Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Nuh (11): Mengarungi Lautan

in Studi Islam

Last updated on September 2nd, 2019 01:21 pm

Ibnu Abbas berkata, “Mereka naik bahtera pada tanggal 10 Rajab, dan mereka berangkat pada Hari Asyura, (hari kesepuluh) al-Muharram; oleh karena itu, semua orang berpuasa pada Hari Asyura.”

Foto Ilustrasi: Shutterstock

Ibnu Abbas mengatakan, Allah mengirimkan hujan selama 40 hari dan 40 malam sampai akhirnya membanjiri kaum penyembah berhala.[1] Tidak diketahui dengan pasti apakah banjir tersebut menutupi seluruh bumi atau hanya sebagian saja, namun Al-Tabari menafsirkan bahwa banjir tersebut melanda seluruh bumi sebagaimana dikatakannya, “Semua makhluk di muka bumi, setiap makhluk berjiwa atau (bahkan) pohon, lenyap. Tidak ada makhluk yang tersisa kecuali Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera.”[2]

Ibnu Abbas meriwayatkan tanggal keberangkatan mereka, “Mereka naik bahtera pada tanggal 10 Rajab, dan mereka berangkat pada Hari Asyura, (hari kesepuluh) al-Muharram; oleh karena itu, semua orang berpuasa pada Hari Asyura.”[3] Bahtera tersebut kemudian mengarungi lautan selama sekitar enam bulan.[4]

Diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Abdul Ghafur, Rasulullah SAW berkata, “Nuh naik ke bahtera pada hari pertama Rajab. Dia dan semua orang yang bersamanya berpuasa. Bahtera melaju bersama mereka selama enam bulan – dan seterusnya, sampai al-Muharram. Bahtera berlabuh di al-Judi pada Hari Asyura, dan Nuh berpuasa dan memerintahkan semua hewan liar dan (peliharaan) yang bersamanya untuk berpuasa sebagai rasa terima kasih kepada Allah.”[5]

Adapun mengenai berapa orang yang berangkat, para ulama berbeda pendapat, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, “Para ulama memiliki pendapat yang berbeda tentang jumlah mereka yang bersama Nuh di bahtera. Ibnu Abbas menyatakan bahwa ada 80 orang beriman, sementara Ka’ab al-Ahbar berpendapat bahwa ada 72 orang beriman. Yang lain mengklaim bahwa ada 10 orang beriman dengan Nuh.”[6]

Mereka yang meriwayatkan terdapat 80 orang di antaranya:

Ibnu Abbas meriwayatkan, “Di dalam bahtera Nuh membawa putra-putranya, Sem, Ham, dan Yafet, dan menantu perempuannya, para istri dari putra-putranya, serta 73 orang dari keturunan Syits yang beriman kepadanya. Jadi, ada 80 orang di dalam bahtera.”

Abu Nahik Ustman bin Nahik meriwayatkan, “Aku mendengar Ibnu Abbas berkata, ‘Di bahtera Nuh ada 80 orang. Salah satunya adalah Jurhum.’.” Jurhum adalah nenek moyang dari suku Arab kuno.

Lalu mereka yang meriwayatkan tujuh, delapan, atau sepuluh orang adalah:

Menjelaskan tentang ayat, “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (Q.S 11:40), al-Amash berkata, “Mereka adalah tujuh: Nuh, tiga menantu perempuan, dan tiga putranya.”

Qatadah bin an-Numan berkata, “Dikatakan kepada kami bahwa hanya Nuh, istrinya, ketiga putranya, dan istri mereka, yang semuanya berjumlah delapan, yang semuanya bersama-sama di dalam bahtera.”

Ibu Ishaq berkata, “Dia membawa serta ketiga putranya, Sem, Ham, dan Yafet, dan istri mereka, serta enam orang dari mereka yang beriman kepadanya. Jadi, mereka adalah sepuluh orang, menghitung Nuh, putra-putranya, dan (tetapi tidak menghitung) pasangan mereka.”[7]

Mengenai ke mana saja bahtera tersebut selama enam bulan, Ibnu Abbas meriwayatkan:

(Bahtera) itu tidak berhenti melaju di mana pun hingga tiba ke wilayah suci (Makkah dan Madinah). Namun, ia tidak memasuki wilayah suci melainkan hanya berputar-putar selama seminggu. Rumah (Allah) yang dibangun oleh Adam diangkat – ditinggikan, agar tidak terendam – rumah bermukim dengan Batu Hitam (Hajar Aswad) di Abu Qubays. (Kisah tentang Rumah Allah ini bisa dibaca dalam artikel: Kisah Tentang Adam (10): Rumah Pertama di Muka Bumi)

Setelah bahtera mengitari wilayah suci, ia pergi kembali dengan (orang-orang di atasnya) melintasi bumi dan akhirnya mencapai al-Judi – sebuah gunung yang kakinya berada di dataran Mosul – yang mana baru berhenti setelah enam bulan dari lengkapnya tujuh (malam), atau, menurut pernyataan lain, setelah enam bulan binasanya orang-orang zalim.

Ketika mereka tiba di al-Judi, dikatakan, “Bumi, telanlah airmu!” artinya, serap airmu yang keluar dari dirimu, “dan Surga, tahanlah!” yang berarti, tahan airmu, “dan air menghilanglah di tanah,” artinya, bumi menyerapnya.

Air yang turun dari surga menjadi lautan yang terlihat di bumi hari ini. Sisa terakhir air bah di bumi adalah air di Hisma (sebuah wilayah di utara Arab). (Air) itu tetap di bumi selama empat puluh tahun setelah air bah dan kemudian menghilang.[8] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 1, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal (State University of New York Press: New York, 1989), hlm 362.

[2] Ibid., hlm 361.

[3] Ibid., hlm 362.

[4] Al-Tabari mengatakan waktu dari datangnya air bah sampai surut adalah enam bulan sepuluh hari. Sementara Ibnu Abbas mengatakan bumi dilanda hujan selama 40 hari dan 40 malam, kemudian Nuh mengarungi lautan selama enam bulan, Ibid., hlm 361-362.

[5] Ibid., hlm 367.

[6] Ibnu Katsir, Qisas Al-Anbiya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Mustapha Geme’ah (Darussalam: Riyadh, e-book version), Chapter 3, Prophet Nuh (Noah).

[7] Riwayat-riwayat ini dapat dilihat dalam Al-Tabari, Op.Cit., hlm 364-366.

[8] Ibid., hlm 362-363.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*