Mozaik Peradaban Islam

Pengantar Teosofi Islam (4): Tentang Wujud dan Kemaujudan (4): Hubungan Wujud dan Maujud (Hubungan Sebab dan Akibat atau Pencipta dan Ciptaan)

in Studi Islam

Last updated on April 12th, 2020 07:12 am

Para ahli hikmah menyebut seluruh maujud selain Wujud Mutlak atau Allah sebagai ‘bayangan’ (syabah), penampakan’ (tajalli), nama (ism), tanda (âyah) atau perumpamaan (matsal).

Foto ilustrasi: Physics Today – Scitation

Hubungan Wujud Mutlak dan semua maujud selain-Nya biasanya diistilahkan dengan hubungan sebab dan akibat atau hubungan ciptaan dan Pencipta. Hubungan ini tidak bisa digambarkan seolah-olah Wujud memberi kewujudan pada suatu maujud, sehingga terkesan ada A (Wujud) yang memberi B (kewujudan) kepada C (maujud). Hal itu karena kemajemukan hanya mungkin terbayang manakala C sudah mewujud sebelumnya dan tidak bergantung dalam kemaujudannya pada A, yakni Pewujud (الموجد) dan Pencipta (الخالق).

Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa hubungan Pewujud atau Pencipta dan semua maujud atau ciptaan-Nya adalah hubungan pewujudan (ايجاد) dan penciptaan (خلق), yakni hubungan yang mewujudkan dan menciptakan C. Dengan demikian, kewujudan maujud atau ciptaan tidak lain daripada hubungan dengan Pewujud dan Pencipta itu sendiri. [1]

Mengingat kewujudan maujud dan ciptaan identik dengan hubungan itu sendiri, maka kewujudan semua maujud dan ciptaan pastilah bersifat relatif atau nisbi (نسبي). Sebagian ahli hikmah menyebutnya dengan kewujudan kopulatif (وجود ربطي).

Artinya, kewujudan ciptaan tiada lain adalah hubungan dan relasi dengan Pewujud dan Penciptanya. Begitu hubungan itu hilang, kewujudan maujud atau ciptaan itu pun ikut menghilang. Sedemikian esensialnya posisi hubungan ini sehingga segala sesuatu selain Allah dapat dipahami dalam rangkaian hubungan-hubungan dengan-Nya.

Dalam istilah para pakar bahasa, ada dua jenis kata; kata ismi dan kata harfi. Kata ismi adalah jenis kata yang bisa kita pahami secara independen, seperti kata gunung dan air. Sebaliknya, pengertian kata harfi tidak bisa kita pahami tanpa kaitan dan hubungan dengan kata lainnya, seperti kata-kata penghubung dan, atau, serta dan lain sebagainya. Kata-kata penghubung inilah yang di depan kita sebut dengan kewujudan kopulatif dan relatif yang mewujud dengan Wujud Mutlak yang Mandiri (qayyûm).

Sebagai ilustrasi, sekarang bayangkan dalam pikiran Anda wajah seorang guru yang sedang mengajar di kelas. Bayangan ini sepenuhnya akan bergantung dan berhubungan dengan konsentrasi dan perhatian Anda. Bilamana sedikit saja perhatian Anda terganggu, maka bayangan itu pun akan serentak buyar dan menghilang. Inilah yang dimaksudkan dengan hubungan pewujudan atau hubungan pemancaran (idhâfâh isyrâqiyyah), yakni hubungan yang menyebabkan terjadinya sesuatu atau entitas tertentu.

Oleh sebab itu, para ahli hikmah menyebut seluruh maujud selain Wujud Mutlak atau Allah sebagai ‘bayangan’ (syabah), penampakan’ (tajalli), nama (ism), tanda (âyah) atau perumpamaan (matsal). Sebagaimana mustahil ada bayangan tanpa Pembayang, mustahil ada penampakan tanpa Penampak, mustahil ada nama tanpa Penyandang dan mustahil ada tanda tanpa Penanda, mustahil ada perumpamaan tanpa Pengumpama, demikian pula mustahil ada maujud tanpa Pewujud dan ciptaan tanpa Pencipta.

Keberadaan maujud dan ciptaan sesungguhnya bersifat ‘sekunder’ dan ‘relatif’ (baca: related to atau berhubungkan dengan), sedangkan Pewujud dan Pencipta bersifat ‘primer’, ‘independen’ dan ‘mutlak’. Dan yang sekunder atau relatif mewujud akibat hubungan dengan yang ‘primer’ dan ‘mutlak’.

Dalam bahasa teknis-filosofis disebutkan,

“ثبوت الصفة للموصوف فرع ثبوت الموصوف له”

(Wujud sifat adalah cabang dari wujud penyandang sifat).

