Mozaik Peradaban Islam

Pengantar Teosofi Islam (7): Tingkat-tingkat Wujud (2): Hakikat, Nama, dan Sifat

in Studi Islam

Last updated on April 30th, 2020 02:12 pm

“Allah” (الله) adalah sebutan yang mencakup seluruh Nama dan Sifat. Kata “Allah” juga mengandung makna keseluruhan Tindakan-Nya yang mengumpamakan Kesempurnaan Hakikat-Nya.

Foto: almunawwar.net

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Wujud Mutlak mempunyai dua sisi atau wajah: wajah ketakterbandingan (tanzîh), ketersembunyian, keagungan, ketunggalan, ketakterperian dan sebagainya; serta wajah perbandingan (tasybîh), ketampakan, keindahan, keragaman dan sebagainya.

Dalam kaitan dengan wajah yang pertama, Allah berfirman dalam Alquran: “Dan Allah memperingatkan kalian terhadap Diri-Nya.” (QS 3: 28). Ibnu Arabi mengaitkan ayat ini dengan ketakmungkinan membicarakan tentang Dzat dan Hakikat Wujud Mutlak atau Allah. Dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Arabi biasanya menukil sabda Baginda Nabi saw yang berbunyi:

“Pikirkanlah tentang segala sesuatu, tapi jangan sekali-kali berpikir tentang Dzat Allah.”[1]

Dalam kaitan dengan wajah ketakterbandingan ini, Allah berfirman: “Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.” (QS 42: 11).

Senada dengan itu, Sayidina Ali bin Abi Thalib RA berkata:

“Dia Tunggal dan tiada serupa-Nya dalam segala sesuatu… Sesungguhnya Dia yang Maha Agung dan Mahatinggi menyatu dalam makna Keesaan dan tidak terbagi-bagi. Tiada akal dan sangkaan (yang mampu) membatasi-Nya.”[2]

Akan tetapi, wajah Ketakterbandingan Allah berjalan seiring dengan wajah Penampakan dan Tindakan-Nya yang selalu Mencipta, Merahmati, Menghidupkan, Memberi, dan sebagainya. Tindakan-tindakan Allah ini teramati oleh manusia sebagai bentuk-bentuk ciptaan atau Nama-nama Allah Yang Mahamulia.

Dalam suatu hadis qudsi Allah menyatakan:

كنت كنزًا مخفيّا  فأحببت أن أُعرف فخلقت الخلق لكي أُعرف

“Aku adalah khazanah yang tersembunyi, lalu Aku ingin diketahui, sehingga Aku mencipta agar Aku diketahui.”[3]

Allah hadir di alam ciptaan melalui Tindakan-tindakan yang terkait dengan Nama-nama tertentu. Sedangkan Nama Allah berfungsi untuk menandakan dan mengumpamakan Kehadiran ilahi (al-Hadhrah al-Ilâhiyyah) dalam medan kesadaran dan pemahaman makhluk.

Nama dan Sifat Allah adalah bayangan atau perumpamaan tentang Dzat Mahatinggi lagi Mahasuci, bukan merupakan Hakikat yang sebenarnya. Oleh karenanya, setiap kali kita melihat atau merenungkan suatu tanda, kita membayangkan hal yang ada di balik tanda tersebut.

Nama berarti sebutan yang dengannya Allah dipanggil dan ditinggikan, sedangkan Sifat berarti ciri yang tampak pada kesempurnaan segenap Ciptaan-Nya. Jadi, Nama dan Sifat ini sebetulnya adalah dua tingkatan dari satu Hakikat yang sama. Allah (الله) adalah sebutan yang mencakup seluruh Nama dan Sifat. Kata Allah juga mengandung makna keseluruhan Tindakan-Nyayang mengumpamakan Kesempurnaan Hakikat-Nya.

Nama dan Sifat Allah ada yang melekat pada Hakikat-Nya dan ada yang tampak pada Tindakan-Nya. Sifat dan Nama Allah yang melekat pada Hakikat-Nya disebut dengan ash-shifât adz-dzâtiyyah, seperti Maha Esa dan Mahatunggal (hid dan ahad), Mahahidup, Mahatinggi, Mahakudus, Maha Agung, Maha Pemurah, Maha Pencipta, Mahakaya, dan sebagainya.

Sifat dan Nama Allah yang tampak pada Tindakan-Nya disebut dengan ash-shifât al-fi’liyyah seperti Maha Pembalas, Maha Mematikan, Maha Pemberi rezki, Maha Penerima taubat, Maha Pengampun, Maha Penerima syukur dan sebagainya.[4]

Dalam sejumlah ayat, Nama-nama Allah itu disebut dengan al-Asma’ al-Husna (Nama-nama Terbaik). Allah berfirman, Allah mempunyai Nama-nama Terbaik (al-Asma’ al-Husna), maka berdoalah melalui Nama-nama tersebut…” (QS. 7: 180), dan  Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahmân(Maha Pengasih). Dengan nama yang mana saja engkau berseru, Dia mempunya Nama-nama Terbaik…” (QS. 17: 110).

Dalam surah Al-Hasyr ayat 24, Allah berfirman: “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Memulakan (kejadian), Yang Membentuk, Yang Mempunyai Nama-nama Terbaik…” (QS 59: 24). Dari ketiga ayat di atas jelas bahwa Allah adalah Hakikat Wujud yang mempunyai Nama-nama Terbaik, dan bahwa seluruh Nama adalah sisi-sisi yang menandakan Kesempurnaan Mutlak-Nya.

