Mozaik Peradaban Islam

Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW (14): Kembali ke Pangkuan Ibunda

in Sejarah

Halimah membawa Muhammad kepada Rahib Yahudi, “Ketika dia melihat tanda Khatam al-Nabiyin, dia langsung berkata, ‘Demi Allah! Dialah orangnya. Bunuhlah anak kecil ini dan bunuhlah aku bersamanya, karena dia akan datang pada kerajaan Yahudi dan menghapus agama Musa.’

Foto ilustrasi: Tangkapan layar film Muhammad: The Messenger of God (2015)

Lima tahun lamanya Muhammad berada dalam pengasuhan Halimah di tengah lembah Bani Saad. Dia telah merasakan kondisi alam yang masih asli yang demikian membekas abadi dalam kehidupannya; menghirup udara segar, mencium bau gurun, mengenyam alam bebas terbuka, mengamati makhluk Sahara, tertawa dan gembira bermain dengan saudara sesusuan dan tetangganya.[1]

Ketika berusia dua tahun, Muhammad sangat kuat bagi ukuran anak seumurnya. Namun, justru Halimah khawatir akan ancaman yang bakal menimpa anak tersebut. Sebagian dari rohaniawan Yahudi dan Kristen telah melihat tanda-tanda kenabian pada diri balita itu.

Halimah berkata, “Aku telah membawa Muhammad ketika umurnya dua tahun kepada seorang Rahib Yahudi, lalu dia melihat bahunya sebelah kanan.

“Ketika dia melihat tanda Khatam al-Nabiyin, dia langsung berkata, ‘Demi Allah! Dialah orangnya. Bunuhlah anak kecil ini dan bunuhlah aku bersamanya, karena dia akan datang pada kerajaan Yahudi dan menghapus agama Musa.’.”[2]

Dalam versi riwayat lain, suatu ketika Halimah meninggalkan Makkah dan berpapasan dengan segolongan kaum Yahudi. Maka Halimah bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian tidak menjelaskan mengenai anakku ini? Dan aku menceritakan tentang berkah yang aku dapat darinya.

“Pada saat itu tidak ada yang menakutkanku kecuali perkataan sebagian mereka kepada sebagian yang lain, ‘Bunuhlah dia.’

“Lalu mereka bertanya padaku, ‘Apakah anak itu yatim?’

“Aku menjawab sambil menunjuk kepada suamiku, ‘Tidak, ini ayahnya dan aku ibunya.’

“Mereka pun berkata, ‘Andai dia yatim, pasti kami membunuh!’.”[3]

Ancaman semacam ini telah mengakibatkan Halimah khawatir akan keselamatan jiwa Muhammad. Sehingga, ketika periode menyusuinya telah selesai Halimah membawa Muhammad kembali kepada keluarganya.

Sebenarnya, kehadiran balita itu menjadi rahmat dan berkah ekonomi bagi keluarga Halimah. Namun, ketika itu wabah kolera sedang melanda Makkah, yang menyebabkan Muhammad harus kembali ke perkampungan Bani Saad.[4]

Kejadian serupa berulang kembali, ketika sejumlah pendeta dari Etiopia yang tiba di Hijaz berencana akan mengambil paksa Muhammad. Mereka melihat balita yang berada di tengah Bani Saad itu memiliki sejumlah ciri-ciri yang diberitakan dalam Injil sebagai tanda-tanda Nabi yang akan datang setelah Nabi Isa AS.[5] Karena itu para pendeta itu berupaya untuk membawa paksa anak itu ke Etiopia agar bangsanya mendapatkan kehormatan memiliki Nabi akhir zaman.

Merasa terancam akan hal itu, Halimah dan suaminya membawa Muhammad pulang ke Makkah lagi. Kini setelah genap usianya lima tahun, saatnya kembali ke pangkuan ibundanya.[6] Aminah sangat terkejut melihat Halimah. Dia bertanya alasan Halimah yang telah membawa Muhammad kembali.

Halimah berkata, “Tak ada yang salah dengan dia atau kami. Kami sudah menyelesaikan tugas sejauh kemampuan kami. Kami pikir dia akan lebih baik bersamamu untuk mencegah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padanya.”[7]

Aminah berkata itu bukan cerita sesungguhnya, pasti ada hal yang lain. Dia terus menekan Halimah sehingga diceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi padanya.

Aminah berkata kepadanya, “Jangan takut setan pada anak lelaki ini, karena dia telah dilindungi darinya. Putraku ini akan mempunyai masa depan yang cerah. Aku ceritakan padamu bahwa kehamilanku adalah yang paling mudah dari yang pernah dirasakan oleh perempuan manapun.

“Ketika aku hamil, suatu malam tampak dalam mimpiku seolah-olah suatu cahaya muncul dariku untuk menerangi istana-istana Suriah. Ketika aku melahirkannya, dia mengangkat kepalanya ke langit.”[8]

Aminah merasakan tanda-tanda yang cukup untuk mengindikasikan bahwa putranya itu akan memiliki peran besar di kemudian hari. Muhammad tinggal dengan Ibunya yang memanjakan dan memeliharanya seperti kebanyakan ibu memelihara anak-anak yang sangat disayanginya.

Aminah tidak menikahi lelaki lain. Dia tidak bisa melupakan kenangan tragis waktu kehilangan suaminya yang tercinta. Pada titik ini, Aminah ingin membaktikan dirinya dalam mengasuh putranya itu sepenuh hati sebagai tanda mata terakhir Abdullah kepadanya.

Akhirnya, Muhammad menghabiskan beberapa waktu di bawah kasih sayang ibunya. Dalam rentang waktu itu pula, Aminah mencurahkan kasih sayang pada Nabi di masa kanak-kanaknya. Pengaruh Aminah sangat besar bagi Nabi Islam itu di tengah-tengah masa keemasan pertumbuhannya. Sehingga, kematangan jiwa dan jasmani Rasulullah semakin bertumbuh.

Ibnu Ishaq mengatakan, “Rasulullah Saw ketika bersama ibunya Aminah binti Wahab berada dalam lindungan dan penjagaan Allah, sehingga Allah menumbuhkannya sebagai insan yang baik.”[9]

Ketika usianya menginjak enam tahun, ibundanya telah melihat sifat-sifat lekaki agung memancar dalam jiwa dan akhlak anaknya. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam: 4). (SN)

Bersambung….

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Lihat Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah, (Mizan, 1989), hal 86.

[2] Lihat Sayid Ja’far Arif Kashfi, Muhammad Saw dan Kaum Yahudi, (Titisan, 2016), hal 211.

[3] Lihat Aisyah Abdurrahman binti Syathi’, Sayidah Aminah, Ibunda Nabi Muhammad SAW, (Lentera, 2004), hal 217-218.

[4] Lihat Ja’far Subhani, Ar-Risalah: Sejarah Nabi Muhammad SAW, (Lentera, 2009, cetakan kedelapan), hal 107.

[5] Ibid.

[6] Sayed Ali Asgher Razwy, Muhammad Rasulullah SAW : Sejarah Lengkap Kehidupan dan Perjuangan Nabi Islam Menurut Sejarawan Timur & Barat, (Zahra , 2004), hal 45.

[7] Lihat Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid I, (Darul Falah, 2000), terjemahan Fadhli Bahri, hal 135.

[8] Ibid

[9] Aisyah Abdurrahman binti Syathi’, Op.Cit, hal 226.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*