Yakni, setiap maujud bergantung secara esensial (faqîr) kepada Pewujud dan merupakan salah satu nama-Nya belaka. Dan karena hubungan ini terkait dengan wujud dan eksistensi sesuatu, maka tidak bisa dibayangkan adanya dualitas, sebab lawan dari Wujud Mutlak ini adalah ketiadaan.

Jadi, yang disebut dengan ciptaan itu tiada lain daripada hubungan, sisi, nama dan sifat dari Sang Wujud Mutlak. Allah berfirman: “Wahai manusia, kalian semua faqîr (bergantung) kepada Allah, dan Allah adalah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS 35: 15).

Dalam surah al-Hajj, Allah berfirman: “Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan Allah benar-benar Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS 22: 64).

Dalam ayat lain disebutkan: “Dan Musa berkata: Sekiranya kalian dan seluruh yang ada di muka bumi bersikap kafir, maka sesungguhnya Allah tetaplah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS 14: 8). Kata ghani (غني) yang terdapat pada ayat-ayat di atas secara harfiah berarti tidak membutuhkan atau serba mencukupi-diri sendiri, lawan dari kata فقير  yang berarti membutuhkan dan tidak mencukupi-diri sendiri.

Ihwal kefakiran segenap ciptaan ini, seorang arif menulis surat kepada putranya: “Anakku! Semoga Allah menganugerahkan hidayah-Nya kepadamu. Entah dunia ini kekal dalam waktu atau tidak, dan entah rantai kemaujudan berujung atau tidak, semua maujud itu faqîr (bergantung pada Pencipta) karena mereka bukannya mewujud dengan sendirinya.

“Jika engkau amati segenap rantai-tak-berujung kemaujudan dengan cahaya akal, engkau akan mendengar jeritan kebutuhan dan kebergantungan (esensial)¾untuk keberadaan maupun kesempurnaan mereka. Mereka akan mengakui kefakiran (mereka) kepada (Pencipta) Yang Mewujud dengan Sendirinya (dan) Pemilik segala Kesempurnaan.

“Jika dengan suara akal engkau berbicara kepada rantai kemaujudan yang (secara esensial) bergantung itu, dan bertanya kepada mereka, ‘Wahai kemaujudan yang faqîr, siapakah gerangan yang mampu memuasi kebutuhanmu?’

Mereka seluruhnya akan secara serempak menjerit dengan lisan fitrah mereka, ‘Kami butuh akan suatu Wujud yang tak bersifat faqîr seperti kami dalam hal kesempurnaan dan keberadaan kami.’.”

Selanjutnya, dia menyatakan: “Bahkan, lebih dari itu, fitrah mereka pun sesungguhnya bukan milik mereka, ‘Fitrah Allah yang diatasnya Dia menciptakan manusia. Sekali-kali tiada perubahan dalam (fitrah) ciptaan Allah.’ (QS 30: 30).

“Fitrah tauhid adalah dari Allah, dan apa saja yang dalam-dirinya bersifat bergantung (al-faqîr bi al-dzât) tidak akan bisa menjadi serba mencukupi-diri sendiri (al-ghani bi al-dzât). Perubahan seperti itu adalah sesuatu yang mustahil, dan karena mereka (secara esensial) bergantung dan membutuhkan, maka tak ada¾kecuali Dia Yang Mencukupi-Diri¾yang dapat mengatasi kebutuhan dan kepapaan mereka.

“Kepapaan ini bersifat esensial bagi mereka dan tak akan pernah bisa diatasi¾entah rantai kemaujudan ini memiliki awal (abadi) dan kekal atau tidak¾dan tak ada sesuatu pun kecuali Dia yang dapat memuasi kebutuhan mereka ini.

“(Oleh karena itu), apa pun (dari mereka) yang memiliki keindahan dan kesempurnaan, kedua sifat ini bukanlah milik mereka, melainkan pengejawantahan Kesempurnaan dan Keindahan-Nya… Dan kalian tidak melempar ketika kalian melempar, tetapi Allah-lah yang melempar (QS 8: 17).”

Dalam kaitan ini, Sayidina Husain bin Ali bin Abi Thalib RA dalam doanya di Padang Arafah berujar:

“الهي انا الفقير في غناي فكيف لاكون فقيرا في فقري ،

 الهي انا الجاهل في علمي فكيف لاكون جهولا في جهلي”

“Ya Allah, akulah yang faqîr (ketika aku merasa) kaya, bagaimana aku tidak benar-benar faqîr dalam (kenyataan) ke-faqîr-anku. Ya Allah, akulah yang bodoh (ketika aku merasa) mengetahui, bagaimana aku tidak benar-benar bodoh dalam (kenyataan) kebodohanku.”

