Mozaik Peradaban Islam

Kitab Al-Luma’ fi At-Tashawwuf Karya Abu Nasr as-Sarraj (13): Bab 17, Sifat Ahli Makrifat

in Pustaka

Yahya bin Muadz ar-Razi berkata, “Dunia itu ibarat mempelai wanita. Barangsiapa mencarinya, maka dia akan menjadi sahayanya. Sedangkan orang yang menolaknya melalui sikap zuhud akan menghitamkan wajah, mencabut sanggul, dan mengoyakkan pakaian dunia.”

Foto Ilustrasi: Shutterstock

Bab 17:

Sejumlah Sifat Ahli Makrifat dan Pendapat Sufi Mengenainya

Yahya bin Muadz ar-Razi, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Selama seorang hamba mencari makrifat (mengenal Allah), Allah akan berkata padanya, ‘Jangan memilih sesuatu. Jangan libatkan dirimu dalam kebebasan memilih sampai kau benar-benar mencapai makrifat.’

“Ketika dia sudah mengenal Tuhannya secara eksperiensial dan menjadi mistikus, maka Allah akan berkata padanya, ‘Pilihlah atau tidak. Jika kau memilih, maka pilihanmu melalui kebebasan memilih Kami. Dan jika tidak, maka keputusanmu untuk meninggalkan pilihan juga melalui kebebasan memilih Kami. Entah memilih atau meninggalkan pilihan, engkau ada bersama Kami.’.”

Yahya bin Muadz, semoga Allah merahmati, juga pernah berkata, “Dunia itu ibarat mempelai wanita. Barangsiapa mencarinya, maka dia akan menjadi sahayanya. Sedangkan orang yang menolaknya melalui sikap zuhud akan menghitamkan wajah, mencabut sanggul, dan mengoyakkan pakaian dunia.

“Bagaimanapun, seorang arif kepada Allah akan selalu disibukkan dengan Tuannya dan tak akan pernah menoleh pada dunia.” Dia melanjutkan, “Ketika arif meninggalkan tata krama yang terkait dengan makrifat, maka dia akan hancur bersama orang-orang yang hancur.”

Dzu Al-Nun Al-Mishri, semoga Allah merahmati, berkata, “Tanda-tanda orang arif ada tiga: pertama, sinar (nur) makrifatnya tidak memadamkan sinar kesalehannya. Kedua, tidak berpegang pada ilmu batin yang merusakkan taklif lahiriah (syariat)nya. Ketiga, banyaknya nikmat Allah dan kemuliaan yang diberikan kepadanya tidak mendorongnya untuk memporak-porandakan tirai larangan-larangan Allah Swt.”

Salah seorang Sufi mengatakan, “Arif bukanlah seorang yang pandai menerangkan makrifat sesuai dengan anak-anak akhirat, lalu bagaimana dia bisa disebut arif bila beramal sesuai dengan anak-anak dunia ini?” Dia juga mengungkapkan, “Bila arif memerhatikan makhluk dan berpaling dari Zat Yang diketahuinya tanpa seizin-Nya, maka dia akan menjadi hina di kalangan makhluk-Nya.”

Dan dia berkata, “Bagaimana kau bisa mengetahui-Nya, sementara penghormatan dan pemuliaan-Nya tidak menguasai hatimu ? Bagaimana kau bisa mengingat dan mencintai-Nya, sementara kelembutan kasih sayang-Nya tidak mewujud dalam hatimu, dan kau telah lalai dengan nikmat yang diberikan padamu sebelum kau diciptakan-Nya?”

Aku pernah mendengar Muhammad bin Ahmad bin Hamdun al-Farra (w.370/980-81) berkata, “Aku mendengar Abd Ar-Rahman al-Farisi menjawab tentang pertanyaan kesempurnaan makrifat bahwa ‘ketika hal-hal yang beraneka ragam telah berkumpul menjadi satu, berbagai kondisi spiritual dan tempat persinggahan telah sejajar dan ketika tidak ada lagi perbedaan.”

Syaikh Abu Nashr Al-Sarraj berkata: Maknanya ialah manakala seorang hamba senantiasa berada dalam satu waktu, tanpa ada perubahan. Yakni, dalam segala kondisinya selalu dengan Allah dan untuk Allah dan meninggalkan apa yang selain Allah. Saat itulah, dia dalam kondisi spiritual yang sebenarnya. (MK)

Bersambung….

Sebelumnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*