Mozaik Peradaban Islam

Pengantar Teosofi Islam (10): Tingkat-tingkat Wujud (5): Aspek-aspek Alquran

in Studi Islam

Last updated on May 10th, 2020 01:14 pm

Orang-orang yang bertakwa menyadari bahwa alam wujud tidak melulu bersifat fisikal, melainkan jauh lebih luas dari itu. Wilayah di luar lingkaran fisik itulah yang dalam bahasa Alquran disebut dengan alam gaib (al-ghayb) atau alam batin.

Foto ilustrasi: Nusagates

Dalam kaitan dengan Alquran, Rasulullah bersabda: “Alquran memiliki bentuk-luar yang indah dan makna-batin yang kaya.”

Beliau juga bersabda: “Alquran memiliki sisi batin, dan bahwa sisi batin itu memiliki sisi batin hingga tujuh lapis sisi batin.” [1]

Alquran merupakan kumpulan âyah, sebagaimana alam semesta juga merupakan âyah. Dan âyah bermakna bahwa “sesuatu yang tampak adalah tak terpisahkan dari sesuatu yang tak-tampak, sehingga ketika seseorang memahami yang tampak, maka dia mengetahui bahwa dia mulai memahami yang tak tampak, di mana yang tak tampak tidak bisa dipahami dengan dirinya sendiri.”[2]

Abdullah bin Masud pernah berkata: “Alquran turun dalam tujuh huruf. Tiap-tiap hurufnya memiliki sisi lahir dan batin. Dan Ali bin Abi Thalib mengetahui sisi-sisi lahir dan batin setiap huruf dalam Alquran.”[3]

Jadi, di balik deretan huruf dan rangkaian kata yang dikandungnya, Alquran menyimpan petunjuk-petunjuk dan makna-makna batin yang tak-berhingga. Dalam sebuah hadis, Baginda Rasul menyatakan: “Bacalah Alquran dan tangkaplah keajaiban-keajaibannya.” [4]

Fakta bahwa kata âyah (tanda) berarti bagian-bagian ciptaan dan sekaligus bagian-bagian Alquran menunjukkan bahwa Alquran adalah teks alam semesta, sedangkan alam adalah konteks Alquran.

Maksudnya, Firman Allah terekam di Alquran dalam bentuk huruf dan kata, sementara Tindakan-Nya terungkap di alam semesta dalam kejadian dan fakta. Di antara kata dan kejadian ini terdapat jalinan yang jelas bagi orang-orang yang berilmu.

Grafik: Gana Islamika

Itulah mengapa seorang hamba tidak akan pernah melihat pertentangan antara mencari pengetahuan tentang alam melalui metodologi saintifik dan menerima pengetahuan tentang alam gaib dari wahyu Alquran.

Bahkan, dengan penuh keyakinan dia akan menyadari bahwa di balik tanda-tanda fisik terdapat makna-makna batin yang luas dan mendalam, sehingga dia akan senantiasa mencari pentunjuk-petunjuk dari Alquran dan Hadis Nabi mengenai makna-makna itu.

Keserupaan lapisan-lapisan dan tingkatan-tingkatan Alquran dengan bentuk-bentuk alam fisik menegaskan pentingnya manusia memiliki metodologi yang lebih terbuka dalam memahami alam maupun Alquran, sedemikian sehingga pemahaman kita makin lama makin mendekati hakikat yang seutuhnya.

Kata pertama yang diturunkan oleh Allah adalah kataاقرأ  (iqra’), yang berasal dari قرأ (qara’). Qara’ secara bahasa berarti menghimpun. Jadi, قرآن (Alquran) adalah himpunan huruf dan kata yang bisa dibaca.

Selain itu, Alquran adalah kitab yang menghimpun seluruh pengetahuan, tanda-tanda dan perumpamaan-perumpamaan di alam ciptaan, serta isi kitab-kitab samawi sebelumnya,. Karena itu, Alquran adalah naskah  (nuskhah) penciptaan yang menghimpun dan merangkum pengetahuan, keinginan, dan perbuatan Allah.

