Mozaik Peradaban Islam

Pengantar Teosofi Islam (13): Tingkat-tingkat Wujud (8): Ibrah dan Itibâr

in Studi Islam

Last updated on May 23rd, 2020 01:34 pm

Orang-orang yang bermata-budi dapat menembus dan melintasi teks menuju kepada konteks, sebagaimana mereka juga bisa melintasi fenomena empiris menuju kepada makna substantifnya.

Foto ilustrasi: Gaia/iStock

Dalam banyak ayat, setelah berbicara tentang tanda atau perumpamaan, Alquran berbicara tentang metode memaknai tanda atau perumpamaan tersebut. Di antara metode khas yang diajarkan oleh Alquran ialah metode ‘ibrah (عبرة) atau i’tibâr (اعتبار).

‘Ibrah atau i’tibâr dalam bahasa Arab berasal dari akar kata ر ب ع yang berarti “bergerak dari satu keadaan kepada keadaan lain, menyeberangi dan melintasi jembatan atau menembus batas pemisah”.[1] Berbagai derivat kata itu berkali-kali digunakan dalam Alquran untuk menunjukkan kemampuan manusia melihat makna di balik gejala.

Dalam surah Yusuf (12) ayat 43, Alquran menggunakannya untuk kemampuan mena’wilkan atau mena’birkan mimpi (تعبير). Allah berfirman, “Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): ‘Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan tujuh butir lainnya yang kering.’ Hai orang-orang yang terkemuka: ‘Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.”

Dalam surah Al-Hasyr (59) ayat 2, Alquran menyatakan: “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang bermata-budi.” Dalam ayat ini, i’tibâr dipakai dalam konteks mengambil pelajaran dari kengerian yang menimpa orang-orang kafir. Seperti terungkap dalam ayat itu, mengambil i’tibâr itu merupakan kegiatan orang yang bermata-budi (uli al-abshâr).

Pada surah Yusuf (12) ayat 111, Alquran kembali menegaskan bahwa uli al-abshâr (orang-orang yang bermata-budi) sanggup menilik ibrah dari kisah-kisah para rasul. Allah berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat ibrah bagi orang-orang yang bermata-budi. (Alquran) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan (cerita) yang membenarkan (kitab-kitab) yang telah ada dan merincikan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.”

Maksudnya, di samping memiliki aspek historis yang sudah lampau dan lenyap atau aspek fenomenal-tekstual yang telah ditelan zaman, kisah-kisah Alquran juga memiliki aspek batin dan kontekstual yang abadi, yang bisa diselami dan dihayati oleh orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir.

Dalam surah an-Nur (24) ayat 44, Alquran berbicara tentang ‘ibrah di balik fenomena pembalikan siang dan malam. Allah berfirman: “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ibrah bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.”

Dalam ayat 66, Surah An-Nahl (16), Allah berfirman: “Sesungguhnya pada (kehidupan dan perilaku) binatang ternak itu terdapat ibrah bagi kalian.”

Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ibrah bagi orang yang takut (kepada Allah).” Istilah ‘ibrah dalam ayat-ayat di atas berarti ‘pelajaran yang kita ambil setelah kita melampaui aspek lahiriah dari suatu fenomena.’

Semua ayat di atas secara umum menegaskan bahwa Allah telah menurunkan wahyu yang mengandung dua sisi: sisi lahiriah dalam bentuk kata-kata dan teks; dan sisi batin dalam bentuk makna batin dan konteks.

Kata-kata verbal bersifat statis dan tetap, sedangkan makna kontekstual berkembang dan dinamis. Orang-orang yang bermata-budi dapat menembus dan melintasi teks menuju kepada konteks, sebagaimana mereka juga bisa melintasi fenomena empiris menuju kepada makna substantifnya.

Metode ‘perlintasan’ yang disebut dengan ibrah dan i’tibar ini perlu dipegang dalam rangka kita memahami bahasa Alquran. Kegagalan memegang kaidah ini akan membawa kita pada pendangkalan makna dan pesan yang hendak disampaikan oleh Alquran, sekaligus membunuh “roh” yang terkandung di dalamnya. (MK)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1]Abu al-Qasim al-Raghib al-Isfahani, Op. Cit., entri ع ر ب 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*