Mozaik Peradaban Islam

Category archive

Tokoh - page 25

Tokoh

Kisah Abu Dzar al-Ghifari (9): Dialog dengan Malaikat Maut

“Wahai malaikat maut! Di mana saja engkau selama ini? Aku telah menunggumu. Wahai temanku, engkau datang pada saat aku sangat membutuhkan.” –O– Abu Dzar tinggal di Rabzah bersama Istri dan kedua anaknya. Dzar, anak lelakinya, meninggal terlebih dahulu karena sakit. Tidak lama kemudian, istrinya pun meninggal karena memakan rumput beracun. Abu Dzar pun sama-sama sakit… Teruskan Membaca

Tokoh

Shalahuddin Al Ayyubi (1)

“Dari “bukan siapa-siapa”, karirnya melesat jauh melampaui tokoh-tokoh pada masanya. Bahkan lebih dari itu, sepak terjangnya telah menjadi salah satu titik balik yang mengubah arus sejarah peradaban Islam di Timur Tengah dan Kristen di Eropa.” —Ο—   Diantara sekian nama tokoh Muslim yang dikenal dunia Barat, nama Shalahuddin Al Ayyubi atau barat sering menyebutnya Saladin,… Teruskan Membaca

Tokoh

Kisah Abu Dzar al-Ghifari (8): Kehidupan di Rabzah

“Abu Dzar melewatkan hari-harinya di Rabzah dengan kesepian dan kesendirian. Tidak ada seorang pun yang mendatangi untuk mencari tahu kondisinya. Dia tidak memiliki sarana hiburan apapun. Seandainya keluarganya bersamanya dia tidak akan merasakan kesepian yang begitu menyakitkan. Keluarganya masih di Suriah dari sejak Abu Dzar dipanggil ke Madinah dan kemudian diperintahkan untuk tinggal di Rabzah.”[1]… Teruskan Membaca

Tokoh

Kisah Abu Dzar al-Ghifari (7): Perintah Pergi ke Rabzah

“Abu Dzar bertanya, ‘katakan kepadaku ke mana aku harus pergi. Apakah aku harus pergi ke hutan?’ Kemudian Ustman menjawab, ‘aku memberimu perintah untuk pergi ke Rabzah.’” –O– Tibalah Abu Dzar di Madinah atas panggilan Ustman bin Affan. Sebelumnya Ustman telah mendapatkan informasi bahwa Abu Dzar mendapat dukungan dari masyarakat banyak. Ustman berpendapat bahwa apa yang… Teruskan Membaca

Tokoh

Kisah Abu Dzar al-Ghifari (6): Bertemu Muawiyah

“Abu Dzar berkata kepada Muawiyah, ‘apakah tuan-tuan yang sewaktu Quran diturunkan kepada Rasulullah, dia (harta kekayaan) berada di lingkungan tuan-tuan?’” –O– Abu Dzar al-Ghifari telah tiba di Suriah, tempat di mana Gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan berkuasa. Menurut Tarikh Abul Fida, kejadian tersebut terjadi pada tahun 30 Hijriyah.[1] Di sana rakyat jelata telah menyambut kedatangannya,… Teruskan Membaca

Mualaf

Mengenal Abdul Karim Oey (3): Perjuangan Kemerdekaan

“Pasca agresi militer Belanda ke-2,  Oey menjadi buronan tentara Belanda. Mengetahui hal ini, dia melarikan diri ke pedalaman Bengkulu.” –O– Tiga bulan setelah proklamasi, tepatnya pada tanggal 7 November 1945 berdiri sebuah Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) di Yogyakarta. Pada tahun 1946, Masyumi didirikan juga di Bengkulu, di sana Abdul Karim Oey Tjeng Hien… Teruskan Membaca

Tokoh

Kisah Abu Dzar al-Ghifari (5): Situasi Politik Pada Saat Itu (2)

“Ustman bin Affan berkata kepada Ali bin Abu Thalib, ‘tidakkah engkau ketahui bahwa Umar mengangkat Muawiyah menjadi gubernur selama masa pemerintahannya, maka patutkah aku disalahkan jika aku mengangkatnya juga?’ Ali menjawab, ‘Tetapi tahukah engkau? Bahwa takutnya Muawiyah kepada Umar lebih besar daripada takutnya budak Umar.’” –O– Dalam kitabnya Ibnu Katsir menceritakan dialog yang terjadi di… Teruskan Membaca

Tokoh

Kisah Abu Dzar al-Ghifari (4): Situasi Politik Pada Saat Itu (1)

“Untuk dapat memahami tindak perilaku Abu Dzar al-Ghifari, latar belakang situasi politik dan kultural di masa itu perlu digambarkan. Artikel ini dibuat dalam rangka memberikan penggambaran latar belakang yang terjadi di masa ketika Abu Dzar berkeliling ke penjuru negeri untuk melaksanakan syi’arnya” –O– Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, Islam telah menyebar luas dan berkembang pesat. Islam… Teruskan Membaca

Mualaf

Mengenal Abdul Karim Oey (2): Masuk Islam

“Oey Tiang Seng: ‘Ananda adalah orang yang mampu, orang keturunan baik-baik mengapa mau masuk suku Melayu, pakaian jorok dan serba buruk itu.'” –O– Di Bintuhan usaha Oey Tjeng Hien berkembang pesat. Dia telah menjadi pengusaha yang sukses dan kaya raya,  tapi hatinya terasa kosong dan hampa. Pegangan batin yang dia bawa dari Padang adalah kepercayaannya… Teruskan Membaca

Mualaf

Mengenal Abdul Karim Oey (1): Tionghoa Pembela Rakyat Kecil

“Van den Berg berkata, ‘orang-orang Tionghoa biasanya pedagang. Tetapi tuan menjadi orang politik. Sekarang sudah masuk penjara. Apa keuntungannya? Kalau tuan mau bekerjasama dengan Belanda, bisa saya usulkan tuan menjadi agen perusahaan-perusahaan Belanda seperti Borsumij, Internatio, Tels, atau agen Geo Wehry. Itukan suatu keuntungan besar?’ Abdul Karim Oey menjawab, ‘Saya banyak mengucap terima kasih atas… Teruskan Membaca