Mozaik Peradaban Islam

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (67): Para Putra Genghis Khan (1): Kisah Tentang Perebutan Kekuasaan

in Sejarah

Last updated on July 2nd, 2019 02:15 pm

Genghis Khan menggambarkan keturunannya bagaikan ular. Dari keempat anaknya, siapa yang akan dia tunjuk?

Para putra Genghis Khan: Jochi (sumber: Me/Wikimedia), Chagatai (sumber: Enerelt/Wikimedia), Ogodei (sumber: Lukisan peninggalan Dinasti Yuan, China), dan Tolui (sumber: Rashid-al-Din Hamadani). Grafis: Gana Islamika.

Genghis Khan memiliki banyak sekali anak, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka adalah anak-anak dari istri-istri dan selir-selirnya. Istri pertama dan tertua adalah Borte, darinya Genghis Khan memiliki empat anak laki-laki, mereka adalah Jochi, Chagatai, Ogodei, dan Tolui. Menurut tradisi bangsa Mongol, anak-anak dari istri pertama berhak untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak dari istri selanjutnya. Oleh karenanya, keempat anak laki-lakinya ini mendapatkan preferensi dan prioritas yang lebih besar.

Genghis Khan memberikan porsi peran yang sangat vital terhadap keempat anaknya ini. Mereka telah diberi kepercayaan yang begitu besar untuk mengurus pemerintahan Kekaisaran Mongol, sehingga mereka disebut sebagai “Empat Pilar Kekaisaran”. Kepada masing-masing empat anak laki-laki ini, Genghis Khan memberikan tugas-tugas yang spesifik.

Kepada Jochi, putra pertama, dia diberi tugas untuk mengatur mengenai perburuan dan pengejaran, yang merupakan keterampilan terhormat bagi bangsa Mongol dan dijunjung tinggi oleh mereka. Untuk Chagatai, putra kedua, dia diberi tugas untuk mengurus administrasi yasa (keamanan) dan hukum, baik untuk penegakannya, peneguran, dan penghukuman bagi siapapun yang melanggar. Ogodei, putra ketiga, dia ditunjuk untuk menjadi penasihat administrasi kekaisaran. Dan Tolui, putra keempat, dia bertugas untuk menjadi komandan dan mengorganisir militer mulai dari prajurit hingga peralatannya.

Ketika Temujin pertama kali menjadi Genghis Khan (khan bagi seluruh suku-suku di padang rumput Mongolia), dia membagi-bagi kepemimpinan suku-suku tersebut kepada empat putranya ini. Dan untuk masing-masing putra lainnya yang lebih muda, dan juga saudara-saudara Genghis Khan, dia memberikan mereka porsi untuk memimpin sebagian pasukan.

Dan setelahnya, dia menekankan tentang pentingnya persatuan dan ikatan emosional di antara keempat putra dan saudara-saudaranya. Genghis Khan secara terus menerus menaburkan benih keharmonisan dan kerukunan di dada putra-putranya dan saudara-saudaranya. Dia menginginkan agar tradisi saling menolong terpatri pada hati masing-masing mereka. Untuk memperkuat bangunan dan fondasi tentang itu, Genghis Khan seringkali menyampaikannya melalui perumpamaan-perumpamaan.

Suatu hari, dia memanggil seluruh putra-putranya dan mengumpulkan mereka. Di hadapan mereka, Genghis Khan mengambil satu anak panah dan mematahkannya sehingga menjadi dua bagian. Kemudian dia mengambil dua anak panah, menyatukannya, dan lalu mematahkannya juga. Dia terus melakukan itu sampai anak panah yang dia ambil menjadi begitu banyak, yang bahkan orang yang paling kuat sekalipun tidak akan mampu mematahkannya.

Kemudian dia berkata kepada mereka, “Demikian juga dengan kalian. Sebuah anak panah yang lemah, ketika itu ditambah dan didukung oleh saudara-saudaranya, bahkan tidak akan ada prajurit perkasa manapun yang mampu mematahkannya, melainkan malah membuat tangannya menjadi lemah ketika mencobanya.

“Karena itu, selama kalian bersaudara, mendukung satu sama lain, dan saling memberi pertolongan satu sama lain, meskipun musuhmu adalah orang-orang dengan kekuatan dan keperkasaan yang besar, namun mereka tidak akan mendapatkan kemenangan atas kalian.

