Megatruh: Sebuah Syarah Kesejarahan (4)

in Studi Islam

Last updated on July 27th, 2019 07:51 am

 

Di tengah huru hara politik yang terjadi dalam kekhalifahan Abbasiyah di abad ke 9 M, lahirlah salah satu anak keturunan Rasulullah SAW bernama Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Inilah kakek dari para Wali Songo yang – menurut Rendra dalam Megatruh – telah berhasil menegakkan, untuk sementara, “daulat manusia” di bumi Nusantara

Gambar ilustrasi. Sumber: jordan.touristgems.com

Memasuki akhir abad ke 9 M, Dinasti Abbasiyah yang semula berhasil membawa peradaban Islam memasuki era keemasannya, justru terjerumus dalam perpecahan dan perebutan kuasa. Gairah ilmu pengetahuan yang sebelumnya begitu semarak, kini mengendur seiring dengan semakin despotiknya para khalifah. Mereka bertindak layaknya raja, yang titahnya adalah hukum itu sendiri. Para ulama dihukum bahkan dibunuh tanpa alasan yang benar.

Tak usahlah berpikir tentang daulat manusia. Bahkan urusan negara saja terbengkalai akibat meluasnya dampak perebutan kekuasaan di dalam istana. Sejarawan menyebut periode ini dengan istilah “Anarki di Samara”.[1]

Pada saat seperti itu, yang bangkit melakukan perlawanan untuk menegakkan daulat manusia justru kaum budak yang dikenal sejarah sebagai pemberontakan Zanj. Pemberontakan tersebut pertama kali terjadi pada tahun 255 H/ 869 M di Kota Basrah, Irak. Dan berlangsung  selama selama 14 tahun hingga 883 M. [2]  

David Whines, penerjemah karya Al-Tabari mengatakan bahwa, pemberontakan Zanj merupakan ujian terberat bagi khalifah Al-Muhtadi yang pertama kali naik tahta pada tahun 255 H, atau bertepatan dengan pecahnya pemberontakan pertama Kaum Zanj. Pemberontakan tersebut menjadi bagian yang memperpanjang krisis internal Dinasti Abbasiyah, tidak hanya di bidang politik – yang secara natural pasti berpangaruh – tapi juga di bidang ekonomi dan sosial. Sebuah krisis yang mengakibatkan Abbasiyah tidak lagi bisa benar-benar pulih.[3]

Total jumlah korban yang meninggal selama berlangsungnya pemberontakan tersebut berkisar antara 500.000 hingga 2.500.000 jiwa. Beberapa sejarawan Muslim, seperti Al-Tabari dan Al-Masudi, menganggap pemberontakan Zanj sebagai salah satu “pemberontakan paling ganas dan brutal” dari sejumlah gangguan yang melanda pemerintah pusat Abbasiyah.[4] Sementara sarjana modern memaknai serangkaian peristiwa yang terjadi pada masa itu sebagai salah satu yang paling berdarah dan paling merusak dalam catatan sejarah Asia Barat.

Di tengah huru hara yang terjadi di Kota Basrah masa itu, salah satu anak keturunan Rasulullah SAW bernama Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Ali Al-Uraidhi bin Jakfar Ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, memutuskan meninggalkan Basrah dan hijrah bersama keluarganya ke Hadramaut (Yaman). Menurut sebagian ahli sejarah, Hadramaut dipilih karena pengaruh Dinasti Abbasiyah tidak sampai menjangkau ke sana.[5]

Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir lahir di Basrah pada 241 H atau sembilan tahun sebelum pecahnya pemberontakan Zanj tahun 255. Diperkirakan beliau tiba di Hadramaut pada pada 965 M. Di kota itu, beliau menetap di tempat bernama Husaisah dan di sana dia mulai membangun landasan dakwah Islam yang moderat dan toleran, dengan pembobotan pada spiritualitas. Pada fase berikutnya, ajaran-ajaran Ahmad bin Isa berkembang menjadi suatu jalan, metode yang mapan, yang disebut dengan berbagai nama oleh para peneliti sejarah Islam, antara lain, dengan thariqah Alawiyyah (jalan hidup Alawiyin).

Menurut Musa Kazhim, thariqah Alawiyah, adalah suatu bentuk cara beragama yang berorientasi tasawuf. Namun, tak seperti thariqah pada umumnya, thariqah Alawiyah bukanlah suatu orde sufi (tarekat). Meski tak bisa lepas dari dasar-dasar teoretis pemikiran kesufian, thariqah Alawiyah bisa dikelompokkan ke dalam apa yang biasa disebut sebagai “tasawuf akhlaki”. Dengan kata lain, ketimbang mempromosikan pemikiran-pemikiran teoretis dan spekulatif—yang biasanya hanya dibatasi pada sekelompok elite ulamanya (khawwash) di kalangan mereka—thariqah ini lebih menganjurkan pada berbagai praktik mujahadah dan riyadhah untuk mengembangkan keadaan-keadaan spiritual tertentu yang melahirkan akhlak yang baik.[6]

Ahmad bin Isa, wafat di Hadramaut dan meninggalkan beberapa orang anak. Salah satunya bernama Ubaidillah bin Ahmad. Kelak, dari Ubaidillah ini lahir anak bernama Alawi. Dari nama inilah, kemudian anak keturunan Imam Ahmad bin Isa digelari Alawiyin atau sekarang lumrah dikenal dengan sebutan Habib (jamak: Habaib).[7]

Kelak, pada sekitar abad 14-15 Masehi, para anak keturunan Alawiyin ini tiba di Nusantara dengan membawa corak ilmuwan leluhurnya. Masyarakat Nusantara, khususnya di Jawa, mengenal mereka dengan sebutan Wali Songo. Mereka inilah yang dikemudian – menurut Rendra dalam Megatruh – telah berhasil menegakkan, untuk sementara, “daulat manusia” di bumi Nusantara. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] “Anarki di Samarra” merupakan istilah yang digunakan oleh para sejarawan untuk mengidentifikasi periode tidak lazim selama rentang waktu antara 861–870 M dalam istana Abbasiyah di Samarra. Dimana terjadi perebutan kekuasaan yang brutal di antara para pengeran Abbasiyah di Samara. Ironisnya, para khalifah Abbasiyah diperlakukan layaknya boneka oleh budak-budak mereka. Uraian lebih jauh mengenai topik ini, bisa mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/pemberontakan-zanj-2-anarki-di-samarra/

[2] Uraian lebih jauh mengenai sejarah Pemberontakan Zanj, bisa mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/pemberontakan-zanj-titik-balik-sejarah-yang-terlupakan-1/

[3] Lihat, The History of al-Tabari Volume XXXVI, The Revolt of the Zanj, Translated by David Waines, State University of New York Press, 1992, hal. xv

[4] Lihat, Furlonge, Nigel D, Revisiting the Zanj and Re-Visioning Revolt: Complexities of the Zanj Conflict (868-883 AD)https://www.questia.com/magazine/1G1-76402507/revisiting-the-zanj-and-re-visioning-revolt-complexities, diakses 19 September 2018

[5] Lihat, Musa Kazhim, “Sekapur Sirih Sejarah ‘Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai Di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hal. 6

[6] Ibid

[7] Uraian lebih jauh mengenai asal usul Habaib ini, bisa mengakses link berikut: https://ganaislamika.com/melacak-asal-usul-habib-di-indonesia-1-siapakah-habib/

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*