannya.’ Allah berfirman: ‘Keluarlah engkau (Iblis) dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir.[6] Sekarang, engkau, Hawa, karena engkau menyebabkan pohon itu berdarah, engkau akan berdarah setiap bulan baru, dan engkau, ular, Aku akan memotong kakimu dan engkau akan berjalan melata dengan wajahmu. Siapa pun yang bertemu denganmu, akan menghancurkan kepalamu dengan batu. Turunlah kamu sekalian, sebahagian engkau menjadi musuh bagi sebahagian yang lain!’”[7]

Masih ada lagi beberapa riwayat lainnya yang meriwayatkan kisah di atas dengan berbagai variannya, namun kurang lebih, semuanya memaparkan jalan cerita yang hampir sama, yaitu Iblis masuk ke surga melalui ular, yang pertama dia bujuk adalah Hawa, kemudian Hawa mengajak Adam untuk memakan buah khuldi juga. Selanjutnya, terkait Q.S Al-A’raf Ayat 24 dan Al-Baqarah Ayat 36, “Turunlah kamu sekalian, sebahagian engkau menjadi musuh bagi sebahagian yang lain,” para ulama terdahulu menjelaskan, yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Adam, Hawa, Iblis, dan ular.

Ibnu Abbas dan Mujahid bin Jabir berkata:

“Adam, Hawa, Iblis, dan ular.”

Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan beberapa sahabat Nabi lainnya berkata:

“Dan Dia mengutuk ular itu, memotong kakinya, membuatnya berjalan di atas perutnya, dan membuat tanah sebagai rizkinya. Dia menjatuhkan Adam, Hawa, Iblis, dan ular itu ke bawah (bumi).” (PH)

Bersambung ke:

Kisah Tentang Adam (9): Tempat Dijatuhkannya Adam

Sebelumnya:

Kisah Tentang Adam (7): Buah Khuldi (1)

Catatan:

Seluruh artikel ini merupakan penceritaan ulang dari buku Al-Ṭabari, Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 276-281. Adapun informasi tambahan lainnya dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Lihat Q.S Al-Waqi’ah Ayat 28: Berada di antara pohon bidara yang tak berduri.

[2] Lihat Q.S Al-A’raf Ayat 20.

[3] Lihat Q.S Al-A’raf Ayat 21.

[4] Q.S Al-A’raf Ayat 26: Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

[5] Lihat Q.S Al-A’raf Ayat 22.

[6] Lihat Q.S Al-A’raf Ayat 18.

[7] Lihat Q.S Al-A’raf Ayat 24 dan Al-Baqarah Ayat 36.