Kata ism (اسم) berakar pada kata sumuw yang berarti ketinggian, sehingga ism adalah sebutan yang meninggikan penyandangnya. Ketika Alquran menyatakan bahwa Allah memiliki al-Asma’ al-Husna, maka maknanya adalah Sebutan-sebutan yang menunjukkan Ketinggian yang Terbaik.

Istilah al-Asma’ al-Husna yang tercantum dalam dalam ayat-ayat di atas tampak sekali mengesankan ketinggian Penyandang Nama-nama tersebut. Oleh sebab itu, setiap orang pastilah mencari ism yang terbaik bagi dirinya, meskipun dalam kehidupan sehari-hari penyandang ism yang bersangkutan belum tentu menunjukkan sifat-sifat terpuji yang selaras dengan keindahan ism-nya.

Berbeda dengan ism, shifah (صفة) dalam Alquran senantiasa dipakai untuk pengertian negatif. Dalam berbagai ayat Alquran, Allah selalu menyucikan dan meninggikan Diri-Nya dari penyifatan orang-orang kafir dan musyrik kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan mereka (jin-jin) itu semua, dan mereka (orang-orang musyrik) berbohong (dengan mengatakan): “Dia mempunyai anak lelaki dan perempuan,” tanpa berdasarkan pada pengetahuan. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari sifat-sifat yang mereka berikan. (QS 6: 100).

Dalam ayat lain, Alquran menyebutkan:

Sekiranya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak-binasa. Maka Mahasuci Allah Pemilik ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan. (QS 21: 22).

Shifah dalam bahasa Arab biasanya digunakan untuk memerikan ciri-ciri yang tampak pada sesuatu, tanpa mengesankan ketinggian seperti yang terdapat dalam istilah ism. Sudut-pandang ini menjelaskan alasan mengapa dalam banyak hadis disebutkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat negatif, yakni sifat-sifat yang tidak mungkin disandang-Nya.

Sayidina Ali bin Abi Thalib RA berkata:

الحمد لله الذّي لا يبلغ مدحته القائلون، ولا يحصي نعماءه العادّون، ولاﯾﺅدّي حقّه المجتهدون، الذّي لا يدركه بعد الهمم ولا يناله غوص الفطن ، الذّي ليس لصفته حدّ ّ محدود ّ ولا نعتّ موجودّ  ولا وقتّ معدودّ ولا اجلّ ممدودّ

“Segala puji bagi Allah yang tiada pembicara mana pun mampu meliputi segala pujian bagi-Nya. Tiada penghitung mana pun yang mampu mencakup bilangan nikmat karunia-Nya. Tiada daya-upaya bagaimana pun mampu memenuhi kewajiban pengabdian kepada-Nya.

“Tiada pikiran sejauh apa pun mampu mencapai-Nya, dan tiada kearifan sedalam apa pun yang mampu menyelami-Nya. Sifat-Nya tidak terbatasi oleh batasan dan tidak terperikan oleh ungkapan, tidak terikat waktu, dan tidak menjumpai kesudahan…”

Kemudian Ali melanjutkan:

وكمال الاخلاص له نفي الصفات عنه  لشهادة كلّ صفة أنّـها غير الموصوف  وشهادة كلّ موصوف أنّـه غير الصّفة، فمن وصف الله فقد قرنه  ومن قرنه فقد ثنّاه  ومن ثنّاه فقد جزّأه ومن جزّأه فقد جهله

ومن جهله فقد أشار اليه ومن أشار اليه فقد حدّه  ومن حدّه فقد عدّه

“Takkan sempurna keikhlasan kepada-Nya kecuali dengan penafian segala sifat dari-Nya. Karena setiap ‘sifat’ adalah berlainan dengan ‘yang disifatkan’, dan setiap ‘yang disifatkan’ bukanlah persamaan dari ‘sifat yang menyertainya’.

“Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada-Nya, sama saja dengan seseorang yang menyertakan sesuatu dengan-Nya. Dan barangsiapa menyertakan sesuatu dengan-Nya, maka dia telah menduakan-Nya. Dan barangsiapa menduakan-Nya, maka dia telah memilahkan-Nya. Dan barangsiapa memilahkan-Nya, maka dia sesungguhnya tidak mengenal-Nya.

“Dan barangsiapa tidak mengenal-Nya, akan menunjuk-nunjuk kepada-Nya. Dan barangsiapa melakukan penunjukan kepada-Nya, maka dia telah membuat batasan tentang-Nya. Dan barangsiapa membuat batasan tentang-Nya, sesungguhnya dia telah menganggap-Nya berbilang.”[5] (MK)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] William Chittick, Op. Cit., hal. 62.

[2] Muhsin al-Faydh al-Kasyani, Op.Cit., hal. 72.

[3] William Chittick,Op.Cit. hal. 66.

[4] Lebih jauh, lihat: ‘Allamah Sayid Muhammad Husain Thabathaba’i, al-Rasâ’il al-Tauhîdiyyah, Mu’assasah al-Nu’man 1991, Beirut, risalah kedua, hal.23-53. 

[5] Ali bin Abi Thalib, Op.Cit, hal. 21.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*