Mozaik Peradaban Islam

Masjid North Dakota, Masjid Tertua di Amerika Serikat (2)

in Arsitektur

“Setelah generasi menuju generasi lainnya, banyak para keturunan Muslim Dakota Utara yang menikahi tetangga mereka yang Kristen. Kemudian agama Islam secara perlahan menghilang, karena generasi selanjutnya lebih memilih agama Kristen. Meskipun demikian, itu tidak membuat mereka melupakan akar sejarahnya, masjid North Dakota dan juga kuburan Muslim nenek moyang mereka yang ada di sekitar masjid tetap mereka pelihara.”

–O–

Keturunan trasnmigran Muslim asal Lebanon dan Suriah. Photo: National Endowment for the Humanities’ “Bridging Cultures” project

Jumlah Muslim yang ada di kota Ross, Dakota Utara, Amerika Serikat (AS), saat ini sangat sedikit, hanya 109 orang, dan mereka usianya sudah di atas 80 tahun. Meskipun hanya sedikit, namun secara garis keturunan, banyak penduduk Ross lainnya yang memiliki akar sejarah Islam. Mereka memiliki nama keluarga seperti Omar, Juma, Abdallah, atau Hassen. Anak keturunan transmigran Lebanon dan Suriah ini sekarang telah menjadi Kristen, namun mereka masih ingin tetap menjaga kenangan dan tradisi nenek moyang dengan berziarah ke makam dan memelihara masjidnya itu sendiri.

Lila Thorlaksen adalah salah satu contoh keturunan Muslim, selagi kecil dia tinggal sekitar 3 km dari masjid dan dididik sebagai Muslim. Namun setelah dia dewasa dan menikah, dia masuk Kristen, dan nama keluarganya yang sebelumnya Omar, berubah mengikuti suami. “Sekarang tidak banyak digunakan (Masjid North Dakota),” katanya. “Tapi itu (masjid) ada di sana jika diperlukan.”

Contoh lainnya lagi adalah Betty Abdallah, dia berkisah, “itu (masjid) berada dalam kondisi yang buruk ketika saya tumbuh dewasa,” ujarnya ketika menceritakan tentang Masjid North Dakota. “Kami akan pergi keluar dan membersihkan kuburan, tetapi (masjid) dalam kondisi yang sangat buruk sehingga kami tidak benar-benar diizinkan masuk. Saya tidak pernah benar-benar berada di dalam bangunan lama itu.”

Pemakaman di sekitar masjid. Photo: Aman Ali

“Salah satu kenangan yang benar-benar diingat,” kata Betty Abdallah sambil tertawa, “dan saya sering membuat candaan tentang itu – adalah sebelum memotong dan berburu, (ayah saya) akan menjalani ritual pembersihan dan doanya. Dan tahukah anda berapa lama waktu untuk menyembelih 50 ayam ketika anda harus mengucapkan doa untuk setiap ayamnya?”

“Merupakan hal yang indah ketika mendengarkan dia (ayah) berdoa dan berbicara tentang keyakinannya,” tambahnya. “Dia ayah yang kalem. Dia tidak peduli bahwa saya pergi ke gereja Lutheran, atau saudara perempuan (saya) lainnya pergi ke gereja Katolik.”

Kini, setelah Masjid North Dakota dibangun kembali oleh para anak keturunan Muslim, dan dibantu sanak saudara, dan tetangga mereka yang Kristen, ayahnya sangat bangga. “Itu membuat ayah saya sangat bangga. Dia menatapnya (masjid). Dia dapat memilih, dia bisa pergi ke sana dan berdoa (shalat).”

Setelah generasi menuju generasi lainnya, banyak para keturunan Muslim Ross yang menikahi tetangga mereka yang Kristen. Kemudian agama Islam secara perlahan menghilang.[1]

 

Islamophobia

Setelah terjadinya serangan teroris ke Amerika Serikat pada tahun 2001, yakni serangan menara kembar WTC, gelombang Islamophobia menguat di Amerika. Gelombang ini tidak berhenti meskipun belasan tahun peristiwa itu telah berlalu. Tahun 2015 serangan teroris kembali terjadi terhadap negara Barat, di antaranya serangan Paris dan penembakan di San Bernadino, AS. Maka tak terhindarkan, gelombang Islamphobia semakin menguat lagi.

Artikel terkait:

Di tengah gencarnya serangan media dan orang-orang Amerika terhadap Islam, namun di suatu tempat yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat kegaduhan, yakni di Amerika Utara, salah satu wilayah yang menjadi rumah bagi komunitas Muslim paling awal di Amerika, nyatanya Islamophobia tidak menjadi persoalan dan tidak berpengaruh bagi kehidupan masyarakat setempat.

“Itu (Islamophobia) masalah mereka,” kata Lila Thorlaksen.

Senada dengan Thorlaksen, Betty Abdallah berkata,  “dari apa yang diajarkan kepada saya, keyakinan Muslim tidak kejam. Itu membuat saya sedih, karena kebodohan. Bukan Muslim yang berbahaya. Tapi karena ‘radikal’. Dan anda bisa menjadi seorang Kristen radikal. Anda bisa menjadi Saksi Yehuwa yang radikal. Itu hanya kata ‘radikal’.”

Emmett Omar, keturunan lainnya dari transmigran Lebanon dan Suriah berkata, “Ada banyak kebencian yang disampaikan oleh beberapa kelompok orang Amerika, dan itu tidak menandakan semua orang Amerika seperti itu. Itu hanya tuduhan dari mereka yang mengikuti orang-orang seperti Donald Trump, dan orang-orang sejenisnya.”[2]

Kenneth Halvorson, sheriff Mountrail County berkata, “mereka adalah bagian dari komunitas kami. Kadang-kadang mereka menemukan diri mereka dalam situasi di mana kebangsaan mereka atau apa pun yang menyebabkan mereka mendapat masalah. Tapi bukan disini. Kami tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang baik dan pekerja keras.”[3] (PH)

Seri Masjid North Dakota selesai.

Sebelumnya:

Masjid North Dakota, Masjid Tertua di Amerika Serikat (1)

Catatan Kaki:

[1] Ryan Schuessler, “Little Mosque on The Prairie Reveals a Century of Religious Coexistence”, dari laman https://www.theguardian.com/world/2016/jul/18/north-dakota-mosque-islam-history-united-states, diakses 29 Mei 2018.

[2] Ibid.

[3] Samuel G. Freedman, “North Dakota Mosque a Symbol of Muslims’ Long Ties in America”, dari laman https://www.nytimes.com/2016/05/28/us/north-dakota-mosque-a-symbol-of-muslims-deep-ties-in-america.html, diakses 29 Mei 2018.