Perintah untuk membaca huruf-huruf, kata-kata dan kalimat-kalimat Alquran ini merupakan ajakan untuk memahami alam raya yang sangat luas dan berlapis-lapis, bukan sekadar melafalkan dan membunyikannya.

Izzuddin an-Nasafi menuliskan: “Segala sesuatu yang ada, dalam satu hal, adalah sebuah tanda, dan dalam hal lain adalah sebuah tulisan. Dalam bentuk tertulis, Allah menyebut kosmos sebagai ‘buku’ (kitâb).

“Kemudian Dia berkata, ‘Barang siapa membaca buku ini, maka dia akan mengenal Diri-Ku dan pengetahuan, keinginan, dan kekuasaan-Ku.’ Pada saat itu, para pembaca adalah malaikat. Pembaca-pembaca ini sangat kecil sementara buku itu sangat besar.

“Mereka tidak bisa melihat pinggiran buku atau seluruh halamannya, karena mereka tidak sanggup melakukan yang demikian itu. Allah melihat ini, dan kemudian membuat salinan (transkripsi) kosmos, dengan menuliskan ikhtisar dan ringkasan buku ini.”[5]

Dengan perkataan lain, untuk mempermudah manusia memahami keluasan dan kekayaan makna Wujud ilahi, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk huruf dan bahasa yang bisa dipahami oleh manusia pada umumnya.

Dalam surah Al-Qamar, Allah berulang-ulang menyebut ayat berikut ini: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS 54: 17)

Lalu, bagaimana kita bisa memahami Alquran dalam suasana seperti di atas? Dalam surah Al-Baqarah ayat kedua Allah berfirman: “Kitab ini (Alquran) tidak mengandung keraguan di dalamnya, (sebagai) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS 2: 2-3).

Dalam kedua ayat ini secara jelas Alquran menyatakan dirinya sebagai tidak mengandung keraguan dan kebingungan. Artinya, semua makna dan petunjuk yang termuat di dalam Alquran itu sangat jelas dan terang, tidak samar atau membingungkan. Akan tetapi, di akhir ayat yang sama, Alquran menegaskan bahwa kejelasan itu hanya berlaku bagi orang-orang yang bertakwa.[6]

Lebih lanjut, pada ayat berikutnya, Alquran memerikan ciri-ciri orang yang bertakwa. Ciri pertama dan utama dari orang yang bertakwa menurut Alquran ialah keimanan kepada realitas dan eksistensi di luar alam fisik.

Manusia seperti ini menyadari bahwa alam wujud tidak melulu bersifat fisikal, melainkan jauh lebih luas dari itu. Wilayah di luar lingkaran fisik itulah yang dalam bahasa Alquran disebut dengan alam gaib (al-ghayb) atau alam batin.

Bagi orang yang mempunyai kesadaran seperti ini, Alquran tentu tidak akan dipahami sebatas sebagai susunan huruf dan kata yang bersifat relatif, multi-interpretatif dan tumpang-tindih, melainkan sebagai makna yang tidak mengandung keraguan sedikitpun.

Huruf-huruf dan kata-kata Alquran sebenarnya hanyalah medium dan pengantar bagi makna dan petunjuk yang tersimpan di dalamnya. Dan makna itu sendiri adalah gambaran dari hakikat yang di baliknya.

Jadi, huruf-huruf Alquran menyimpan makna dan petunjuk, sedangkan makna dan petunjuk Alquran adalah gambaran dari hakikat Kalam Ilahi. Oleh sebab itu, Alquran mustahil diturunkan dalam hakikat yang sebenarnya, lantaran itu berarti merusak hukum kebertingkatan dan keseimbangan alam ciptaan.

Allah berfirman: “Kalau sekiranya Kami menurunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS 59: 21)

Ketakmampuan sebagian manusia menangkap makna dan petunjuk yang terkandung dalam Alquran berasal dari hijab-hijab kegelapan yang menutupi diri mereka.