Sesuai dengan aksioma yang menyatakan bahwa keseluruhan lebih besar daripada bagian-bagiannya, maka Pewujud lebih akbar daripada maujud-maujud yang diwujudkan-Nya. Pewujud adalah keseluruhan sedangkan maujud adalah bagian; Pewujud jauh lebih sempurna dan lebih utama daripada semua maujud yang tercurah dari-Nya.

Ciptaan hanya berperan sebagai bagian, tanda, ungkapan atau nama yang menunjukkan kesempurnaan dan kemutlakan Sang Maha Pencipta. Secara sederhana kita bisa katakan bahwa tiap-tiap maujud adalah tanda dan bias yang tidak sempurna dari Pewujudnya.

Grafik: Gana Islamika

Sebagai ilustrasi, sinar matahari yang memancar ke jemuran rumah Anda bukanlah matahari. Pancaran sinar itu hanyalah ‘penampakan’ atau ‘tingkatan’ tertentu dari cahaya matahari; ia hadir dengan kehadiran matahari dan bergantung secara esensial padanya, sedangkan matahari tidak pernah bergantung pada berkas-berkas pancaran tersebut.

Matahari dapat mengklaim kemandirian dari segenap pancarannya, sedangkan setiap pancaran bergantung secara esensial pada matahari. Singkatnya, segenap cahaya yang berasal dari matahari adalah tanda atau pantulan yang tidak sempurna dari matahari, sedangkan matahari mencakup seluruh pantulan atau tingkatan cahaya yang memancar darinya.

Allah berfirman: “Dialah Yang Maha Pertama dan Maha Terakhir; Yang Maha Tampak dan Yang Maha Tersembunyi.” (QS 57: 3). Maksudnya, apa pun yang terlintas di alam ciptaan adalah ‘nama’ dan ‘penampakan’ Allah, baik ciptaan itu dianggap memiliki sifat ‘pertama’, ‘terakhir’, ‘tampak’ ataupun ‘tersembunyi’.

Allah adalah Yang paling Pertama dari semua yang dianggap memiliki sifat ‘pertama’, Yang paling Terakhir dari semua yang dianggap memiliki sifat ‘terakhir’, Yang paling Tampak dari semua yang dianggap memiliki sifat ‘tampak’ dan Yang paling Tersembunyi dari semua yang dianggap memiliki sifat ‘tersembunyi’.

Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun engkau menghadap, di situlah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (Maha Meliputi) dan Maha Mengetahui.” (QS 2: 115). Tafsirnya, kemana saja kita menghadap atau tentang apa saja kita berpikir, kita akan menemukan Wajah Allah, lantaran semua yang kita hadapi dan kita pikirkan itu adalah ciptaan dan penampakan-Nya.

Suatu ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib RA pernah ditanya:

“Di mana Wajah Allah?” Sebelum menjawab, beliau meminta si penanya untuk membakar api unggun.

Ketika api sedang menyala dengan hebat, Ali bertanya: “Tunjukkan padaku di mana wajah bara api ini?”

Si penanya menjawab: “Seluruh sudut api ini adalah wajahnya.”

Kemudian Amirul Mukminin Ali menimpali: “Kalau benda ciptaan dan buatan seperti api saja engkau sudah tidak bisa mengetahui wajahnya, bagaimana dengan Dzat Pencipta yang sama sekali tidak serupa dengan ciptaan ini?!”[2]

Oleh karena itu, dalam lanjutan doa di atas, Sayidina Husain RA menyatakan:

“كيف يستدلّ عليك بما هو في وجوده مفتقر اليك،

أيكون لغيرك من الظهور ما ليس لك حتّى يكون هو المظهر لك،

متى غبت حتّى تحتاج الى دليل يدلّ عليك،

و متى بعدت حتّى تكون الاثار هي التي توصل اليك،

عميت عين لا تراك عليها رقيبا و خسرت صفقة عبد لم تجعل له من حبّك نصيبا”

“Bagaimana mungkin sesuatu yang wujudnya bergantung pada-Mu dijadikan petunjuk untuk menuju-Mu?! Mungkinkah selain-Mu memiliki ketampakan yang tak Kau miliki sehingga ia menjadi penampak bagi-Mu?!

“Kapan kiranya Kau hilang-sirna sehingga Engkau memerlukan sesuatu untuk menunjukkan Diri-Mu?! Kapan Kau pernah menjauh sehingga jejak-jejak-Mu (yakni ciptaan-ciptaan-Mu) menjadi pengantar untuk menuju-Mu?! Butalah mata hati orang yang tak melihat Engkau dalam keadaan selalu mengawasinya! Dan merugilah kegiatan hamba yang tidak diiringi dengan kecintaan kepada-Mu!” (MK)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Mizan 2002, hal. 92-94.

[2] Muhsin al-Faydh al-Kasyani, Nawâdir Al-Akhâr, Muassasa-e Muthala’at va Tahqiqat-e Farhanggi, hal. 81.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*