Mozaik Peradaban Islam

Monumental

Al-Ghazali (4): Karya-karya dan Akhir Hayatnya

“Jangan percaya bahwa jenazah yang engkau lihat ini adalah aku. Aku adalah ruh dan ini tidak lain hanyalah tubuh kasar. Itu adalah tempat tinggal dan pakaianku untuk sementara waktu…. Aku adalah mutiara yang telah meninggalkan cangkangnya yang terlantar, itu adalah penjaraku, di mana aku menghabiskan waktuku dalam kesedihan. Aku adalah burung dan inilah kandangku, darinya… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Umayyah (13): Abdul Malik bin Marwan Ayah Para Raja

“Abdul Malik bin Marwan wafat pada bulan Syawal tahun 86 Hijriah dalam usia 60 tahun. Ia mewariskan fundamen kekuasaan yang sangat kokoh bagi terbangunnya sebuah dinasti yang disegani dunia. Kelak para sejarawan mengenalnya dengan sebutan Abul Muluk atau ayah para raja. Karena empat putranya, yaitu Al Walid, Sulaiman, Yazid II, dan Hisyam adalah para khalifah… Teruskan Membaca

Monumental

Al-Ghazali (3): Kritik Keras Terhadap Filsafat

“Al-Ghazali mengkritik filsafat Islam secara keras dengan cara yang sebelumnya tidak pernah ada. Namun, di satu sisi mengkritik, paradoksnya, dia juga justru membuat filsafat menjadi lebih dikenal di dalam Islam.” –O– Selain dikenal sebagai sosok yang lebih bersimpati terhadap bentuk mistis Islam yang ditemukan  di dalam Tasawuf, al-Ghazali juga menghabiskan lebih banyak waktunya untuk menulis.… Teruskan Membaca

Tokoh

Profil Emas KH. Wahid Hasyim (5): Cinta dan Perjuangan

“Mula-mula saya insaf bahwa tidak ada satupun perhimpunan yang seratus persen memuaskan. Ibaratnya seperti jodoh yang memuaskan sungguh-sungguh kecantikannya, kecerdasannya, rumahnya, saudara-saudaranya, kemenakannya dan lain-lain lagi, pasti tidak terdapat di dunia ini. Oleh karena perhimpunan atau partai yang memuaskan seratus persen itu tidak pernah ada, maka harus dipilih yang paling ringan kekurangan-kekurangannya.” —Ο—   Tampan… Teruskan Membaca

Studi Islam

Nasionalisme dalam Islam: Perspektif Etika (2)

“Mukadimah Konstitusi Indonesia sesungguhnya telah meletakkan nasionalisme dalam konteks etika yang kuat dan sangat selaras dengan Islam. Nasionalisme kita didasarkan pada konsep Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” —Ο—   Soal cinta tanah air ini sebenarnya… Teruskan Membaca

Monumental

Al-Ghazali (2): Pengembaraan

“Al-Ghazali mengalami krisis kepercayaan diri, beberapa orang menganggap al-Ghazali mendapat gangguan mental. Dia berhenti dari pekerjaannya dan menghabiskan dasawarsa berikutnya untuk mengembara di dunia Muslim.” –O– Ketika al-Ghazali tiba di Baghdad pada tahun 1091 M, selain menjadi Guru Besar di Nizamiyyah, dia juga mesti memperhatikan aspek politik dari jabatan barunya, yang mana sama pentingnya dengan… Teruskan Membaca

Studi Islam

Nasionalisme dalam Islam: Perspektif Etika (1)

Sayidina Ali pernah menyatakan: “Sesungguhnya negara dapat makmur dengan adanya cinta pada tanah air.” Pada kesempatan lain, beliau berkata: “Salah satu tanda kemuliaan seseorang adalah tangisannya atas apa yang telah berlalu dan kerinduannya pada tanah airnya.”  —Ο—   Masalah nasionalisme dalam Islam termasuk topik musiman. Sesekali timbul terus tenggelam lagi. Istilah anak-anak remaja sekarang topik… Teruskan Membaca

Studi Islam

Mengenal Nabi Khidir AS (3)

“Pada akhirnya Khidir tetaplah kekayaan Tuhan yang tersimpan rapat. Orang tidak pernah tau di mana dia sekarang ini, di mana rumahnya, dan seperti apa kehidupaannya. Orang bahkan hanya mengenalnya dengan warna. Ya, warna. Khidir, dalam bahasa Arab, merujuk hijau, warna kehidupan.” —Ο—   Setelah Nabi Musa As bertemu dengan Khidir, terjadilah perbincangan antara keduanya, yang… Teruskan Membaca

Monumental

Al-Ghazali (1): Remaja Jenius

“Sewaktu remaja, al-Ghazali mengalami perampokan. Buku dan catatan pelajarannya termasuk yang diambil. Sejak itu, dia bertekad untuk menghapal seluruh pelajaran dan catatannya di dalam kepala saja.” –O– Salah satu hal yang menarik dari agama Islam adalah, dalam konteks perkembangan keilmuan, dia tidak berhenti pada saat Nabi Muhammad SAW meninggal. Berabad-abad setelahnya, Islam banyak melahirkan ulama-ulama… Teruskan Membaca

Studi Islam

Mengenal Nabi Khidir AS (2)

“Dia ingin sebuah kemesraan abadi dengan Tuhan Yang Kuasa, apapun ongkosnya. Dia ingin tak ada lagi mendengar kata perpisahan. Dia mendambakan kebaktian abadi. Tuhan Yang Kaya rupanya menjawab semua keinginannya. Zat Agung menarik jiwanya ke Kerajaan-Nya, mendudukkannya di dekat Singgasana sebelum akhirnya mengambil alih seluruh dirinya…” —Ο—   Untuk memulai tulisan ini, kami ingin mengutip… Teruskan Membaca

Pilihan

Tasawuf

Muhammad Sang Cahaya

“Betapapun tingginya dan agungnya Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya untuk menerangi alam raya, beliau tetap harus ditegaskan sebagai ‘abduhu (hamba-Nya). Dan, menurut … Teruskan Membaca

Arsitektur

Budaya Islam

Nusantara

Kaligrafi

Monumental

Mualaf

Negara Islam

Orientalis

Sejarah