Baginda Rasullullah SAW pernah bersabda: “Jika bukan karena akibat pembicaraan kalian dan kekeruhan hati kalian, pasti kalian dapat melihat apa yang kulihat dan mendengar apa yang kudengar.”[7]

Hadis ini sebenarnya menegaskan kenyataan yang berulang-ulang diungkapkan oleh Alquran mengenai penutup atau dinding non-fisik yang menyekat pemahaman manusia.

  • Dan di antara mereka ada yang mendengarkan (bacaan)-mu, (tetapi) Kami telah meletakkan penutup pada hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakan) sumbatan di telinga mereka (sehingga mereka tidak bisa menyimaknya). Dan jikapun mereka melihat semua tanda (membaca semua ayat), mereka tetap tidak akan mau beriman kepadanya. Ketika mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu akan berkata: ‘Alquran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.’.” (QS 6:25)
  • Dan apabila kamu membaca Alquran niscaya akan Kami jadikan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat suatu hijab yang menutupi.” (QS 17: 45)
  • “…. Maka mengapa orang-orang itu (munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.” (QS 4: 78)
  • Dan Kami jadikan dinding di depan dan di belakang mereka, dan Kami tutupi (mata) meraka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS 36:9)
  • Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), diatasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih menindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia akan mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS 24:40)

Bagi orang yang tidak beriman, kata-kata dan bacaan Alquran adalah hijab dan dinding yang tebal, teks yang mati dan bisu. Sebaliknya, bagi orang-orang yang beriman kepada kegaiban, kata-kata dan bacaan Alquran adalah sungai-sungai yang mengantarkan mereka kepada samudera yang tak bertepi.

Allah berfirman: “Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan (berupa) kitab (Alquran) yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, bergemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenanglah kulit dan hati di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang penunjukpun.”(QS 39: 23)

Beberapa ayat setelahnya, Allah berfirman: “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Alquran ini segala macam perumpamaan supaya mereka dapat mengambil pelajaran.” (QS 39: 27)

Namun demikian, bagi orang-orang yang bodoh dan tidak beriman, huruf-huruf Alquran ini akan terasa bisu dan mati, sehingga sering mengacaukan pemahaman mereka.

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: ‘Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara kepada kami atau datang ayat-Nya kepada kami? Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka ini; hati mereka serupa belaka. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat Kami kepada orang-orang yang berkeyakinan.” (QS 2: 118).

Dalam ayat ini, secara tegas Allah menyatakan bahwa ayat-ayat Alquran bersifat jelas bagi orang-orang yang memiliki keyakinan.

Oleh sebab itu, Alquran menuntut kita untuk berlindung dari setan yang terkutuk sebelum mulai membacanya. Allah berfirman: “Apabila kamu membaca Alquran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS 16: 98)

Tentu saja orang tidak boleh membatasi makna ayat ini sekadar sebagai perintah untuk beristiadzah sebelum membaca Alquran, karena beristiadzah secara batin jauh lebih penting dan berpengaruh daripada sekadar beristiadzah secara lahiriah.

Istiadzah itu diperlukan agar pikiran tidak melenceng dan terseret ke dalam kesesatan dan fitnah. Allah berfirman: “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Alquran) kepada kamu. Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lainnya (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka akan mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tiada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepadanya (Alquran), semuanya dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak ada yang dapat menangkap pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal.” (QS 3: 7). (MK)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] ‘Allamah Thabathaba’i, Op.Cit.,  hal. 95. 

[2] E.W. Lane, Arabic-English Lexicon, Cambrige, Islamic Texts Society, 1984.

[3] Muhammad Ray Syahri, Ahlul Bayt fi Al-Kitâb wa Al-Sunah, Dar Al-Hadits, hal. 202.

[4] Mulla Shadra, Mafâtîh Al-Ghayb, 1984, hal. 70.

[5] Sachiko Murata, Op.Cit, hal. 74.

[6] Untuk kajian mengenai takwa, lihat: Musa Kazhim, Belajar Menjadi Sufi, Lentera 2002, hal. 46-69. 

[7] Mulla Shadra, Op.Cit, hal. 12.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*