“Tetapi jika tidak ada pemimpin di antara kalian, yang akan menasihati di antara saudara-saudaramu, dan para putra, dan para istri dan suami, dan sahabat-sahabat yang menyatakan kesetiaan dan patuh kepada perintahnya, maka urusan kalian akan menjadi seperti ular dengan banyak kepala.

“Suatu malam, ketika cuaca sangat dingin, ular berkepala banyak ingin masuk ke dalam lubang untuk mengusir rasa dingin. Tetapi ketika masing-masing kepala memasuki lubang, kepala lainnya akan menentangnya, dan dengan cara ini mereka semua akan binasa. Tetapi ular lain, yang hanya memiliki satu kepala dan ekor yang panjang, memasuki lubang dan menemukan ruang untuk ekornya dan semua anggota tubuhnya, yang terlindungi dari dingin yang menyayat.”

Genghis Khan seringkali menekankan tentang pentingnya persatuan dan tali persaudaraan kepada keturunannya, dengan harapan itu dapat menjadi prinsip yang hidup pada masing-masing hati mereka. Namun terkait perkara definitif, siapa yang layak untuk menjadi khan selanjutnya, kenyataannya tidak seindah yang dikira. Peristiwa tentang ular berkepala banyak itu akan benar-benar terjadi di antara anak-anaknya.[1]

Tidak lama sebelum penyerangan ke Asia Tengah pada tahun 1219, tidak seperti penakluk lainnya yang seringkali menganggap diri mereka adalah Tuhan, Genghis Khan sadar sepenuhnya bahwa dia suatu saat akan mati. Adalah Yesui,[2] istri ketiga Genghis Khan, seorang putri Tatar, yang mengingatkannya, “Ketika tubuhmu, seperti pohon tua besar yang akan tumbang, kepada siapa engkau akan mewariskan rakyatmu yang seperti rami kusut? Ketika tubuhmu, seperti pilar dari batu yang akan runtuh, kepada siapa engkau akan mewariskan rakyatmu yang seperti kawanan burung?”

Peristiwa tanya jawab ini terekam dengan detail dalam dokumen Sejarah Rahasia Bangsa Mongol. Yesui kemudian melanjutkan, “Dari keempat putramu, para pahlawan yang telah engkau turunkan, yang mana yang akan engkau tunjuk sebagai penerusmu? Aku telah memberimu nasihat tentang ini, memikirkannya, kami – para putra, adik lelaki, rakyat jelata, dan diri saya sendiri yang bukan siapa-siapa – memahami pentingnya pertanyaan ini. Perintahmulah yang akan menjadi keputusan!”

Genghis Khan tidak murka mendengar pertanyaan Yesui, dia menanggapinya dengan bijak, “Meskipun dia hanya seorang wanita, kata-kata Yesui lebih benar daripada benar. Tidak peduli siapa – adik lelaki, dan para putra, dan engkau, Borchu (salah satu jenderal Mongol, dia salah satu pengikut paling awal Genghis Khan), Muqali, dan lainnya – tidak ada yang memberi tahuku seperti ini. Dan juga aku lupa, seolah-olah aku tidak akan mengikuti nenek moyang. Aku tertidur, seolah-olah aku tidak akan ditangkap oleh kematian.”[3] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Ala-ad-Din Ata-Malik Juvaini, Tarīkh-i Jahān-gushā, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John Andrew Boyle, The History of The World-Conqueror: Vol 1 (Harvard University Press Cambridge, 1958), hlm 40-42.

[2] Peristiwa bertemunya Genghis Khan (waktu itu masih bernama Temujin) dengan Yesui sudah pernah dibahas dalam seri artikel sebelumnya: “Bangsa Mongol dan Dunia Islam (19): Peleburan Mongol-Tatar”, dapat diakses di laman https://ganaislamika.com/%ef%bb%bfbangsa-mongol-dan-dunia-islam-19-peleburan-mongol-tatar/.

[3] Igor de Rachewiltz, The Secret History of the Mongols: A Mongolian Epic Chronicle of the Thirteenth Century (Western Washington University, 2015), hlm 171-172.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*